Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Tinjauan Data Spasial Bencana Tanah Longsor Desa Pasir Panjang

 

Tinjauan Data Spasial Bencana Tanah Longsor Desa Pasir Panjang

Bencana alam gerakan tanah (tanah longsor) kembali menimpa sebagian wilayah Jawa Tengah, tepatnya di Desa Pasir Panjang, Salem, Brebes. Telah banyak tinjauan terhadap kejadian bencana tanah longsor dari berbagai pemangku kepentingan sesuai tugas dan fungsinya. Tinjauan terhadap kondisi fisik yang mempengaruhi terjadinya longsor di Desa Pasir Panjang, Salem, Brebes dan sekitarnya dapat dilihat dari data geospasial yang sudah ada dalam kerangka Kebijakan Satu Peta (KSP).  KSP yang tertuang dalam amanat Perpres no 9 tahun 2016 merupakan penyatuan aspek-aspek georeferensi, standar, geodatabase, dan geoportal dari berbagai peta tematik. Tentu saja peta tematik yang digunakan adalah peta yang terkait dengan kondisi fisik daerah terdampak tanah longsor dan sekitarnya. Dalam hal ini data geospasial yang dapat memberikan gambaran mengenai aspek fisik yang menjadi pemicu terjadinya tanah longsor terkait dengan kondisi ekologi bentanglahannya, seperti peta penggunaan lahan, peta morfometri, peta sistem lahan, dan peta kerawanan gerakan tanah.

Berdasarkan Peta Morfometri Nasional Skala 1:250.000 dari Badan Informasi Geospasial, dan data kontur peta Rupabumi skala 1:25.000 di sekitar lokasi tanah longsor berada pada daerah dengan kemiringan lereng  curam (26-40%). Mahkota longsor berada pada kelas kemiringan lereng curam, sedangkan daerah terdampak longsor berada pada lahan pada kemiringan landai. Jadi daerah yang memicu terjadinya tanah longsor sebagian besar berada pada lahan pada kemiringan lereng  curam.

Gambar 1.1. Peta Kemiringan Lereng Desa Pasir Panjang.

Salah satu aspek yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor adalah penutup/penggunaan lahan. Penutup lahan berpengaruh terhadap jumlah air hujan yang terdistribusi menjadi air tanah, air permukaan dan terevaporasi. Berdasarkan Peta Penutup Lahan Nasional  Skala 1:250.000 dan Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 25.000 dari Badan Informasi Geospasial (BIG), penggunaan lahan di sekitar lokasi longsor Desa Pasir Panjang adalah Hutan Lahan Kering Sekunder dibagian atas,  semak belukar pada daerah tengah dan Sawah serta permukiman dibagian bawah. Pada skala yang lebih besar, berdasarkan citra satelit resolusi tinggi seperti terlihat pada gambar 2, teridentifikasi bahwa penggunaan lahan yang terdapat di desa tersebut antara lain hutan lahan kering sekunder dengan kerapatan sedang, perkebunan campuran, belukar, sawah, dan permukiman. Penutup lahan yang dominan adalah hutan dan sawah.

Kondisi hutan dengan kerapatan sedang memungkinkan curah hujan yang tinggi saat itu banyak terinfiltrasi ke dalam tanah, sehingga menyebabkan tanah jenuh air. Kejenuhan tanah semakin tinggi oleh karena adanya sawah yang berteras sering, dimana air permukaan banyak tertahan dan menjenuhi tanah di bagian tanah yang mengalami longsor. Adanya lapisan batuan napal yang menyusun wilayah Pasir Panjang akan menyebabkan tanah longsor karena batuan yang relatif licin menjadi bidang gelincir.


Gambar 1.2. Peta Penutup Lahan Disekitar Desa Pasir Panjang, Salem, Brebes.

Karakteristik fisik lainnya daerah bencana juga dapat diidentifikasi dari Peta Sistem Lahan Nasional Skala 1:250.000 dari BIG. Menurut peta tersebut, lokasi longsor berada pada Sistem Lahan Hiliboru (HBU). Daerah ini dicirikan dengan morfologi yang berbukit, sehingga umumnya lahannya berada pada kemiringan lereng Agak Curam-Sangat Curam. Batuan dasar nya berupa marl/napal, yang karena material penyusunnya mengandung lempung maka dapat menjadi bidang gelincir pada proses gerakan tanah. Sistem lahan ini mempunyai  solum tanah yang cukup dalam yaitu berkisar antara 76-100 cm, hal ini menyebabkan ruang pori-porinya dapat menampung air tanah dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini menyebabkan beban ruang tanah menjadi lebih berat, saat tanah tersebut jenuh air. Daerah ini mempunyai rata-rata curah hujan yang cukup tinggi, yaitu 2300-4500 mm/tahun, dengan bulan basah antara 5-12 bulan.

 

Gambar 1.3. Peta Sistem Lahan Desa Pasir Panjang

Kondisi-kondisi tersebut secara umum dapat menggambarkan besarnya pengaruh aspek fisik alam terhadap terjadinya tanah longsor di Desa Pasir Panjang tersebut. Resultan dari pengaruh faktor-faktor fisik tersebut secara spasial dapat dilihat pada Peta Kawasan Rawan Bencana Zona Kerentanan Gerakan Tanah Skala 1:50.000 dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Menurut peta tersebut lokasi tanah longsor berada pada kelas "tinggi". Pada kelas ini daerah terpetakan dapat atau berpotensi terjadinya tanah longsor terutama di perbatasan dengan lembah sungai, tebing, tebing pemotongan jalan dan pada lereng yang mengalami gangguan oleh manusia. Pemicunya dapat berasal dari curah hujan dengan intensitas tinggi atau gempa bumi.

