Jumat, 06 Februari 2026   |   WIB
id | en
Jumat, 06 Februari 2026   |   WIB
BIG–Geospatial World Bahas Peran Geospasial di Tengah Geopolitik Global lewat Jakarta CXO Summit

Jakarta, Berita Geospasial — Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Geospatial World menggelar `Jakarta CXO Summit` di Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026. Forum tingkat eksekutif ini mempertemukan pimpinan industri, pengambil kebijakan, dan mitra strategis untuk membahas peran ruang angkasa dan geospasial di tengah perubahan tatanan global yang kian dipengaruhi dinamika geopolitik dan percepatan inovasi teknologi.

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog strategis dalam memperkuat ekosistem geospasial nasional dan global. Sejumlah isu utama mengemuka, mulai dari kedaulatan data, ketahanan infrastruktur, hingga urgensi kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta pada era otomasi dan kecerdasan buatan.

Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik (IGT) BIG Antonius Bambang Wijanarto mengatakan, perubahan dunia yang berlangsung cepat menuntut peran geospasial yang semakin strategis dalam mendukung pembangunan, keamanan, dan pelayanan publik.

“National Mapping Agencies, termasuk BIG, memiliki peran penting dalam membangun infrastruktur geospasial yang tepercaya, tata kelola, serta ekosistem data nasional untuk mendukung pembangunan, keamanan, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi,” ujar Antonius dalam sambutannya.


Diskusi para peserta membahas peran industri ruang angkasa dan geospasial /dok.BIG

Ia menambahkan, ketahanan dan kemitraan menjadi kunci di tengah tekanan geopolitik dan laju teknologi yang semakin pesat. Oleh karena itu, kerja sama antara pemerintah dan industri tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam membangun ekosistem geospasial yang berdaulat dan berkelanjutan.

Sedangkan, CEO Geospatial World Sanjay Kumar menilai industri geospasial kini semakin terintegrasi dengan berbagai sektor kehidupan. Peta dan data spasial, menurutnya, telah menjadi tulang punggung bagi beragam teknologi, mulai dari digital twin, sistem navigasi, logistik, energi, hingga perencanaan dan pembangunan kota.

“Tidak ada sistem otonom, baik kendaraan maupun robot, yang tidak memiliki dimensi spasial. Geospatial kini menjadi penggerak utama bagi digital twins, navigasi, logistik, energi, dan perencanaan kota,” kata Sanjay.

Sanjay juga menyoroti bahwa nilai informasi geospasial terus meningkat seiring pemanfaatannya dalam kebijakan publik, dunia usaha, dan tata kelola lingkungan. Kondisi ini mendorong lahirnya ekosistem baru yang menghubungkan pemerintah, industri, dan komunitas global dalam satu rantai kolaborasi yang saling menguatkan.

Dalam rangkaian diskusi, para peserta membahas peran industri ruang angkasa dan geospasial dalam memperkuat ketahanan nasional, pengelolaan sumber daya, serta pengembangan ekonomi digital. Perhatian khusus diberikan pada pentingnya membangun infrastruktur geospasial yang tangguh dan berdaulat, tanpa mengesampingkan prinsip keterbukaan dan interoperabilitas data.

Diskusi kemudian mengarah pada inovasi teknologi dan pengembangan model bisnis kolaboratif melalui pemanfaatan kecerdasan buatan, komputasi awan, dan data satelit. Pada sesi penutup, para pelaku industri menyoroti arah pengembangan sektor geospasial ke depan, sekaligus menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas dan keterampilan generasi muda agar ekosistem geospasial tetap kompetitif dan berkelanjutan.

Sebagai informasi, Jakarta CXO Summit menjadi bagian dari rangkaian forum internasional Geospatial World yang sebelumnya digelar di New York dan Singapura, serta akan berlanjut ke Riyadh dan London. Sejumlah gagasan strategis dari Jakarta direncanakan dibawa dan dibahas lebih lanjut dalam Geospatial World Forum 2026 di Amsterdam.

Kegiatan ini ditutup dengan peluncuran Geospatial World Forum 2026 dan jamuan makan malam yang dimanfaatkan para peserta untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta mitra global.

Reporter: Risa Krisadhi
Editor: Kesturi Haryunani