Cibinong, Berita Geospasial – Komitmen Indonesia dalam pembakuan nama rupabumi kembali mendapat perhatian di tingkat internasional. Badan Informasi Geospasial (BIG) aktif berpartisipasi dalam pertemuan 15th Divisional Meeting of the United Nations Group of Experts on Geographical Names Asia South-East Division (UNGEGN ASED) yang digelar secara daring pada Senin, 18 Mei 2026.
Pertemuan yang dipimpin Chairman UNGEGN ASED periode 2022–2026 Nor Zetty Akhtar Haji Abdul Hamid ini diikuti delapan negara anggota, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Forum ini menjadi wadah bagi negara-negara Asia Selatan-Timur untuk melaporkan perkembangan penyelenggaraan nama rupabumi, sekaligus mengevaluasi implementasi program kerja UNGEGN ASED periode 2022–2026.

Pidato oleh Chairman terpilih dari Malaysia, LSr Dr. Ahmad Sanusi bin Che Cob (Deputy Director General of Survey Mapping I,
The Department of Survey and Mapping Malaysia JUPEM) untuk periode kepemimpinan 2026-2030 /Dok. BIG
Indonesia yang diwakili Aji Putra Perdana dari BIG memaparkan sejumlah capaian strategis dalam penyelenggaraan nama rupabumi nasional. Beberapa di antaranya meliputi survei lapangan unsur maritim di Kalimantan Selatan, survei batimetri di Laut Sulawesi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam Ekspedisi OceanX, hingga penelaahan nama rupabumi secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai nasional.
Pada kesempatan ini, Indonesia juga melaporkan pelaksanaan bimbingan teknis nama rupabumi, penyusunan dokumen eksonim nama negara, pengembangan Aplikasi Sinar (Sistem Informasi Nama Rupabumi) dan SI Pulau (Sistem Informasi Pulau), serta pemutakhiran Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak hanya itu, Indonesia turut berperan sebagai co-leader dalam proyek kolaborasi UNGEGN–UN-GGIM (United Nations Committee of Experts on Global Geospatial Information Management) bersama USGS (United States Geological Survey).
“Indonesia berterima kasih kepada negara anggota ASED yang telah berkontribusi dalam pengisian kuesioner UNGEGN–UN-GGIM Collaborative Project. Adapun laporan project telah disampaikan baik di forum UNGEGN maupun UN-GGIM,” ujar Aji.
Dalam laporannya, Indonesia juga menyampaikan keberhasilan penyelesaian satu kasus alokasi wilayah administrasi empat pulau Aceh–Sumatra Utara. Selain itu, Indonesia telah menerbitkan Gazetteer Republik Indonesia (GRI) yang memuat 41.306 nama rupabumi baku sebagai bagian dari penguatan standardisasi nama geografis nasional.
Transformasi digital turut menjadi perhatian dalam pengelolaan nama rupabumi. BIG mengembangkan inovasi seperti Otomasi ID Nama Rupabumi dan SINAR @lit guna mempermudah proses pengumpulan data. Penguatan regulasi juga dilakukan melalui penerbitan Pedoman Identifikasi Jenis Unsur Rupabumi Wilayah Laut dan Pantai berdasarkan SK Nomor 31.2 Tahun 2025.
Pada agenda pembahasan Status of UNGEGN ASED Work Plan (2022–2026), Indonesia menyampaikan bahwa reformulasi struktur basis data nama rupabumi regional masih berlangsung dalam program Regional Database and Gazetteer Standards. Indonesia juga melaporkan perkembangan situs web UNGEGN ASED yang telah memasuki tahap User Acceptance Test (UAT), khususnya pada menu Event dan manajemen pengguna.
Pertemuan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan penting terkait keberlanjutan program kerja UNGEGN ASED. Negara-negara anggota sepakat mempertahankan negara pemimpin untuk masing-masing Technical Committee dalam Work Plan UNGEGN ASED. Malaysia tetap memimpin program Regional Database and Gazetteer Standards, Sekretariat UNGEGN ASED di Malaysia memimpin UNGEGN ASED Annual Meetings, Indonesia memimpin Regional Map of ASED Members, sedangkan Brunei Darussalam tetap memimpin Generic Terms of the Asia South-East Region.
Forum ini sekaligus menandai berakhirnya masa kepemimpinan Brunei Darussalam setelah empat tahun memimpin UNGEGN ASED.
“Kami berterima kasih kepada semua negara anggota atas kepercayaan, dukungan, dan partisipasi dalam masa kepemimpinan Brunei Darussalam. Kami juga meminta maaf atas semua kekurangan yang ada,” kata Nor Zetty.
Pada akhir pertemuan, Ahmad Sanusi bin Che Cob dari Malaysia resmi terpilih sebagai Chairman baru UNGEGN ASED periode 2026–2030. Malaysia selanjutnya akan melakukan reviu terhadap Work Plan UNGEGN ASED guna memperkuat implementasi program kerja di kawasan Asia Selatan-Timur.
Keikutsertaan BIG dalam forum internasional ini mempertegas peran Indonesia dalam kerja sama global di bidang pembakuan nama rupabumi. Melalui kolaborasi regional yang berkelanjutan, Indonesia terus mendorong pengembangan data geospasial yang akurat, terintegrasi, dan mendukung tata kelola wilayah yang lebih baik.
Reporter: Tika Dwi Saputri
Editor: Kesturi Haryunani