Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Training for Trainer untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Bidang Informasi Geospasial

Cibinong, Berita Geospasial BIG - Instansi,  akademis  dan industri. Tiga pilar utama dalam pembangunan sektor strategis nasional. Tak terkecuali di bidang geospasial, para pemeran di masing-masing lini tersebut sangat berpengaruh terhadap kemajuan sektor yang lebih dikenal dengan istilah 'pemetaan' ini. Keseimbangan peran yang dibarengi dengan koordinasi yang sistematis tentunya akan membuat produksi dan aplikasi data spasial di Indonesia makin meningkat dari waktu ke waktu. Mewujudkannya memang bukan perkara mudah, menilik begitu banyak karakter yang terlibat di dalamnya. Belum lagi permasalahan teknis terkait keterbatasan perangkat lunak dan keras yang tersedia, atau sumber daya manusia yang belum memenuhi syarat dari segi kuantitas dan kualitas. Perlu waktu yang tidak sebentar pastinya, tapi proses menuju ke sana sudah semestinya dimulai dari sekarang.

Sumber daya manusia, atau secara singkat dapat kita sebut SDM. Dalam proses penempaannya sangat mungkin menjadi kompleks, apalagi ketika dibutuhkan keterampilan khusus di dalamnya. Perlu pembinaan jangka panjang untuk menghasilkan SDM yang memenuhi kualifikasi dan tentunya dapat digunakan untuk program yang berkesinambungan. Menjalankan program besar seperti itu tentunya memerlukan pemain-pemain kunci yang sudah memiliki keahlian untuk menjadi pioneer dalam melahirkan tenaga-tenaga ahli dan terampil lainnya. Pelatihan menjadi salah satu sarana untuk mewujudkannya. Itulah yang disadari betul oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) yang tentunya tak akan pernah bisa berjalan sendiri dalam memenuhi amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG). Perlu ada sumbangan pemikiran dari para akademisi dan peran yang lebih teknis dari industri agar apa yang dituangkan dalam undang-undang tersebut dapat dilaksanakan sepenuhnya.

Terkait hubungan antara instansi dan industri, BIG memiliki peran sebagai penyedia jasa dan pembina, sedangkan perusahaan adalah pelaksana. Fungsi pembina tersebut kini direalisasikan dalam bentuk Training for Trainer (TFT) sebagai salah satu bagian dari persiapan pekerjaan pemetaan Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala menengah. Tujuan jangka pendeknya adalah untuk menyamakan persepsi mengenai spesifikasi hasil yang diharapkan. Namun lebih dari itu, sebenarnya pelatihan ini adalah bagian dari titik awal untuk mewujudkan harmonisasi dari ketiga pilar tersebut. Melalui kesamaan persepsi ini, BIG dan industri dalam hal ini perusahaan akan mampu bersinergi terkait program-program yang dilaksanakan untuk mencapai target jangka panjang di bidang informasi geospasial.

TFT tersebut dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 13-15 Agustus 2015, bertempat di Hotel Lorin Sentul ini dihadiri oleh delapan perusahaan pemenang tender pemetaan RBI skala menengah tahun 2015. Setelah dibuka dengan sambutan dari Plt. Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT), yang didampingi Kepala Bidang Pemetaan Rupabumi Skala Kecil dan Menengah (SKM) dan PPK terkait kontrak.  PPK menjelaskan tentang konten teknis dari apa yang disampaikan dalam pelatihan ini diawali dengan penjelasan mengenai konsep dari supervisi dan Quality Control (QC) yang berbeda dengan penerapan pada tahun-tahun sebelumnya. Pemisahan antara teknis supervisi dan QC ini pun sebenarnya sudah masuk ke dalam pembinaan jangka panjang yang akan dilakukan BIG, dikarenakan hal ini akan membuat perusahaan menjadi lebih tertib dalam administrasi sekaligus tetap menjaga kualitas data yang dihasilkan.

