Cibinong, Berita Geospasial – Aula Bhumandala, Badan Informasi Geospasial (BIG), tampak berbeda pada Rabu, 8 April 2026. Suasana ruang dipenuhi energi dari penampilan Leadership Character Performance yang dibawakan siswa SMKN 2 Yogyakarta. Aksi tersebut menjadi pembuka kunjungan industri 37 siswa jurusan Teknik Geomatika ke BIG.
Kunjungan ini menjadi sarana bagi para siswa belajar langsung dan memahami penerapan ilmu geospasial di dunia kerja. Mereka juga diajak mengenal peran strategis BIG sebagai penyelenggara informasi geospasial nasional yang mendukung berbagai sektor pembangunan.
Perwakilan SMKN 2 Yogyakarta, Ummu Fadhillah, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk memperkaya wawasan siswa tentang industri geospasial. “Kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk menggali pengalaman industri, mulai dari pengenalan teknologi hingga manajemen sumber daya manusia di bidang geospasial. Harapannya, hal ini dapat memotivasi siswa dalam mengembangkan kompetensi keahlian mereka,” ujarnya.

Paparan kedaulatan wilayah oleh Andi Putra Parlindungan dari Direktorat Pemetaan Batas Wilayah dan Nama Rupabumi. /abdi maulana
Hal senada disampaikan Pranata Humas Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama (HHMK) BIG Tommy Nautico. Menurutnya, kolaborasi antara dunia pendidikan dan praktisi menjadi kunci dalam membangun kapasitas generasi muda di bidang geospasial.
“Kunjungan ini merupakan wujud nyata sinergi dalam penguatan literasi geospasial, khususnya yang bersinggungan langsung dengan pengembangan sumber daya manusia bidang informasi geospasial,” kata Tommy.
Pada sesi pemaparan, siswa memperoleh gambaran menyeluruh tentang peran BIG. Nurmitha Atmia dari Biro HHMK menjelaskan bahwa tugas BIG mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari penetapan batas negara, standardisasi nama rupabumi, hingga pemetaan infrastruktur dan mitigasi bencana.
“BIG mungkin tidak selalu terlihat, tetapi di setiap peta, di setiap keputusan, dan di setiap cerita pembangunan, ada kami di sana,” tutur Nurmitha.
Pemahaman tentang kedaulatan wilayah semakin diperdalam melalui paparan Andi Putra Parlindungan dari Direktorat Pemetaan Batas Wilayah dan Nama Rupabumi. Melalui materi bertajuk `Mengenal Indonesia dari Perbatasan`, ia menjelaskan prinsip penetapan batas darat dan maritim, termasuk tantangan teknis dan hukum yang kerap dihadapi.
“Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keuntungan geografis berdasarkan UNCLOS 1982. Kita dapat menarik garis pangkal hingga 120 mil laut, sebuah kekuatan hukum yang telah diperjuangkan di meja perundingan,” ujar Andi.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Direktorat Sistem Referensi Geospasial. Para siswa diperkenalkan dengan teknologi Continuously Operating Reference Stations (CORS) serta stasiun pasang surut yang menjadi bagian penting dalam sistem referensi geospasial nasional.
Melalui rangkaian kegiatan ini, para siswa diharapkan memperoleh pemahaman komprehensif mengenai proses pengumpulan, pengolahan, hingga analisis data geospasial. Pengalaman tersebut menjadi bekal awal bagi mereka untuk terjun ke dunia industri sekaligus berkontribusi dalam pembangunan berbasis informasi geospasial di Indonesia.
Reporter: Ellen Suryanegara
Editor: Kesturi Haryunani