Kamis, 01 Oktober 2026   |   WIB
en | id
Kamis, 01 Oktober 2026   |   WIB
Mengungkap Jejak Galodo Arosuka

Cibinong, Berita Geospasial - Banjir bandang yang menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 21 September 2026, meninggalkan jejak kerusakan yang membentang dari lereng Gunung Talang hingga kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat. Analisis spasial menunjukkan peristiwa tersebut adalah galodo, sebutan lokal masyarakat Minangkabau untuk banjir bandang bercampur debris, yakni terjangan arus deras berkecepatan tinggi yang membawa material padat berupa lumpur, pasir, batuan besar, dan pepohonan tumbang dari kawasan hulu.


Peta Sebaran Zona Aliran Debris (35,11 Ha) dan Sebaran 378 Bangunan Terpapar di Koridor Arosuka (Sumber: Akuisisi dan Pengolahan Data oleh Basarnas, APDI, BNPB, dan BIG)

Direktur Pemetaan Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Gatot Haryo Pramono menjelaskan, pemetaan pascabencana diperlukan untuk melihat bencana secara utuh. Analisis tidak hanya mencakup titik kerusakan, tetapi juga kondisi hulu, jalur aliran, bentuk medan, hingga kawasan yang menerima endapan.

“Data geospasial membantu kita memahami bagaimana material bergerak dari hulu menuju kawasan yang lebih rendah dan mengidentifikasi ruang yang memiliki keterpaparan tinggi. Informasi ini penting agar penanganan pascabencana tidak berhenti pada pembersihan material, tetapi menjadi dasar untuk memperbaiki tata ruang dan memperkuat mitigasi di wilayah yang memiliki ancaman serupa,” terang Gatot pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Analisis yang dilakukan BIG, lanjut Gatot, menggunakan foto udara beresolusi tinggi hasil akuisisi Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI). Analisis juga memanfaatkan data hasil pengolahan Digital Elevation Model (DEM) serta Informasi Geospasial Tematik lintas sektor. Hasilnya memberikan gambaran rinci mengenai luasan terdampak, sebaran bangunan, karakter medan, hingga keterkaitan lokasi bencana dengan kawasan rawan lahar Gunung Talang.

Melalui pemetaan tersebut, BIG mendelineasi wilayah terdampak seluas 351.078,73 meter persegi. Koridor aliran debris membentang sepanjang 2,17 kilometer, dengan perbedaan ketinggian mencapai 434,09 meter. Aliran tersebut bergerak dari wilayah hulu dengan ketinggian sekitar 1.338,50 meter di atas permukaan laut hingga dataran Arosuka pada ketinggian 904,42 meter.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada bentang alam. Sebanyak 378 bangunan teridentifikasi terdampak langsung, dengan total luas tapak bangunan mencapai 42.171,92 meter persegi.

Kerusakan paling parah terkonsentrasi pada area yang berdekatan dengan jalur aliran, ketika material berukuran besar menghantam bangunan dan endapan lumpur serta pasir menutup kawasan permukiman.

Berada di Jalur Potensi Lahar

Temuan penting lainnya muncul ketika dilakukan overlay wilayah terdampak dengan peta kawasan rawan bencana Gunung Talang. Hasil analisis menunjukkan 81,55 persen atau sekitar 28,63 hektare wilayah terdampak berada di dalam zona potensi banjir lahar kategori tinggi.


Peta Kondisi Geologi Wilayah Terdampak yang Didominasi Formasi Kipas Aluvium (Qf / 74,29%) dan Batuan Gunungapi Muda (Qyu / 24,24%) (Sumber: Badan Geologi, Kementerian ESDM)

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa koridor bencana Arosuka memiliki keterkaitan kuat dengan jalur aliran material vulkanik yang secara geomorfologis telah terbentuk sebelumnya. Saat hujan deras terjadi di kawasan hulu, material vulkanik yang tersimpan di lereng dapat kembali terbawa melalui sistem aliran menuju kawasan yang lebih rendah.

