Cibinong, Berita Geospasial - Sebanyak 52 mahasiswa Program Studi Teknik Geodesi Universitas Pakuan (Unpak) mengunjungi Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Senin, 7 September 2026. Kunjungan bertema ‘Eksplorasi Peran Geodesi dalam Pengembangan Infrastruktur Informasi Geospasial, Teknologi Survei dan Pemetaan, serta Mitigasi Bencana’ ini bertujuan memperkenalkan peran BIG sekaligus mengajak mahasiswa memahami penerapan ilmu kebumian dalam pembangunan ekosistem geospasial nasional.

Kunjugan lapangan mahasiswa Program Studi Teknik Geodesi Universitas Pakuan (Unpak) ke stasiun pasang surut BIG /Fauzan
“Data harus dikelola dengan baik, terstandar, dapat dipertukarkan, dan mudah dimanfaatkan. Di sinilah Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN) menjadi penting karena menghubungkan simpul jaringan dari kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah,” terang Andre Bejo dari Direktorat Kelembagaan dan Jaringan Informasi Geospasial BIG saat pemaparan materi.
Ia juga memperkenalkan lima pilar utama Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG), yakni kebijakan, kelembagaan, teknologi, standar, dan sumber daya manusia. Kelimanya saling berkaitan untuk memastikan penyelenggaraan informasi geospasial berjalan efektif.
Menurut Andre, pemanfaatan teknologi survei dan pemetaan terkini—sepertii server, sistem navigasi berbasis satelit, sensor, Light Detection and Ranging (LiDAR), kamera udara, sistem informasi geografis, basis data, hingga komputasi awan—harus diimbangi dengan standar dan sumber daya manusia yang kompeten. Dengan demikian, dapat dihasilkan informasi yang akurat, interoperabel, dan bermanfaat bagi berbagai sektor.
“Mahasiswa geodesi perlu melihat bidang ini secara utuh. Kemampuan teknis survei dan pemetaan merupakan fondasi, tetapi ke depan dibutuhkan pemahaman mengenai pengelolaan data, teknologi, standar, kelembagaan, dan bagaimana informasi geospasial tersebut digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata,” kata Andre.
Pemaparan juga menunjukkan bagaimana infrastruktur informasi geospasial mendukung berbagai kebutuhan publik. Melalui portal geospasial pemerintah, ketersediaan data, peta interaktif, dan analisis spasial dapat mengoptimalkan perencanaan, pengambilan keputusan, pembangunan, hingga keselamatan masyarakat.
Hal ini akan memperluas perspektif mahasiswa terhadap profesinya. Kompetensi kuliah tidak sebatas menghasilkan koordinat atau data pengukuran, melainkan bagian dari rantai pengelolaan informasi yang lebih luas.
Dosen Teknik Geodesi Universitas Pakuan Prambudi Putro mengatakan, kunjungan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori akademis dengan praktik penyelenggaraan informasi geospasial nasional.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami geodesi dari sisi teori dan praktik pengukuran, tetapi juga melihat bagaimana data yang mereka hasilkan nantinya menjadi bagian dari sistem informasi geospasial yang lebih luas,” ujarnya.
Selain materi tentang infrastruktur data spasial nasional, mahasiswa Unpak juga diajak mengenal mitigasi bencana berbasis geospasial. Mereka juga mengunjungi stasiun pasang surut, Continuously Operating Reference Station (CORS), serta laboratorium gaya berat.
Kunjungan ini diharapkan dapat membuka wawasan para mahasiswa bahwa prospek karier geodesi sangat luas—mulai dari survei lapangan, pengelolaan data, pengembangan teknologi, penyusunan standar, pembangunan sistem informasi, hingga pemanfaatan data untuk menjawab persoalan masyarakat.
Reporter: Kesturi Haryunani
Editor: Intan Pujawati