Sabtu, 29 Agustus 2026   |   WIB
en | id
Sabtu, 29 Agustus 2026   |   WIB
RILIS - Percepat Rekonstruksi Sumatera, BIG Targetkan Peta Bahaya Banjir di 52 Kabupaten/Kota

Percepat Rekonstruksi Sumatera, BIG Targetkan Peta Bahaya Banjir di 52 Kabupaten/Kota

Cibinong, 28 Agustus 2026 – Badan Informasi Geospasial (BIG) turun langsung ke wilayah terdampak banjir Sumatera untuk memperkuat penyediaan data geospasial sebagai dasar percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Hingga 2028, BIG menargetkan pemetaan wilayah terdampak di 52 kabupaten/kota yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta wilayah lain yang memiliki potensi bahaya banjir.

Langkah tersebut merupakan bagian dari dukungan BIG sebagai anggota Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) pada bidang data. BIG berperan menyediakan Informasi Geospasial (IG) yang akurat, terstandar, dan terintegrasi, termasuk peta bahaya banjir yang dapat digunakan bersama oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Saat ini telah dilakukan pendataan, identifikasi, dan pengukuran kondisi wilayah pascabanjir di sejumlah lokasi terdampak. Data lapangan tersebut akan diintegrasikan dengan berbagai sumber IG untuk menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi dan karakteristik bahaya banjir di setiap wilayah.

Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Antonius B. Widjanarto menjelaskan, kesamaan referensi geospasial menjadi kunci agar berbagai pihak dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang konsisten.

“Penanganan pascabencana tidak cukup hanya menghitung kerusakan, tetapi harus memahami lokasi terdampak, bagaimana karakteristik bahayanya, serta bagaimana kondisi wilayah sebelum dan setelah bencana. IG menjadi fondasi untuk memastikan intervensi rehabilitasi dan rekonstruksi tepat lokasi, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Petakan Bahaya, Bukan Sekadar Lokasi Terdampak

BIG tidak hanya memetakan lokasi banjir, tetapi juga mengidentifikasi karakteristik bahayanya, mulai dari potensi genangan, luas wilayah terdampak, hingga kedalaman genangan. Pemetaan ini memadukan berbagai sumber data, mulai dari topografi, morfometri dan morfologi permukaan bumi, citra satelit radar, jaringan sungai, garis pantai, penggunaan lahan, hingga informasi pendukung lainnya dari kementerian/lembaga terkait.

Pendekatan ini memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran spasial yang lebih konsisten antarwilayah. Dengan satu referensi data, proses penentuan lokasi prioritas, pembangunan kembali infrastruktur, hingga perencanaan ruang dapat dilakukan secara lebih terukur.

“Data yang kami bangun diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat digunakan sebagai referensi bersama dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Antonius.

Peta Bahaya Banjir Jadi Dasar Keputusan

Pemanfaatan peta bahaya banjir telah mulai diarahkan pada kebutuhan konkret di lapangan. Salah satunya untuk menilai kelayakan lokasi relokasi sekolah terdampak banjir yang dilaporkan Pemerintah Provinsi Aceh. Informasi mengenai bahaya banjir ini membantu pemerintah untuk mengidentifikasi lokasi yang lebih aman, sehingga pembangunan kembali fasilitas pendidikan tidak mengulang kerentanan yang sama.


Gambar Pemanfaatan Peta Bahaya Banjir dalam Prioritas Relokasi Sekolah /Dok.BIG

Pemanfaatan serupa dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan lain, seperti menentukan wilayah prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi, mengidentifikasi kawasan dengan bahaya banjir tinggi, merencanakan pembangunan kembali infrastruktur, mengevaluasi lokasi permukiman dan fasilitas publik, serta menyusun strategi pengurangan risiko bencana.

Informasi tersebut juga dapat mendukung penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan, perencanaan tata ruang berbasis risiko, serta pemantauan perubahan kondisi wilayah setelah bencana.

Bagi BIG, pemetaan pascabencana bukan sekadar pendokumentasian dampak. Data yang dihasilkan harus dapat digunakan untuk memahami perubahan wilayah dan menjadi dasar pengambilan keputusan. Data pola genangan, kedalaman banjir, topografi, jaringan sungai, perubahan morfologi, hingga infrastruktur terdampak dapat menjadi baseline untuk mengevaluasi risiko dan merancang mitigasi yang tepat.

Melalui penyediaan data geospasial yang terstandar dan terintegrasi, BIG mendorong rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir di Sumatera tidak berhenti pada upaya mengembalikan kondisi wilayah seperti sebelum bencana. Lebih dari itu, proses ini menjadi kesempatan untuk membangun kembali wilayah yang aman, tangguh, dan siap menghadapi risiko banjir di masa mendatang.

Mone Iye Cornelia Marschiavelli

Juru Bicara BIG
HP: 0878-7028-4044
Email: mone.iye@big.go.id
Website: www.big.go.id