Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Satu Referensi Geospasial Untuk Mendukung Pembangunan Daerah Pekanbaru

(Pekanbaru, Berita Geospasial) - Bertempat di Pekanbaru, Provinsi Riau, Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai penyelenggara Informasi Geospasial (IG) mengadakan acara diseminasi IG pada Selasa, 25 September 2018.  Tema yang diangkat pada diseminasi kali ini adalah “Satu Referensi Geospasial Untuk Mendukung Pembangunan Daerah” dengan lokasi di The Premiere Grand Zuri Hotels di Pekanbaru.

Acara yang merupakan agenda rutin BIG dengan Anggota DPR RI Komisi VII ini diawali dengan sambutan Inpektor BIG, Sugeng Prijadi. Di hadapan sekitar 100 orang peserta yang merupakan lurah dan masyarakat umum di Pekanbaru, Sugeng Prijadi dalam sambutannya menjelaskan bahwa BIG adalah lembaga pemerintah yang menyelenggarakan IG.

“Bapak Ibu pasti sudah terbiasa menggunakan aplikasi pemetaan di smartphone. Nah IG itu terkait itu, pemetaan. Tingkat kedetilan peta itu akan mempengaruhi keakuratan peta. Tugas BIG adalah dalam rangka itu”, katanya.

Sugeng kemudian menambahkan bahwa jika diibaratkan, maka luas nusantara ini jika diletakkan Sabang di London, maka Merauke-nya di Baghdad Iraq. Sementara Miangas di Polandia, Pulau Rote-nya ada di wilayah Aljazair. Untuk keakuratan peta, perlu jaring kontrol sebagai titik ikat untuk menghasilkan peta yang akurat. HITS, Holistic, Integratif, Thematic dan Spasial untuk mengajukan anggaran pembangunan nasional.

Sekarang ini sudah ada kebijakan satu peta. Ini didasarkan bahwa dulunya, k/l membuat peta dengan system proyeksi, standar dan format yang berbeda. Dengan adanyanya KSP, tumpang tindih peta akan diminimalisir.

“Semoga acara ini bermanfaat untuk referensi dalam aktifitas kita sehari-hari. Data google maps yang melengkapi adalah orang kita juga. Padahal yang punya petanya adalah asing. Oleh karena itu, hati-hati dalam mentagging lokasi di media sosial, karena nantinya informasi itu akan masuk ke database google. Padahal kita harus punya kemandirian, termasuk dalam hal IG”, ujarnya.

Selanjutnya adalah sambutan dan arahan dari Anggota DPR RI Komisi VII sekaligus membuka acara, Sayed Abubakar A Assegaf.  Sayed Abubakar mengatakan bahwa jika bicara tentang peta, terbayangnya tentang atlas dan globe, padahal fungsi peta itu lebih dari itu. Peta digunakan untuk perencanaan pembangunan.

“Adanya google maps sekarang ini sudah biasa digunakan oleh masyarakat untuk mencari alamat. Harusnya merujuk pada BIG. Nah, oleh karena itulah maka acara ini diadakan, untuk sosialisasikan dalam mempermudah pemetaan di wilayah Pekanbaru”, katanya.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata berupa peta NKRI serta sejumlah produk BIG lainnya oleh Sugeng Prijadi kepada Sayed Abubakar A Assegaf serta kepada sejumlah lurah yang ada di Pekanbaru. Untuk mengabadikan momen berharga itu, diadakan pula foto bersama.

Masuk ke acara inti berupa diseminasi, Kepala Bidang Jaring Kontrol Horisontal dan Vertikal BIG, Joni Efendi menjelaskan tentang referensi geospasial. Referensi geospasial merupakan acuan dalam menentukan posisi/ koordinat (baik vertical/ horisontal) suatu objek. Secara nasional, titik referensi adalah muka air laut/ geoid. Sistem referensi itu mengacu secara nasional pada SRGI 2013.

Muka air laut rata-rata (mean sea level/ MSL) diukur oleh BIG dengan alat pengukur yang dipasang di stasiun pasang surut air laut yang dipasang biasanya di pelabuhan. Hasil dari pengukuran ini bisa untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya tsunami serta sebagai sipat datar referensi pemetaan di Indonesia.

“Kami kohon apabila bapak ibu menemukan pilar pilar BIG harap untuk dijaga, Karena ini merupakan asset nasional untuk pemetaan. Semakin lama umur pilar-pilar, maka akan semakin banyak data yang ada di pilar-pilar itu”, ungkapnya.

Selanjutnya Renita Purwanti dari PPBW BIG menjelaskan tentang pemetaan batas wilayah. Mengawali presentasinya, Renita menyebutkan bahwa 98 % batas desa masih buta. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih awam akan pentingnya peta yang benar dalam batas desa. Sebelumnya, pemetaan batas itu top down, dari batas negara, batas provinsi, batas kabupaten, batas kecamatan baru batas desa. Sekarang ini dibalik menjadi bottom up mulai dari batas desa sampai batas negara.

Materi presentasi yang menarik dan sedikit banyak terkait dengan masyarakat di Pekanbaru, peserta antusias untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait IG terutama terkait batas dan pemanfaatan IG untuk mengatasi salah satu permasalahan banjir di Kota Pekanbaru. (ATM)