Pemaparan yang lebih spesifik mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan dibuka dengan penjelasan umum mengenai seluruh tahapan pemetaan. Pada sesi ini peserta mendapatkan gambaran secara komprehensif mengenai seluruh tahapan yang akan dilaksanakan oleh perusahaan dalam melakukan pekerjaan tahun 2015 ini. Setelah penjelasan umum diberikan, barulah detail untuk tiap tahapan disampaikan secara lebih rinci, meliputi kode unsur dan skema geodatabase, persiapan, digitasi unsur rupabumi, ekstraksi hipsografi, survei kelengkapan lapangan, editing atribut dan topologi, pelaporan, hingga monitoring dan pengisian formulir QC.

Kesamaan persepsi tentu menjadi sebuah tujuan yang harus dicapai. Tak hanya dalam memberikan kesamaan pandangan mengenai spesifikasi produk, tapi juga sebagai fondasi dalam merencanakan tujuan jangka panjang untuk kepentingan bersama. Persepsi itulah yang akan menjadi visi, sebuah hasil akhir yang diharapkan oleh semua penggiat di bidang informasi geospasial. Sebuah cita-cita besar yang akan menjadikan pemenuhan amanat UU No 4 Tahun 2011 menjadi realistis. Sebuah langkah awal yang mengarahkan kita kemana akan berjalan, sehingga setiap detail program yang dicanangkan menjadi terintegrasi satu sama lain. Perlahan tapi pasti semua itu akan dapat diwujudkan, apalagi sudah menjadi tugas BIG untuk menyediakan IG Dasar yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan untuk seluruh Indonesia. Memang bukan sesuatu yang mudah, tapi mengawalinya akan selalu menjadi lebih bijak meski perlahan.

Tak hanya soal persepsi, pelatihan dan pertemuan seperti ini tentunya menjadi sarana yang sangat efektif untuk saling belajar dan berdiskusi. Dunia terus berkembang, tak terkecuali di bidang informasi geospasial pula. Tukar pikiran mengenai teknologi terapan terbaru atau sekedar hasil penelitian yang dapat menjadi pengembangan ke depan menjadi sangat penting, apalagi mengikuti dinamisme yang begitu cepat di dunia pemetaan. Meski tidak langsung digunakan, bisa jadi hasil dari diskusi tersebut menjadi salah satu alternatif solusi percepatan kegiatan pemenuhan informasi geospasial di tahun-tahun berikutnya. Apalagi jika nantinya kembali melibatkan akademisi, tentunya hal ini menjadi sinergisme tiga pilar yang akan menghasilkan sesuatu yang nyata dan bermanfaat. TFT ini diharapkan dapat mengingatkan kita bahwa ada sebuah tujuan besar yang ingin diwujudkan bersama. Harmonisasi tiga pilar harus direalisasikan, hingga pada akhirnya Menata Indonesia yang Lebih Baik tak hanya sekadar menjadi tujuan, apalagi slogan, melainkan sudah menjadi sebuah pencapaian. (DBS/TR) Instansi,  akademis  dan industri. Tiga pilar utama dalam pembangunan sektor strategis nasional. Tak terkecuali di bidang geospasial, para pemeran di masing-masing lini tersebut sangat berpengaruh terhadap kemajuan sektor yang lebih dikenal dengan istilah 'pemetaan' ini. Keseimbangan peran yang dibarengi dengan koordinasi yang sistematis tentunya akan membuat produksi dan aplikasi data spasial di Indonesia makin meningkat dari waktu ke waktu. Mewujudkannya memang bukan perkara mudah, menilik begitu banyak karakter yang terlibat di dalamnya. Belum lagi permasalahan teknis terkait keterbatasan perangkat lunak dan keras yang tersedia, atau sumber daya manusia yang belum memenuhi syarat dari segi kuantitas dan kualitas. Perlu waktu yang tidak sebentar pastinya, tapi proses menuju ke sana sudah semestinya dimulai dari sekarang.

