Cibinong, Berita Geospasial - Perkembangan kecerdasan buatan membuka peluang baru bagi penyelenggaraan informasi geospasial di Indonesia. Potensi tersebut dibahas dalam Workshop `AI-Enabled Geospatial Innovation Mapizy` yang diselenggarakan Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Mapizy pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Workshop `AI-Enabled Geospatial Innovation Mapizy` /dok.BIG
Workshop ini menjadi ruang untuk mengeksplorasi pemanfaatan Geospatial Artificial Intelligence (GeoAI) dalam mempercepat penyediaan sekaligus pemutakhiran peta dasar skala besar. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu menjawab kebutuhan data geospasial yang terus berkembang, terutama untuk mendukung perencanaan pembangunan dan pelayanan publik.
Direktur Pemetaan Rupabumi Wilayah Darat BIG Ade Komara Mulyana menyampaikan, penyediaan peta dasar skala 1:5.000 masih menjadi tantangan penting. Ketersediaan data tersebut dibutuhkan pemerintah daerah, salah satunya untuk menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
“Peta dasar skala 1:5.000 merupakan salah satu kebutuhan utama dalam penyusunan RDTR. Saat ini ketersediaannya baru sekitar 10 persen dari total wilayah Indonesia sehingga diperlukan langkah percepatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Ade menegaskan, BIG terus mengoptimalkan teknologi, biaya, dan proses produksi untuk mempercepat penyediaan peta dasar secara nasional. Salah satu pendekatan yang dikembangkan ialah otomasi proses produksi dengan memanfaatkan GeoAI.
“Pemanfaatan GeoAI menjadi salah satu bagian dari upaya kami untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses produksi. Dengan optimasi teknologi dan otomasi, kami menargetkan penyediaan peta dasar dapat diselesaikan pada 2028,” kata Ade.
Pemanfaatan informasi geospasial juga berperan penting dalam mendukung berbagai tahapan perencanaan pembangunan. Chintia Dewi dari Direktorat Atlas dan Penggunaan Informasi Geospasial menerangkan, informasi geospasial dapat menjadi dasar dalam memahami kondisi wilayah sekaligus mendukung pengambilan keputusan.
“Informasi geospasial memberikan gambaran mengenai kondisi dan karakteristik suatu wilayah. Dengan informasi yang tepat dan akurat, berbagai kebutuhan perencanaan pembangunan dapat dianalisis secara lebih komprehensif,” ujarnya.
Menurut Chintia, pemanfaatan informasi geospasial mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari analisis kemiringan lereng dan sumber daya lahan hingga penentuan cakupan pelayanan fasilitas, pengelolaan persampahan, serta perencanaan rute dan evakuasi bencana.
Pada sesi utama, Mehdi dari Mapizy memperkenalkan perkembangan teknologi pemetaan, mulai dari fotogrametri hingga penerapan GeoAI. Teknologi ini memungkinkan proses ekstraksi fitur geospasial dilakukan secara lebih otomatis, termasuk untuk mengidentifikasi jalan, bangunan, dan vegetasi.
GeoAI juga dapat mendukung proses change detection untuk mendeteksi perubahan pada wilayah yang telah dipetakan. Kemampuan tersebut berpotensi mempercepat pemutakhiran peta dasar sehingga data geospasial dapat lebih responsif terhadap perubahan kondisi di lapangan.
Workshop `AI-Enabled Geospatial Innovation Mapizy` ini menunjukkan bahwa penerapan GeoAI tidak sekadar menghadirkan otomatisasi, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan skala dan efisiensi produksi informasi geospasial. Bagi BIG, pemanfaatan teknologi tersebut menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat penyediaan peta dasar skala besar sekaligus memenuhi kebutuhan data geospasial yang semakin dinamis.
Reporter: Adhina Azdah Hanifati & Meita Solehawati
Editor: Kesturi Haryunani