Cibinong, Berita Geospasial – Riuh antusias para pelajar terdengar di Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Kamis, 7 Mei 2026. Sebanyak 88 siswa beserta guru pendamping dari SMP PGRI Nanggewer datang untuk mengenal lebih dekat tentang informasi geospasial, mulai dari teknologi pemetaan hingga pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke Pusat Pengembangan Kompetensi Informasi Geospasial (PPKIG). Di lokasi tersebut, para siswa diperkenalkan dengan berbagai peralatan survei dan pemetaan beserta fungsinya. Antusiasme peserta semakin terlihat saat tim BIG menampilkan peragaan teknologi drone atau pesawat nirawak yang digunakan untuk akuisisi data udara dan pemetaan wilayah secara cepat serta akurat.
Setelah sesi lapangan, kegiatan dilanjutkan di Aula Bhumandala BIG dengan pemaparan materi dari sejumlah narasumber.
Guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMP PGRI Nanggewer Suraida mengapresiasi kesempatan belajar yang diberikan BIG kepada para siswa. Menurutnya, kunjungan ini membuka ruang bagi siswa untuk memperluas wawasan di bidang geografi dan pemetaan.
“Semoga melalui kunjungan ini, kita dapat menyerap ilmu tentang pemetaan dengan baik, sekaligus membuka ruang bagi para siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalaman yang seluas-luasnya berkaitan dengan ilmu geografi,” ujar Suraida.
Humas BIG Tommy Nautico menanggapi hal tersebut dengan menjelaskan bahwa kegiatan edukatif ini menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah dalam memperkuat literasi kebumian. “Kami yakin, penyelenggaraan kunjungan edukatif ini akan memacu siswa untuk meningkatkan kecerdasan spasial,” katanya.
Pada sesi pemaparan materi, Luciana Retno Prastiwi dari Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama menjelaskan profil dan peran BIG sebagai penyelenggara utama informasi geospasial nasional. Ia menuturkan, data pemetaan memiliki posisi penting sebagai dasar berbagai kebijakan pembangunan di Indonesia.
Materi berikutnya disampaikan Jessica Nathania dari Direktorat Pemetaan Batas Wilayah dan Nama Rupabumi. Melalui topik `Pemetaan Batas Wilayah dan Nama Rupabumi`, ia menjelaskan bahwa setiap garis batas dan penamaan wilayah pada peta memiliki aspek legalitas dan nilai sejarah yang berkaitan erat dengan kedaulatan negara.
Sesi penutup disampaikan Randi Atiqi dari Direktorat Pemetaan Tematik dengan materi bertajuk ‘Mengenal Kebencanaan dan Peta Bencana’. Pada paparannya, ia mengingatkan pentingnya literasi peta di negara rawan bencana seperti Indonesia. Melalui peta tematik, masyarakat dapat mengenali potensi risiko di lingkungan sekitar sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sepanjang kegiatan, para siswa aktif mengikuti sesi diskusi, mengajukan pertanyaan, hingga menjawab kuis yang diberikan narasumber. Melalui kunjungan ini, BIG berharap para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang geospasial, tetapi juga memiliki perspektif yang lebih luas dalam memahami wilayah Indonesia melalui sudut pandang spasial.
Reporter: Intan Pujawati
Editor: Kesturi Haryunani