Rabu, 08 Juli 2026   |   WIB
en | id
Rabu, 08 Juli 2026   |   WIB
GeoAI untuk Pemetaan Tematik

Bogor, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui Direktorat Integrasi dan Sinkronisasi Informasi Geospasial Tematik (DIS-IGT) menggelar sharing session bertema `GeoAI untuk Pemetaan Tematik`. Kegiatan ini sejalan dengan pemanfaatan Geospatial Artificial Intelligence (GeoAI) yang kian populer.

GeoAI menggabungkan teknologi berbasis lokasi atau Geographic Information Systems (GIS) dengan AI, machine learning, deep learning, data mining, dan high-performance computing untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat. Dengan GeoAI, kebijakan diharapkan dapat dieksekusi lebih tepat sasaran karena menggunakan data yang valid dan terintegrasi.

Sharing session ini bertujuan sebagai sarana sharing pengetahuan terkait bagaimana bisa memanfaatkan AI di dalam pemetaan tematik atau dalam penyelenggaraan geospasial, dengan harapan BIG selaku pembina penyelenggaraan informasi geospasial tematik bisa memanfaatkan teknologi yang ada sekarang untuk mendapatkan peta tematik yang lebih komprehensif, lebih cepat, efisien dan akurat,” kata Direktur DIS-IGT BIG Lien Rosalina pada saat membuka acara pada Senin, 2 September 2024.

Sharing session yang menghadirkan dosen dan peneliti dari Departemen Sains Informasi Geografi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Sanjiwana Arjasakusuma ini diikuti lebih dari 200 peserta dan dipandu oleh moderator M. Sufwandika Wijaya.

”Teknologi AI sudah lama ada dan terus berkembang naik turun, dimana mengalami pasang naik di 2006, 2012, sampai saat ini,” kata Sanji.

Ia juga menjelaskan beberapa model dan pendekatan AI yang umum digunakan dalam pemetaan tematik, seperti CNN, Deep Learning Neural Networks, dan Supervised Learning.

”Aplikasi AI untuk pemetaan tematik banyak sekali pemanfaatanya, terutama untuk pengelolan data remote sensing. Di level tertentu, dengan data banyak dan berbagai variasi, kita tidak perlu melakukan training, sehingga bisa langsung menggunakan aplikasi tertentu. Contohnya untuk update land cover ataupun generate ketinggian,” jelas Sanji.

Sanji menerangkan, bahwa AI dibutuhkan ketika objek yang akan dipetakan memiliki kompleksitas tinggi untuk diolah secara analytics, data training dan input tersedia, data yang diolah memiliki ukuran besar, serta ketika dibutuhkan otomatisasi untuk penyediaan data secara berkala. Penggunaan teknologi GeoAI tidak diperlukan untuk analisis yang sederhana.

Saat ini, lanjut Sanji, GeoAI telah dimanfaatkan untuk penyelenggaraan Informasi Geospasial Dasar (IGD). Selain itu, juga untuk penyelenggaraan Informasi Geospasial Tematik (IGT), seperti pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan perambahan kawasan hutan. (RAN-FZ/TAR/NIN)