Cibinong, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) menerima kunjungan edukatif dari dosen dan belasan mahasiswa Universitas Wuhan, Tiongkok, pada Rabu, 6 Mei 2026. Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan akademik dan profesional di bidang informasi geospasial antara Indonesia dan Tiongkok.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Sistem Referensi Geospasial BIG Bayu Triyogo Widyantoro menyampaikan, infrastruktur sistem referensi geospasial memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Teknologi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk pemantauan penurunan muka tanah (land subsidence) yang menjadi isu krusial di Jawa, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan kota cerdas (smart city).
“ Saya berharap pertemuan dan diskusi kita hari ini berlangsung hangat dan produktif. Sekali lagi, selamat datang di Indonesia dan terima kasih,” ujar Bayu.
Muhammad Al Kautsar memaparkan perkembangan pemantauan gempa bumi dan
gunung api berbasis GNSS secara real-time di Indonesia/Ellen Suryanegara
Dosen dan Peneliti Pascadoktoral Universitas Wuhan Ouyang Chenhao menjelaskan, kunjungan ini merupakan bagian dari program praktik sosial global yang dijalankan kampusnya. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa diajak mempelajari perkembangan survei dan pemetaan di Indonesia secara langsung, sekaligus mengamati penerapan teknologi geospasial terkini.
Menurut Ouyang, hubungan Indonesia dan Tiongkok memiliki kedekatan yang kuat, termasuk dalam kerja sama pengembangan teknologi geospasial. Ia menyebut sinergi antara Universitas Wuhan dan BIG telah terjalin melalui pemanfaatan titik Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk pemantauan bencana geologi untuk area yang luas secara real-time.
“Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat peluang kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan di masa depan,” kata Ouyang.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan dengan sesi pemaparan mengenai profil dan peran strategis BIG. Humas BIG Achmad Faisal Nurghani memperkenalkan sejarah, tugas, serta visi BIG sebagai penyelenggara utama informasi geospasial di Indonesia. Para peserta juga mendapatkan gambaran mengenai implementasi Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) dalam mendukung pembangunan nasional.
Selanjutnya, Direktur Pemetaan Rupabumi Wilayah Darat BIG Ade Komara memaparkan materi dengan topik mengenai National Large Scale Basemap and Application. Ia menjelaskan proses pemutakhiran peta dasar skala besar yang saat ini menjadi prioritas nasional, beserta pemanfaatannya dalam perencanaan tata ruang, pembangunan wilayah, hingga mitigasi bencana.
Pembahasan mengenai teknologi pemantauan geospasial berlanjut melalui paparan dari Direktorat Sistem Referensi Geospasial. Muhammad Al Kautsar memaparkan perkembangan pemantauan gempa bumi dan gunung api berbasis GNSS secara real-time di Indonesia.
Sedangkan, Bagas Triarahmadhana yang juga dari Direktorat Sistem Referensi Geospasial menjelaskan sistem referensi vertikal Indonesia yang berperan penting dalam menjaga konsistensi data ketinggian di seluruh wilayah nasional.
Diskusi berlangsung interaktif ketika para mahasiswa Universitas Wuhan membandingkan teknologi pemetaan yang digunakan di Indonesia dengan metode yang mereka pelajari di Tiongkok. Pertukaran gagasan tersebut membuka ruang diskusi mengenai potensi pengembangan riset bersama dan kolaborasi akademik di masa mendatang.
Melalui kunjungan ini, BIG kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas literasi geospasial di tingkat global. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa perkembangan infrastruktur geospasial Indonesia semakin mendapat perhatian dan menjadi rujukan pembelajaran bagi komunitas internasional.
Reporter: Intan Pujawati
Editor: Kesturi Haryunani