Kondisi geologi turut memperkuat kerentanan kawasan. Sekitar 74,29 persen wilayah terdampak berada pada formasi kipas alluvium. Sedangkan 24,24 persen lainnya berada pada satuan batuan gunung api muda. Kipas aluvium merupakan endapan material, seperti pasir, kerikil, dan batu, yang terbawa aliran dari wilayah tinggi dan kemudian menumpuk saat aliran memasuki daerah landai. Endapan ini relatif belum terkonsolidasi, sehingga lebih mudah tererosi dan terbawa aliran berenergi tinggi.

Dari sisi geomorfologi, sekitar 80,67 persen wilayah terdampak merupakan dataran bergelombang yang berfungsi sebagai area penumpukan material ketika aliran debris memasuki medan yang lebih landai. Sebaliknya, bagian hulu memiliki lereng yang jauh lebih curam dan menjadi zona pelepasan serta jalur transportasi material menuju Arosuka.

Seluruh wilayah terdampak, seluas 35,11 hektare, berada di zona dengan tingkat kerentanan gerakan tanah menengah berdasarkan data Badan Geologi. Artinya, kawasan tersebut masih perlu diwaspadai karena gerakan tanah dapat kembali terjadi, terutama saat hujan deras.

Pemetaan Jadi Dasar Pemulihan

Gatot menegaskan, Informasi Geospasial memiliki peran penting dalam menentukan langkah setelah fase tanggap darurat. Peta tidak hanya menggambarkan lokasi yang sudah terdampak, tetapi juga membantu mengidentifikasi ruang yang perlu dihindari, dilindungi, atau ditata kembali.


Peta Kondisi Jenis Tanah Wilayah Terdampak Banjir Bandang yang Didominasi Asosiasi Andosol Eutrik dan Gleisol Eutrik (Sumber: Kementerian Pertanian)

“Pascabencana, kita perlu memastikan bahwa keputusan pemulihan tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini. Data spasial digunakan untuk menentukan kawasan yang perlu direlokasi, lokasi yang membutuhkan perlindungan infrastruktur, serta ruang yang harus dipertahankan sebagai kawasan penyangga. Dengan begitu, proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat sekaligus mengurangi risiko bencana berikutnya,” ujar Gatot.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, BIG merekomendasikan empat kelompok intervensi. Pertama, penguatan tanggap darurat melalui pemantauan kondisi lereng dan alur Batang Lembang serta asesmen stabilitas longsoran sebelum pengerahan alat berat.

Kedua, penataan dan relokasi permukiman dari koridor yang memiliki ancaman tinggi. Ketiga, pembangunan infrastruktur pengendali sedimen, seperti sabo dam, check dam, dan kantong sedimen untuk mengurangi energi serta volume material yang bergerak menuju kawasan padat.

“Terakhir, perlu dilakukan penguatan mitigasi nonstruktural melalui sistem peringatan dini, integrasi informasi risiko ke dalam tata ruang, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat,” ucap Gatot.

Selain itu, BIG juga merekomendasikan pemasangan sistem early warning system yang mengintegrasikan penakar hujan otomatis, sensor ketinggian air, dan sensor getaran lahar. Sistem tersebut dapat mendukung peringatan lebih cepat kepada masyarakat di hilir ketika kondisi di hulu menunjukkan peningkatan ancaman.

“Dengan pendekatan berbasis data geospasial, pengalaman Arosuka dapat menjadi pijakan untuk menata kembali kawasan yang memiliki karakter ancaman serupa,” tutup Gatot.

Bagi BIG, pemetaan pascabencana bukan sekadar mendokumentasikan kerusakan, melainkan menyediakan dasar analitis untuk memastikan pemulihan berjalan seiring dengan upaya mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Reporter: Direktorat Pemetaan Tematik
Editor: Kesturi Haryunani