 

Sumber daya manusia, atau secara singkat dapat kita sebut SDM. Dalam proses penempaannya sangat mungkin menjadi kompleks, apalagi ketika dibutuhkan keterampilan khusus di dalamnya. Perlu pembinaan jangka panjang untuk menghasilkan SDM yang memenuhi kualifikasi dan tentunya dapat digunakan untuk program yang berkesinambungan. Menjalankan program besar seperti itu tentunya memerlukan pemain-pemain kunci yang sudah memiliki keahlian untuk menjadi pioneer dalam melahirkan tenaga-tenaga ahli dan terampil lainnya. Pelatihan menjadi salah satu sarana untuk mewujudkannya. Itulah yang disadari betul oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) yang tentunya tak akan pernah bisa berjalan sendiri dalam memenuhi amanat Undang-

Instansi,  akademis  dan industri. Tiga pilar utama dalam pembangunan sektor strategis nasional. Tak terkecuali di bidang geospasial, para pemeran di masing-masing lini tersebut sangat berpengaruh terhadap kemajuan sektor yang lebih dikenal dengan istilah 'pemetaan' ini. Keseimbangan peran yang dibarengi dengan koordinasi yang sistematis tentunya akan membuat produksi dan aplikasi data spasial di Indonesia makin meningkat dari waktu ke waktu. Mewujudkannya memang bukan perkara mudah, menilik begitu banyak karakter yang terlibat di dalamnya. Belum lagi permasalahan teknis terkait keterbatasan perangkat lunak dan keras yang tersedia, atau sumber daya manusia yang belum memenuhi syarat dari segi kuantitas dan kualitas. Perlu waktu yang tidak sebentar pastinya, tapi proses menuju ke sana sudah semestinya dimulai dari sekarang.

Sumber daya manusia, atau secara singkat dapat kita sebut SDM. Dalam proses penempaannya sangat mungkin menjadi kompleks, apalagi ketika dibutuhkan keterampilan khusus di dalamnya. Perlu pembinaan jangka panjang untuk menghasilkan SDM yang memenuhi kualifikasi dan tentunya dapat digunakan untuk program yang berkesinambungan. Menjalankan program besar seperti itu tentunya memerlukan pemain-pemain kunci yang sudah memiliki keahlian untuk menjadi pioneer dalam melahirkan tenaga-tenaga ahli dan terampil lainnya. Pelatihan menjadi salah satu sarana untuk mewujudkannya. Itulah yang disadari betul oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) yang tentunya tak akan pernah bisa berjalan sendiri dalam memenuhi amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG). Perlu ada sumbangan pemikiran dari para akademisi dan peran yang lebih teknis dari industri agar apa yang dituangkan dalam undang-undang tersebut dapat dilaksanakan sepenuhnya.

Terkait hubungan antara instansi dan industri, BIG memiliki peran sebagai penyedia jasa dan pembina, sedangkan perusahaan adalah pelaksana. Fungsi pembina tersebut kini direalisasikan dalam bentuk Training for Trainer (TFT) sebagai salah satu bagian dari persiapan pekerjaan pemetaan Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala menengah. Tujuan jangka pendeknya adalah untuk menyamakan persepsi mengenai spesifikasi hasil yang diharapkan. Namun lebih dari itu, sebenarnya pelatihan ini adalah bagian dari titik awal untuk mewujudkan harmonisasi dari ketiga pilar tersebut. Melalui kesamaan persepsi ini, BIG dan industri dalam hal ini perusahaan akan mampu bersinergi terkait program-program yang dilaksanakan untuk mencapai target jangka panjang di bidang informasi geospasial.

TFT tersebut dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 13-15 Agustus 2015, bertempat di Hotel Lorin Sentul ini dihadiri oleh delapan perusahaan pemenang tender pemetaan RBI skala menengah tahun 2015. Setelah dibuka dengan sambutan dari Plt. Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT), yang didampingi Kepala Bidang Pemetaan Rupabumi Skala Kecil dan Menengah (SKM) dan PPK terkait kontrak.  PPK menjelaskan tentang konten teknis dari apa yang disampaikan dalam pelatihan ini diawali dengan penjelasan mengenai konsep dari supervisi dan Quality Control (QC) yang berbeda dengan penerapan pada tahun-tahun sebelumnya. Pemisahan antara teknis supervisi dan QC ini pun sebenarnya sudah masuk ke dalam pembinaan jangka panjang yang akan dilakukan BIG, dikarenakan hal ini akan membuat perusahaan menjadi lebih tertib dalam administrasi sekaligus tetap menjaga kualitas data yang dihasilkan.

