Cibinong, Berita Geospasial - Sebanyak 51 mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu mengunjungi Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Kamis, 3 September 2026. Kunjungan ini bertujuan untuk mengenalkan peran BIG dalam penyelenggaraan informasi geospasial nasional serta pemanfaatannya untuk pengelolaan wilayah laut dan pesisir.

Workshop `AI-Enabled Geospatial Innovation Mapizy` /dok.BIG
Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu Yar Johan mengapresiasi kesempatan bagi para mahasiswa untuk belajar langsung di BIG. Menurutnya, BIG memiliki keterkaitan erat dengan bidang keilmuan kelautan, terutama dalam pemanfaatan data dan teknologi spasial.
“BIG sebenarnya bukan hal yang asing bagi kami. Di Program Studi Ilmu Kelautan, mahasiswa mempelajari pemetaan, penginderaan jauh, dan sistem informasi geografis. Pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan memang harus bermain dalam ruang spasial,” ujar Yar Johan.
Agung Teguh Mandira dari Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama BIG menyambut baik kedatangan mahasiswa Universitas Bengkulu. Ia mengatakan, kunjungan ini sangat relevan dengan mandat BIG, terlebih Indonesia merupakan negara maritim.
“Indonesia adalah negara yang secara geografis wilayahnya lebih banyak lautan. Karena itu, kedatangan teman-teman dari Ilmu Kelautan ke BIG sangat tepat. Materi yang akan disampaikan juga sangat sesuai dengan bidang yang dipelajari,” kata Agung.
Setelah sesi pembukaan, mahasiswa mendapatkan pemaparan sejumlah materi. Salah satu yang disampaikan adalah One Map Policy atau Kebijakan Satu Peta.
Yusniar Rah Ayu Ristiantri dari Direktorat Integrasi dan Sinkronisasi Informasi Geospasial Tematik (DISIGT) menjelaskan bahwa penyelenggaraan informasi geospasial mencakup proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan dan pengamanan, penyebarluasan, hingga penggunaan data dan informasi geospasial. Pada kesempatan ini, mahasiswa juga diperkenalkan dengan empat tahapan Kebijakan Satu Peta, yaitu kompilasi, integrasi, sinkronisasi, dan berbagi pakai data dan informasi geospasial.

Foto bersama dengan Mahasiswa Universitas Bengkulu dengan Pemateri Badan Informasi Geospasial /dok.BIG
“Kompilasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai informasi geospasial tematik dari kementerian dan lembaga. Data tersebut kemudian diverifikasi dan dikoreksi melalui proses integrasi sesuai standar yang ditetapkan. Selanjutnya, sinkronisasi dilakukan untuk menyelaraskan informasi geospasial tematik, termasuk dalam membantu penyelesaian persoalan tumpang tindih,” terangnya.
Yusniar menuturkan, keterpaduan data menjadi semakin penting ketika informasi geospasial digunakan untuk mendukung berbagai sektor, termasuk kelautan dan perikanan. “Melalui integrasi dan sinkronisasi, informasi geospasial terstandardisasi dapat saling terhubung sehingga menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan berbagai informasi geospasial tematik yang berkaitan langsung dengan sektor kelautan. BIG memiliki sejumlah peta tematik kelautan, antara lain Peta Padang Lamun, Terumbu Karang, Kerentanan Pesisir, Wilayah Pengelolaan Perikanan, Daerah Penangkapan Ikan, serta Peta Zonasi Kawasan Konservasi Perairan.
Bagi mahasiswa Ilmu Kelautan, materi tersebut memperlihatkan bahwa pemetaan bukan sekadar kegiatan menghasilkan peta, tetapi bagian penting dalam memahami karakteristik wilayah, potensi sumber daya, hingga berbagai aktivitas pemanfaatan ruang laut.
Selain mempelajari One Map Policy, mahasiswa juga mendapatkan pemaparan mengenai pemetaan batimetri, garis pantai, dan penamaan rupabumi wilayah laut. Mereka juga diajak mengenal fasilitas dan peralatan yang digunakan dalam penyelenggaraan informasi geospasial kelautan dengan mengunjungi stasiun pasang surut (pasut).
Kunjungan mahasiswa Universitas Bengkulu ini sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan BIG. Bagi Universitas Bengkulu, kerja sama tersebut dapat memperkuat pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman langsung di lingkungan kerja geospasial.
Reporter: Kesturi Haryunani
Editor: Intan Pujawati