Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

SMK PU Negeri Bandung Menimba Ilmu Informasi Geospasial di BIG

Cibinong, Berita Geospasial BIG - Sebagai lembaga terdepan dalam pembinaan dan penyelenggaraan Informasi Geospasial (IG), Badan Informasi Geospasial (BIG) terbuka untuk para mahasiswa dan pelajar di Indonesia untuk menggali dan menimba ilmu tentang Informasi Geospasial. Tak terkecuali juga pada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pekerjaan Umum (PU) Negeri Bandung yang berkunjung ke kantor BIG di Cibinong.

Kunjungan pelajar Jurusan  Teknik Geodesi (Survei Pemetaan) SMK PU Negeri Bandung yang berjumlah 75 orang tersebut dilakukan pada Senin, 27 April 2015.  Para Pelajar tersebut diterima di Aula Utama BIG oleh Sri Hartini, mewakili Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama. Pada sesi presentasi pembuka, Sri Hartini memberikan penjelasan mengenai Tugas dan Fungsi BIG, dimana  BIG adalah lembaga pengganti Bakosurtanal, hal tersebut dijelaskan pada Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Saat ini BIG yang dipimpin oleh Dr. Priyadi Kardono dibantu oleh Sekretaris Utama, Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar  (IGD), Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik (IGT) dan Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG)serta 12unit eselon 2. Saat ini Indonesia sudah mempunyai portal kebumian atau Ina-Geoportal yang dikoordinasikan BIG yang menghubungkan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah, yang telah menjadi Simpul Jaringan IG. Selain itu BIG bekerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi telah membangun Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial (PPIDS).  Keduanya bersinergi dalam pengembangan infrastruktur informasi geospasial dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia bidang informasi geospasial.

Selanjutnya pada presentasi ke-2 Kepala Bidang Jaring Kontrol  Geodesi BIG, Marsono Julianto TP membawakan materi tentang  Jaring Kontrol Geodesi, yaitu infrastruktur yang berfungsi untuk mendefinisikan/merealisasikan Sistem Referensi Koordinat yang tunggal secara nasional dan digunakan sebagai acuan/referensi dalam penentuan posisi (koordinat) secara nasional. Hingga saat ini Jaring Kontrol Horizontal Nasional  (JKHN) yang ada tersebar diseluruh Indonesia berjumlah 1.377 Pilar, Jumlah stasiun CORS (Continuously Operating Reference Station)berjumlah 121 statiun, Jaring Kontrol Vertikal Nasional (JKVN) berjumlah 6.205 pilar dan stasiun pengamatan pasang surut berjumlah 118 statiun serta jumlah sebaran Jaring Kontrol Geodesi Nasional berjumlah 5.875 pilar tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu PJKGG juga telah melaksanakan Airbone Gravity Survey, untuk menentukan Geoid sebagai sistem referensi Tinggi Nasional di wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Lebih lanjut Marsono menjelaskan tentang pentingnya Sistem Referensi Koordinat yang tunggal melalui SRGI (Sistem Referensi Geospasial Indonesia) adalah untuk mengetahui kepemilikan persil tanah, transportasi, hidrologi, batas wilayah, ketinggian dan citra dari udara. Secara keseluruhan  pemanfaatan data JKGG adalah sebagai sistem referensi nasional dalam penyelenggaraan IG Nasional, pemantauan pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi termasuk land subsidence, real time kinematik DGPS melalui CORS, GPS dan GIS integration application, penentuan posisi dan navigasi (darat, laut, udara) secara teliti, Ina-TEWS (Indonesian Tsunami Early Warning System), sea level monitoring, pemodelan terkait pasut, tsunami, kelautan, coastal flood (rob) dan gempa serta penelitian dan pengembangan terkait sistem referensi geospasial, geodinamika, muka laut dan GPS meteorologi.

Sebelumnya Elvira dari Pusat Pemetaan Batas Wilayah (PPBW) pada paparannya menjelaskan tentang pemetaan batas wilayah negara Indonesia dengan negara tetangga, baik di batas darat maupun di laut serta batas wilayah administrasi provinsi dan kabupaten/kota seluruh wilayah Indonesia. Pada paparan yang terakhir Indah dari Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial menjelaskan tentang Ina-Geoportal, portal kebumian untuk berbagi pakai informasi geospasial. Setelah mendapatkan tambahan ilmu dari paparan beberapa presenter BIG, kunjungan dilanjutkan ke Data Center BIG dan Sentra Peta BIG. (YI/TR)