Pemaparan yang lebih spesifik mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan dibuka dengan penjelasan umum mengenai seluruh tahapan pemetaan. Pada sesi ini peserta mendapatkan gambaran secara komprehensif mengenai seluruh tahapan yang akan dilaksanakan oleh perusahaan dalam melakukan pekerjaan tahun 2015 ini. Setelah penjelasan umum diberikan, barulah detail untuk tiap tahapan disampaikan secara lebih rinci, meliputi kode unsur dan skema geodatabase, persiapan, digitasi unsur rupabumi, ekstraksi hipsografi, survei kelengkapan lapangan, editing atribut dan topologi, pelaporan, hingga monitoring dan pengisian formulir QC.

Kesamaan persepsi tentu menjadi sebuah tujuan yang harus dicapai. Tak hanya dalam memberikan kesamaan pandangan mengenai spesifikasi produk, tapi juga sebagai fondasi dalam merencanakan tujuan jangka panjang untuk kepentingan bersama. Persepsi itulah yang akan menjadi visi, sebuah hasil akhir yang diharapkan oleh semua penggiat di bidang informasi geospasial. Sebuah cita-cita besar yang akan menjadikan pemenuhan amanat UU No 4 Tahun 2011 menjadi realistis. Sebuah langkah awal yang mengarahkan kita kemana akan berjalan, sehingga setiap detail program yang dicanangkan menjadi terintegrasi satu sama lain. Perlahan tapi pasti semua itu akan dapat diwujudkan, apalagi sudah menjadi tugas BIG untuk menyediakan IG Dasar yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan untuk seluruh Indonesia. Memang bukan sesuatu yang mudah, tapi mengawalinya akan selalu menjadi lebih bijak meski perlahan.

Tak hanya soal persepsi, pelatihan dan pertemuan seperti ini tentunya menjadi sarana yang sangat efektif untuk saling belajar dan berdiskusi. Dunia terus berkembang, tak terkecuali di bidang informasi geospasial pula. Tukar pikiran mengenai teknologi terapan terbaru atau sekedar hasil penelitian yang dapat menjadi pengembangan ke depan menjadi sangat penting, apalagi mengikuti dinamisme yang begitu cepat di dunia pemetaan. Meski tidak langsung digunakan, bisa jadi hasil dari diskusi tersebut menjadi salah satu alternatif solusi percepatan kegiatan pemenuhan informasi geospasial di tahun-tahun berikutnya. Apalagi jika nantinya kembali melibatkan akademisi, tentunya hal ini menjadi sinergisme tiga pilar yang akan menghasilkan sesuatu yang nyata dan bermanfaat. TFT ini diharapkan dapat mengingatkan kita bahwa ada sebuah tujuan besar yang ingin diwujudkan bersama. Harmonisasi tiga pilar harus direalisasikan, hingga pada akhirnya Menata Indonesia yang Lebih Baik tak hanya sekadar menjadi tujuan, apalagi slogan, melainkan sudah menjadi sebuah pencapaian. (DBS/TR) Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG). Perlu ada sumbangan pemikiran dari para akademisi dan peran yang lebih teknis dari industri agar apa yang dituangkan dalam undang-undang tersebut dapat dilaksanakan sepenuhnya.

 

Terkait hubungan antara instansi dan industri, BIG memiliki peran sebagai penyedia jasa dan pembina, sedangkan perusahaan adalah pelaksana. Fungsi pembina tersebut kini direalisasikan dalam bentuk Training for Trainer (TFT) sebagai salah satu bagian dari persiapan pekerjaan pemetaan Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala menengah. Tujuan jangka pendeknya adalah untuk menyamakan persepsi mengenai spesifikasi hasil yang diharapkan. Namun lebih dari itu, sebenarnya pelatihan ini adalah bagian dari titik awal untuk mewujudkan harmonisasi dari ketiga pilar tersebut. Melalui kesamaan persepsi ini, BIG dan industri dalam hal ini perusahaan akan mampu bersinergi terkait program-program yang dilaksanakan untuk mencapai target jangka panjang di bidang informasi geospasial.