 

 

Gambar 1.4. Peta Kawasan Rawan Bencana Zona Kerentanan Gerakan Tanah Desa Pasir Panjang dan sekitarnya

Berdasarkan tinjauan ekologi bentanglahan dari data spasial yang tersedia dapatlah disimpulkan bahwa Desa Pasir Panjang memiliki karakteristik fisik yang berpotensi terjadinya bencana alam tanah longsor, antara lain kemiringan lahan yang sedang hingga tinggi, sifat fisik tanah yang gembur, terdapat batuan napal yang kedap air sehingga berpotensi sebagai bidang gelincir, penggunaan lahan hutan menyebabkan infiltrasi air hujan semakin tinggi, serta curah hujan yang tinggi. Pemanfaatan data spasial dalam analisa keruangan sangat berguna dalam mengidentifikasi potensi kebencanaan suatu daerah, sehingga kedepannya proses penanggulangan atau mitigasi bencana akan lebih akurat dengan berbasis data geospasial.

 

REAKSI CEPAT PEMETAAN CEPAT LONGSOR DESA PASIRPANJANG

Hari I (Senin, 26 Februari 2018) tim Satuan Reaksi Cepat (SRC) BIG berhasil menjangkau daerah puncak longsor (mahkota longsor) Desa Pasir Panjang, Brebes bersama jajaran polhut perhutani BKPH Salem, KPH Pekalongan Barat.  Sebelum melakukan kegiatan rapid mapping, tim berkoordinasi dengan posko penanggulangan bencana untuk memantapkan langkah kerja dalam memetakan dampak kejadian longsor Desa pasir panjang yang terjadi pada tanggal 22 Februari 2018 kemarin . Pada hari I tim SRC berhasil melakukan akuisisi data pada daerah hulu/ puncak longsor. Selanjutnya pada hari ke II (Selasa, 27 Februari 2018) berdasarkan rapat koordinasi antar tim yang terlibat di kegiatan penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor Kec.Salem Kab.Brebes, didapatkan informasi bahwa akuisisi data untuk desa Pasirpanjang hanya dibutuhkan di area ujung longsorannya saja, sehingga diharapkan tim BIG bisa lebih fokus untuk melakukan akuisisi data di lokasi longsor ke-2 yang ada di desa Capar bersebelahan dengan Desa Pasir Panjang. Tim PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) sudah berhasil mengakuisisi sebagian besar daerah Desa Pasirpanjang. Setelah dilakukan koordinasi dengan team Perhutani yang mengetahui medan, maka dipastikan di hari ke-II Tim SRC BIG akan memetakan sisa lokasi Pasirpanjang yang belum selesai dan kemudian dilanjutkan dengan akuisisi data di desa Capar. Selama melaksanakan kegiatan di Kec.Salem, Tim SRC BIG telah melakukan 7 kali akuisisi di dua lokasi longsor berbeda, yaitu di desa Pasirpanjang dan Desa Capar.

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, Tim Reaksi Cepat BIG melakukan analisis untuk memprediksi area dan arah longsoran di Desa Pasirpanjang. Dasar analisis yang digunakan adalah kondisi morfologi permukaan lahan. Berdasarkan analisa penampang profil dari perekaman pesawar nir awak (UAV) dapat diketahui bahwa mahkota longsoran berada pada ketinggian + 650 mdpal dengan panjang longsoran 2 km, dimana luas longsoran lebih kurang sebesar 24 ha yang mengakibatkan material longsoran yang hilang sebanyak 3,2 juta m3. Bila dilihat dari hasil citra perekaman sebelum dan sesudah terjadinya longsor didapatkan fakta bahwa material longsoran banyak tergelontorkan pada daerah penggunaan lahan sawah. Inilah yang kemudian mengakibatkan banyaknya korban jiwa dikarenakan pada saat terjadinya longsor tersebut banyak masyarakat sedang melakukan aktifitas pertanian di lokasi titik material terendapkan.

 

Gambar 2.1. Peta sebelum dan sesudah longsor Desa Pasir Panjang

 

Gambar 2.2. Peta Digital Surface Model Desa Pasir Panjang

Selain itu pada Desa Capar ditemukan sebanyak + 60 rumah terdampak longsor, dan terdapat 3 ruas dan 2 jembatan putus pada sisi utaranya. Desa ini secara morfologi berada diantara 2 sungai yang kemungkinan besar membawa material longsor pada daerah hulu (sisi utara). Ada banyak ditemukan titik-titik longsoran pada daerah atas Desa Capar yang umumnya merupakan longsoran tebing sungai. Untuk daerah selatan terdapat jembatan dan jalan yang putus disekitar jalan menuju Desa Capar. Titik longsor berada pada sisi timur jalan/ jembatan menuju Desa Capar. Perlu segera penanganan lebih lanjut agar akses menuju Desa Capar dari sisi selatan dapat berjalan kembali dengan normal.

 

Gambar 2.3. Peta Sebaran Dampak Longsor Desa Capar I

 

 

Gambar 2.4. Peta Sebaran Dampak Longsor Desa Capar II (Sisi Selatan)

Besar harapannya data pemetaan cepat Longsor Desa Pasir Panjang dan Desa Capar dapat dipergunakan untuk aspek mitigasi dan rehabilitasi pasca bencana. Ketersediaan peta kejadian longsor aktual longsor bermanfaat sebagai dasar acuan untuk mengambil kebijakan dalam menangani penanggulangan bencana.

 

Tim Analisa

Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim

 

File Resolusi tinggi dapat di download ditautan ini