Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

UHAMKA Menyambangi BIG untuk Belajar SIG

Cibinong, Berita Geospasial - Badan Informasi Geospasial sebagai salah satu Lembaga Pemerintah Non Kementerian mempunyai tugas menyelenggarakan informasi geospasial di Indonesia. Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, disebutkan juga bahwa salah satu tugas BIG terkait dengan penyebarluasan data dan informasi geospasial baik menggunakan media cetak maupun media elektronik. Penyebarluasan tersebut dilakukan kepada semua khalayak, baik kementerian/lembaga, pemerintah daerah, universitas, sekolah, maupun masyarakat pada umumnya. Terkait hal tersebut, pada Rabu, 9 Agustus 2017, BIG berkesempatan untuk menerima kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta.

Sebanyak 50 mahasiswa dan dosen dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta (Uhamka) diterima oleh perwakilan dari BIG, Agung Teguh Mandira, staf Pusat Penelitian, Promosi, dan Kerja Sama (PPPKS) BIG di Aula Utama BIG, Gedung S Lantai 2, Cibinong. Pada pukul 09.00, para peserta diterima oleh BIG dan diberikan penjelasan terkait Informasi Geospasial (IG) secara umum, serta produk-produk BIG. Dosen Pembimbing Uhamka, Wira Fajri Rosidin, menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada BIG karena telah bersedia menerima kunjungan dari Uhamka. Ia menyampaikan harapannya dapat belajar terkait IG, One Map Policy (OMP), dan terkait Sistem Informasi Geospasial (SIG) yang ada di kurikulum 2017. “Kami juga mengharapkan dapat belajar terkait aplikasi Ina-Geoportal, karena selama ini mahasiswa masih bingung caranya mendownload peta dari situ”, ungkapnya. Disampaikan juga harapannya agar para mahasiswa dapat belajar mengenai cara menggunakan peta, terutama peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Gayung bersambut, para peserta mendapatkan berbagai materi pada hari itu. Dari Agung Teguh Mandira, Staf PPPKS BIG, dijelaskan apa itu BIG dan IG. BIG dulunya merupakan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), dimana dengan transformasi ini maka tugas BIG pun berubah menjadi Penyelenggara bangunan Informasi Geospasial Dasar (IGD), Pembina dan Integrator Informasi Geospasial Tematik (IGT), dan Penyelenggara Infrastruktur dan Jaringan Informasi Geospasial. Dijelaskan pula struktur, serta tugas pokok dan fungsi organisasi yang ada di BIG. “Peran IG dalam pembangunan nasional, antara lain membantu terkait kesehatan, pertahanan, peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi dan bisnis, menangani berbagai krisis lingkungan, perencanaan Tata Ruang Wilayah, penanganan evakuasi bencana, analisis penanganan konflik kepentingan dan wilayah, dan sebagainya”, demikian dijelaskan Agung.

Menyusul kemudian adalah presentasi dari Dias Eramudadi, Staf Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT) BIG yang menjelaskan tentang proses pembuatan peta Rupabumi Indonesia (RBI). Dijelaskan bahwa komponen utama pemetaan RBI ada 2 yaitu akuisisi data dan produksi. Akuisisi data, sumber data pemetaan RBI adalah Foto Udara, LIDAR, Airborne IFSAR, Spaceborne RADAR (DSM+ORRI), dan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT). Sedangkan ketersediaan peta RBI sendiri, skala 1: 5.000 tersedia 1.774 NLP dengan wilayah tersebar di daerah Samarinda, Depok, Bandung, Bogor, Palangkaraya, dan lain-lain. Untuk skala 1: 10.000 tersedia 1.074 NLP, untuk skala 1: 25.000 tersedia 4.777 NLP, untuk skala 1: 50.000 tersedia 3.366 NLP, untuk skala 1: 100.000 tersedia 26 NLP, skala 1: 250.000 tersedia 309 NLP, skala 1: 500.000 tersedia 103 NLP, sedang skala 1: 1.000.000 tersedia 37 NLP.

Berikutnya adalah paparan tentang survei hidrografi dan proses pembuatan peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dari Nadya Oktaviani, Staf Bidang Penelitian BIG. Nadya memaparkan bahwa data dasar yang diperlukan dalam pembuatan peta LPI adalah data batimetri, yang menyajikan angka dan hipsografi/kontur kedalaman sebagai representasi keadaan topografi dasar laut, garis pantai, unsur-unsur buatan manusia, Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) , dan unsur-unsur lainnya yang berada di wilayah pantai/pesisir. Data survei hidrografi sendiri bisa dimanfaatkan untuk : pembuatan peta LPI dan LLN, offshore dan migas, pembangunan daerah, penelitian, perencanaan pelabuhan dan bangunan tepi pantai lainnya, SAR (Search and Rescue): pencarian kapal atau pesawat tenggelam, dan lain sebagainya. “Pengukuran batimetri dapat dilakukan dengan Single Beam Echosounder, Multibeam Echosounder dan Side Scan Sonar”, tandas Nadya.

Terakhir adalah presentasi dan demo Ina-Geoportal dari Indah Khurotul Aini, Staf Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial (PPPIG) BIG. Ina-Geoportal merupakan geoportal nasional sebagai wujud implementasi dari keterbukaan informasi yang juga bagian dari amanat UU IG. Indah memaparkan bahwa, “Ina-Geoportal sebagai gerbang utama akses informasi geospasial yang menghubungkan Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah yang menjadi mitra penghubung simpul Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN). Ina-Geoportal mewujudkan pertukaran IG yang bermanfaat bagi kemajuan pembangunan di Indonesia”. Penjelasannya kemudian dilanjutkan dengan demo Ina-Geoportal dari video dan akses langsung di aplikasinya.

Acara kunjungan berlangsung kondusif dengan partisipasi dari mahasiswa, mereka bertanya kepada para narasumber terkait berbagai hal yang ingin mereka pelajari. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab dan penyerahan souvenir. Sebagai penutup, para peserta diajak untuk mengunjungi gedung PPRT BIG, dalam rangka untuk belajar mengenai stereoplotting. Semoga kunjungan ini bisa meningkatkan pengetahuan para peserta dan mengenalkan BIG serta produk-produknya kepada lebih banyak masyarakat pada umumnya. (LR/TR)