Rabu, 08 Juli 2026   |   WIB
en | id
Rabu, 08 Juli 2026   |   WIB
5 Elemen Kunci Penilaian Simpul Jaringan IG di Bhumandala Award 2024

Jakarta, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) kembali menggelar Bhumandala Award. Malam penganugerahan Bhumandala Award 2024 yang mengusung tema `Tata Kelola Data Spasial Berkualitas untuk Indonesia yang Lebih Baik` dilaksanakan di Studio Metro TV, sekaligus untuk merayakan Satu Dekade Bhumandala Award.

“Penghargaan ini bertujuan mendorong pengelolaan data geospasial yang efektif demi kemajuan bangsa,” kata Kepala BIG Muh Aris Marfai dalam sambutannya.

Bhumandala Award ditujukan untuk mengapresiasi instansi yang telah berhasil membangun simpul jaringan IG dengan baik, memberikan akses data geospasial yang akurat, dan mempermudah integrasi data lintas sektoral demi mendukung perencanaan pembangunan nasional. Terdapat lima elemen penilaian Bhumandala Award Simpul Jaringan Informasi Geospasial (IG) yang diatur dalam undang-undang, yaitu kebijakan, kelembagaan, sumber daya manusia, teknologi, dan standar.

"Kelima elemen ini diharapkan dapat dikelola optimal oleh simpul jaringan IG di tingkat kementerian, pemerintah provinsi, kabupaten, hingga kota di seluruh Indonesia," jelas perwakilan juri Bhumandala Award 2024 Heri Sutanto.

Menurut Heri, proses penjurian Bhumandala Award 2024 dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan pengiriman daftar isian beserta bukti pendukung. Tim juri kemudian mengevaluasi kesesuaian dokumen sebelum melanjutkan ke tahap kedua, yaitu wawancara.

Salah satu pemenang Bhumandala Award 2024 adalah Kementerian Pertanian. Kementerian yang dipimpin Amran Sulaiman ini meraih dua penghargaan, yaitu Bhumandala Award Nawasena Pendatang Baru Terbaik dan Bhumandala Award Kinerja Simpul Jaringan IG kategori kementerian/lembaga.

"Di era saat ini, pemanfaatan teknologi dan pemetaan sangat penting. Kementerian Pertanian berurusan dengan lahan, jutaan petani, serta jutaan orang yang terlibat dalam sektor pertanian. Pertanian melibatkan irigasi, kemiringan lahan, potensi lahan, sumber air, dan ke depannya, kondisi tanah. Jika dijalankan sendiri sangat berat, solusinya adalah Kementerian Pertanian memanfaatkan Informasi Geospasial," ungkap Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Sudaryono menambahkan, Kementerian Pertanian sangat antusias dengan digitalisasi, mengingat Indonesia memiliki 7,4 juta hektare lahan sawah, 16 juta hektare perkebunan sawit, dan berbagai lahan yang perlu dipetakan. Dengan adanya Kebijakan Satu Peta (KSP), semua data menjadi lebih akurat dan terintegrasi.

"Kementerian Pertanian memanfaatkan peta tematik dari BIG dan mengapresiasi upaya BIG dalam mengintegrasikan semua data dengan KSP Indonesia," tutupnya. (SMN/NIN)