TFT tersebut dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 13-15 Agustus 2015, bertempat di Hotel Lorin Sentul ini dihadiri oleh delapan perusahaan pemenang tender pemetaan RBI skala menengah tahun 2015. Setelah dibuka dengan sambutan dari Plt. Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT), yang didampingi Kepala Bidang Pemetaan Rupabumi Skala Kecil dan Menengah (SKM) dan PPK terkait kontrak.  PPK menjelaskan tentang konten teknis dari apa yang disampaikan dalam pelatihan ini diawali dengan penjelasan mengenai konsep dari supervisi dan Quality Control (QC) yang berbeda dengan penerapan pada tahun-tahun sebelumnya. Pemisahan antara teknis supervisi dan QC ini pun sebenarnya sudah masuk ke dalam pembinaan jangka panjang yang akan dilakukan BIG, dikarenakan hal ini akan membuat perusahaan menjadi lebih tertib dalam administrasi sekaligus tetap menjaga kualitas data yang dihasilkan.

Pemaparan yang lebih spesifik mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan dibuka dengan penjelasan umum mengenai seluruh tahapan pemetaan. Pada sesi ini peserta mendapatkan gambaran secara komprehensif mengenai seluruh tahapan yang akan dilaksanakan oleh perusahaan dalam melakukan pekerjaan tahun 2015 ini. Setelah penjelasan umum diberikan, barulah detail untuk tiap tahapan disampaikan secara lebih rinci, meliputi kode unsur dan skema geodatabase, persiapan, digitasi unsur rupabumi, ekstraksi hipsografi, survei kelengkapan lapangan, editing atribut dan topologi, pelaporan, hingga monitoring dan pengisian formulir QC.

Kesamaan persepsi tentu menjadi sebuah tujuan yang harus dicapai. Tak hanya dalam memberikan kesamaan pandangan mengenai spesifikasi produk, tapi juga sebagai fondasi dalam merencanakan tujuan jangka panjang untuk kepentingan bersama. Persepsi itulah yang akan menjadi visi, sebuah hasil akhir yang diharapkan oleh semua penggiat di bidang informasi geospasial. Sebuah cita-cita besar yang akan menjadikan pemenuhan amanat UU No 4 Tahun 2011 menjadi realistis. Sebuah langkah awal yang mengarahkan kita kemana akan berjalan, sehingga setiap detail program yang dicanangkan menjadi terintegrasi satu sama lain. Perlahan tapi pasti semua itu akan dapat diwujudkan, apalagi sudah menjadi tugas BIG untuk menyediakan IG Dasar yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan untuk seluruh Indonesia. Memang bukan sesuatu yang mudah, tapi mengawalinya akan selalu menjadi lebih bijak meski perlahan.

Tak hanya soal persepsi, pelatihan dan pertemuan seperti ini tentunya menjadi sarana yang sangat efektif untuk saling belajar dan berdiskusi. Dunia terus berkembang, tak terkecuali di bidang informasi geospasial pula. Tukar pikiran mengenai teknologi terapan terbaru atau sekedar hasil penelitian yang dapat menjadi pengembangan ke depan menjadi sangat penting, apalagi mengikuti dinamisme yang begitu cepat di dunia pemetaan. Meski tidak langsung digunakan, bisa jadi hasil dari diskusi tersebut menjadi salah satu alternatif solusi percepatan kegiatan pemenuhan informasi geospasial di tahun-tahun berikutnya. Apalagi jika nantinya kembali melibatkan akademisi, tentunya hal ini menjadi sinergisme tiga pilar yang akan menghasilkan sesuatu yang nyata dan bermanfaat. TFT ini diharapkan dapat mengingatkan kita bahwa ada sebuah tujuan besar yang ingin diwujudkan bersama. Harmonisasi tiga pilar harus direalisasikan, hingga pada akhirnya Menata Indonesia yang Lebih Baik tak hanya sekadar menjadi tujuan, apalagi slogan, melainkan sudah menjadi sebuah pencapaian. (DBS/TR)