Jumat, 14 Agustus 2026   |   WIB
id | en
Jumat, 14 Agustus 2026   |   WIB
Teknologi Geospasial Dukung Implementasi Smart Agriculture

Cibinong, Berita Geospasial – Tantangan sektor pertanian Indonesia terus berkembang, mulai dari tuntutan peningkatan produktivitas hingga kebutuhan efisiensi penggunaan sumber daya. Kondisi ini mendorong penerapan teknologi yang mampu membuat proses budidaya lebih presisi, otomatis, dan efisien.


Direktorat Sistem Referensi Geospasial BIG Teguh Fayakun Alif menjelaskan,
integrasi teknologi geospasial dan IoT menjadi bagian penting dalam pengembangan smart agriculture /Fauzi

Salah satu pendekatan yang kini berkembang adalah smart agriculture atau smart farming. Konsep ini mengintegrasikan teknologi geospasial, layanan penentuan posisi berakurasi tinggi, serta Internet of Things (IoT) untuk mendukung berbagai aktivitas pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga pemupukan.

Upaya penerapan teknologi tersebut dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Program Studi Smart Agriculture, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan PT Mekar Jaya Interniagatama (Allynav) melalui uji coba teknologi autonomous driving pada traktor pertanian. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, di Kebun Percobaan Sukamantri, IPB.

Pada uji coba tersebut, traktor memanfaatkan layanan Real Time Kinematic (RTK) Networked Transport of RTCM via Internet Protocol (NTRIP) milik BIG. Teknologi ini memungkinkan traktor menentukan posisi secara akurat hingga orde sentimeter, sehingga kendaraan dapat bergerak secara otomatis mengikuti jalur yang telah ditentukan.

Penerapan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi pekerjaan di lahan, sekaligus mengurangi kesalahan operasional. Dengan posisi yang lebih presisi, alat pertanian dapat bekerja secara konsisten dan membantu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.

Tidak hanya traktor, kegiatan tersebut juga menampilkan demonstrasi autonomous fertilizer spraying menggunakan wahana nirawak atau drone. Wahana ini memanfaatkan layanan RTK NTRIP BIG untuk melakukan pemupukan secara presisi pada lahan budidaya padi gogo.

Dukungan informasi posisi yang akurat memungkinkan drone mengaplikasikan pupuk pada lokasi yang ditentukan secara lebih tepat. Teknologi ini membuka peluang untuk meningkatkan efektivitas pemupukan sekaligus mendorong pengelolaan lahan yang lebih efisien.

Surveyor Pemetaan dari Direktorat Sistem Referensi Geospasial BIG Teguh Fayakun Alif menjelaskan, integrasi teknologi geospasial dan IoT menjadi bagian penting dalam pengembangan smart agriculture.

“Ketika teknologi geospasial dan IoT terhubung menjadi satu, akan memberikan data yang akurat dan presisi sebagai dasar pengambilan keputusan untuk meningkatkan produksi pertanian,” terangnya.

Penerapan teknologi pertanian presisi juga mendapat apresiasi dari Tim Pengendali Inflasi Pusat yang hadir pada kegiatan tersebut. Menurut perwakilan tim, pemanfaatan teknologi dapat mendukung upaya pengendalian inflasi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pangan.

“Dengan keberhasilan uji coba ini, kita perlu bersama-sama mendukung smart agriculture guna penanggulangan inflasi pangan untuk menyukseskan Indonesia swasembada pangan,” ujar Triadi Maharso.

Uji coba ini menunjukkan bahwa infrastruktur geospasial nasional dapat dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung modernisasi pertanian. Layanan RTK NTRIP BIG menjadi salah satu fondasi penting dalam menghadirkan informasi posisi berakurasi tinggi bagi berbagai teknologi pertanian otomatis.

Ke depan, integrasi layanan positioning presisi dengan kendaraan otonom, drone, dan sensor IoT dapat memperluas penerapan pertanian presisi di Indonesia. Teknologi tersebut tidak hanya membantu petani bekerja lebih efisien, tetapi juga menyediakan data yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan lahan.

Keberhasilan uji coba di Kebun Percobaan Sukamantri diharapkan menjadi langkah awal untuk mempercepat adopsi smart agriculture di berbagai wilayah Indonesia. Peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan ketepatan pengelolaan lahan pada akhirnya dapat memperkuat ketahanan pangan nasional.

Reporter: Fauzi Perdanaputra dan Muhammad Al Kautsar
Editor: Kesturi Haryunani