Kamis, 09 Juli 2026   |   WIB
id | en
Kamis, 09 Juli 2026   |   WIB
Kolaborasi BIG dengan Kemenristekdikti dalam Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2015

Jakarta, Berita Geospasial BIG - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus telah memasuki usia yang ke-20 pada tahun 2015 ini, dengan mengangkat tema "Inovasi iptek untuk daya saing bangsa, sub tema: Pangan, Energi dan Maritim". Peringatan Haktenas ke-20 kali ini ditujukan sebagai salah satu wahana pemasyarakatan teknologi untuk menanamkan kesadaran dalam diri Bangsa Indonesia, bahwa pemanfaatan, pengembangan dan pengusaaan teknologi di masyarakat sangatlah penting untuk peningkatan daya saing Bangsa Indonesia.

Selain itu peringatan ini juga sebagai sarana membangun kebersamaan antara pemangku kepentingan (stakeholder) iptek yaitu Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Industri, Lembaga Intermediasi dan Masyarakat. Badan Informasi Geospasial sebagai salah satu pemangku kepentingan yang berpartisipasi dalam mensukseskan Haktenas ke-20 dengan berkontribusi mengenai bagaimana Informasi Geospasial dapat mendukung program kedaulatan pangan, energi dan kemaritiman sesuai dengan tema yang diangkat. Kontribusi tersebut dilakukan melalui acara talkshow yang diselenggarakan di Kompas TV pada Rabu, 1 Juli 2015 dengan menghadirkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dan Kepala Badan Informasi Geospasial sebagai narasumber dan dipandu oleh Daniar Achri.

Mohamad Nasir mengungkapkan bahwa BIG mempunyai peran penting dalam pengembangan riset dan inovasi karena BIG menyediakan informasi geospasial dasar (IGD) tentang kondisi wilayah baik darat maupun laut, menunjukkan dengan tepat lokus dari suatu fenomena atau permasalahan di lapangan sehingga dapat dianalisis secara komprehensif terkait dengan wilayah sekitarnya. Pemanfaatan IG yang dihasilkan oleh BIG semakin lama semakin meningkat seiring dengan pemahaman makin pentingnya IG untuk menyelesaikan permasalahan terkait ruang.

Kini perencanaan pembangunan harus didasarkan pada dua data utama yaitu data statistik yang dihasilkan oleh BPS dan informasi geospasial yang dihasilkan oleh BIG. Pemanfaatan IG ini tentunya berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia. Seharusnya informasi geospasial ini dapat dipakai oleh seluruh masyarakat, jadi seluruh warga negara sesungguhnya bisa menjadi stakeholder dari BIG. Namun tingkat melek peta masyarakat indonesia masih rendah. Disinilah Nasir menekankan dan mendorong agar BIG selalu mensosialisasikan ke masyarakat tentang manfaat IG. Salah satu contohnya adalah dukungan BIG dalam menyediakan data dan informasi geospasial mendukung program kemaritiman.

Keinginan Menristekdikti ini dijawab Kepala BIG, Priyadi Kardono bahwa dalam Bidang Kemaritiman BIG telah mendukung melalui penyediaan data dan informasi geospasial untuk pembangunan Tol Laut, yaitu dengan penyediaan Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dan Peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) telah dimanfaatkan untuk navigasi dan pelayaran serta perencanaan pengembangan pelabuhan, contohnya pada perencanaan pengembangan pelabuhan Cilamaya. Pada perencanaan pelabuhan Cilamaya BIG menggunakan peta-peta yang ada untuk memberikan rekomendasi kelayakan pengembangan pelabuhan tersebut, termasuk dampaknya terhadap penggunaan lahan di sekitarnya, dan pilihan atau skenario terbaik, tanpa mengorbankan lahan sawah yang ada di sekitarnya. Peta batimetri akan sangat bermanfaat dalam penentuan alur laut di seluruh wilayah Indonesia termasuk jenis-jenis kapal yang dapat melewati pada tiap jalur itu.  Mulai tahun 2015 BIG akan menyediakan peta LPI skala besar (1:10.000) untuk pembangunan 24 pelabuhan sebagai penghubung transportasi wilayah laut dengan dipilihnya wilayah Surabaya, untuk tahun-tahun selanjutnya akan dilakukan di wilayah lainnya.

Di Bidang Kedauatan Pangan, BIG mendukung dalam penyediaan data utama pemetaan potensi lahan pertanian baru (ekstensi), tentunya dengan didukung oleh data-data dari K/L lain seperti peta tanah dari Kementerian Pertanian dan sebagainya. Perhitungan sementara dari BIG diperoleh lahan yang masih potensial dikembangkan untuh sawah seluas  6,3 juta ha, hampir separuhnya tersebar di Sumatera: 3 juta ha,Kalimantan: 960 ribu ha, Sulawesi: 830 ribu ha, Papua: 630 ribu ha, Jawa-Bali: 210 ribu ha, Maluku: 340 ribu ha, dan Nusatenggara:  200 ribu ha.  Data ini sudah dipaduserasikan dari One Map Peta Lahan Baku Sawah dari Kementerian Pertanian, dimana luas sawah eksisting di Indonesia seluas 8,1 juta ha, dengan persebaran setiap pulau adalah Jawa-Bali: 3,4 juta ha,Sumatera: 2,2 juta ha, Kalimantan: 1 juta ha,Sulawesi: 919 ribu ha,Nusatenggara: 463 ribu ha,Papua: 25 ribu ha, dan Maluku: 23 ribu ha.

Dalam Bidang Energi, BIG menyediakan informasi lahan yang potensial untuk Bahan Bakar Nabati (BBN) seperti Kelapa, Kelapa Sawit, Kemiri Sunan, Jagung, Tebu, Padi dan Ubi Kayu, yang tersebar di 76 Kabupaten dengan luas mencapai 4.178.511 (4,1 juta) ha; termasuk lahan bekas tambang seluas 2.429 ha dan lahan dari Hutan Tanaman Industri seluas = 517.749 ha. Selain itu bekerja sama dengan KLHK yang lain, BIG juga menyediakan informasi biomass baik di wilayah hutan maupun non hutan, namun masih di wilayah Provinsi Sumstera Selatan. BIG juga bekerja sama dengan BATAN akan memetakan lokasi-lokasi tapak yang potensial untuk digunakan sebagai pembangkit tenaga nuklir. Salah satu syaratnya adalah wilayah yang stabil, tidak mengalami pergeseran posisi dan aman dari gempa bumi.  Data geodinamika BIG akan dapat menunjukkan wilayah-wilayah yang potensial tersebut.

Menristekdikti menyadari bahwa dalam pengembangan informasi geospasial sangat memerlukan riset dan teknologi di dalamnya dan diperlukan lebih jauh riset dan teknologi dalam pengembangannya. Teknologi dan SDM IG yang dimiliki bangsa Indonesia sudah mampu untuk bersaing, namun dalam pelaksanaan pemanfaatan IG masih kurang maksimal. Perlu peningkatan kolaborasi dan sinergi antar pelaku pembangunan, terutama untuk mewujudkan kedaulatan pangan, kejayaan maritim, dan pemaksimalan pengelolaan energi, tambah Nasir. Revolusi mental di bidang informasi geospasial adalah suatu keharusan antara lain dengan menghilangkan ego sektoral, mengeluarkan diri dari bagian masalah bangsa dan menjadikan diri menjadi bagian solusi bangsa serta segera membangun kolaborasi dan sinergisme antar pelaku pembangunan. (TN/TR)