Cibinong, Berita Geospasial – Penguatan kapasitas pimpinan dalam mengelola risiko strategis menjadi perhatian dalam `Pelatihan dan Sertifikasi Manajemen Risiko Skema Qualified Chief Risk Officer (QCRO)` yang berlangsung pada 28–30 September 2026. Kegiatan ini bertujuan mendorong penerapan manajemen risiko yang lebih terstruktur dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan organisasi.
“Setiap kegiatan pengambilan keputusan itu sudah memasukkan unsur-unsur yang terkait dengan manajemen risiko,” ujar Sekretaris Utama Badan Informasi Geospasial (BIG) Belinda Arunarwati Margono saat membuka kegiatan pada Senin, 28 September 2026.
Belinda mengatakan, praktik manajemen risiko sebenarnya telah berjalan dalam aktivitas sehari-hari di BIG. Namun, penerapannya perlu diperkuat agar semakin terstruktur dan berkembang menjadi bagian dari budaya organisasi, khususnya dalam mendukung keputusan pada tingkat strategis.
Menurutnya, pengelolaan risiko bukan berarti menghindari seluruh risiko yang mungkin muncul. Organisasi perlu mengenali risiko, memahami dampaknya, memperhitungkan konsekuensinya, serta menentukan langkah pengelolaan yang sesuai.
“Paling tidak kita bisa memahami risiko yang sebetulnya dihadapi. Risiko kan beragam, ada risiko yang langsung kelihatan, ada risiko yang sebetulnya rentetan. Ini yang perlu dipelajari, perlu diperhitungkan. Pertama diketahui dulu, dipahami, diperhitungkan, dan dikelola,” jelasnya.
Melalui pelatihan ini, BIG juga mendorong peserta untuk tidak menjadikan sertifikasi sebagai tujuan akhir. Kompetensi yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari, terutama saat menjalankan peran sebagai risk owner pada tingkat strategis.
“Kita harapkan bahwa pelatihan ini tidak hanya berhenti di sertifikat. Ini sebetulnya juga menjadi salah satu momentum atau starting point untuk implementasi nyata di kegiatan kita sehari-hari,” tegas Belinda.
Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Informasi Geospasial (PPKIG) BIG Ratna Sari Dewi menyampaikan, program ini bagian dari upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia BIG dalam bidang manajemen risiko. Sebanyak 19 peserta mengikuti pelatihan dan sertifikasi QCRO.
“Saat ini ada dua batch, kita sudah punya 81 yang tersertifikasi. Maka nanti kita 19 orang ini akan melengkapi menjadi 100 orang,” ujar Ratna.
Selama pelatihan, peserta memperoleh 16 jam pelajaran yang mencakup prinsip, kerangka, dan proses manajemen risiko; penerapan three lines of defense; kepemimpinan manajemen risiko; pengembangan manajemen risiko hukum dan kepatuhan; manajemen risiko strategis; serta integrasi manajemen risiko berbasis SNI 31000.
Ratna berharap, peserta dapat memanfaatkan seluruh rangkaian pembelajaran sebagai bekal menghadapi tahapan sertifikasi sekaligus menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas.
“Mari kita berjuang, Bapak Ibu, dalam dua tiga hari ini berlatih yang baik sehingga kita bisa mengikuti sertifikasi pada hari Rabu nanti,” tuturnya.
Pelatihan dan sertifikasi QCRO menjadi salah satu langkah BIG untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia, sekaligus membangun penerapan manajemen risiko yang konsisten. Dengan integrasi risiko dalam proses kerja dan pengambilan keputusan, BIG mendorong tata kelola organisasi yang lebih terukur dalam mendukung penyelenggaraan informasi geospasial nasional.
Reporter: Edwin Rico
Editor: Kesturi Haryunani