Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

“Geoid, Bumi Datar atau Bumi Bulat?”

Beberapa waktu ke belakang dunia sempat dihebohkan dengan munculnya paham yang menyatakan bahwa bumi ini datar. Tidak hanya sampai disitu, paham tersebut didukung dengan penjelasan dan data yang viral di media sosial, terutama youtube. Dengan masifnya pemberitaan, menyebabkan hal itu menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Apalagi saat ini Masyarakat Bumi Datar atau dikenal sebagai Flat Earth Society jumlah pengikutnya mencapaiFlat Earth Society (FB: @FlatEarthGeocentric) memiliki pengikut sebanyak 187.000 orang di dunia dan sebanyak 63.800 orang (IG: indonesian_flatearth_society) di Indonesia. Hal ini menunjukkan hampir separuh penganut paham ini berdomisili di Indonesia.

Dari sisi geospasial sendiri, Badan Informasi Geospasial (BIG), melalui Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika (PJKGG) selalu berupaya menyediakan data yang akurat dan update terkait Informasi Geospasial Dasar (IGD) berupa Jaring Kontrol Geodesi (JKG). JKG sendiri terdiri dari beberapa unsur, yaitu : Jaring Kontrol Horisontal Nasional (JKHN), Jaring Kontrol Vertikal Nasional (JKVN), dan Jaring Kontrol Gayaberat Nasional (JKGN). JKHN merupakan kerangka acuan posisi horisontal untuk Informasi Geospasial (IG). Sementara JKVN digunakan sebagai kerangka acuan posisi vertikal untuk IG dan JKGN digunakan sebagai kerangka acuan gayaberat untuk IG.

Ketersediaan JKG sangat penting tidak hanya untuk mendukung ketersediaan IGD yang lain, seperti peta dasar, namun juga berbagai produk IG yang termasuk dalam kategori tematik. Hal tersebut disebabkan karena eksistensi JKG digunakan untuk mendefinisikan sistem dan kerangka referensi geospasial yang sama yang mendukung Kebijakan Satu Peta (KSP) atau One Map Policy (OMP).  Peraturan Kepala (Perka) BIG Nomor 15 Tahun 2013 tentang Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) 2013 menyebutkan sistem referensi geospasial terdiri dari sistem referensi geospasial horisontal dan sistem referensi geospasial vertikal. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa sistem referensi geospasial horisontal sudah dapat dimanfaatkan dan terselenggara secara memadai. Hal tersebut ditunjukkan dari pemanfaatan, ketersediaan, dan distribusi stasiun pengamatan tetap Global Navigation Satellite System (GNSS) berbasis Continously Operating Reference Station (CORS) di Indonesia yang mencapai 125 stasiun.

Penyelenggaraan model geoid yang cukup memadai sebagai sistem referensi geospasial vertikal di Indonesia bukan suatu hal yang mudah dan sederhana. Kompleksitas kondisi topografi dan bentuk negara yang berupa kepulauan (archipelago) menjadi tantangan tersediri dalam mewujudkan model geoid teliti Indonesia. Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke memiliki deretan pegunungan di sisi sebelah selatan, yang dikenal dengan The Ring of Fire. Selain itu, kondisi topografi yang sangat variatif di setiap pulau menjadi hambatan dalam hal pengumpulan data gayaberat secara teristris. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lima pulau besar dan beberapa pulau kecil dengan total 16.056  pulau yang bernama dan berkoordinat, dan masih banyak lagi pulau yang sedang dan akan dilakukan verifikasi lebih lanjut.

Salah satu karakteristrik negara kepulauan adalah variasi perairan yang berbeda setiap wilayahnya. Perbedaan variasi tersebut menyebabkan adanya perbedaan pasang surut yang berimplikasi pada perbedaan sistem referensi geospasial vertikal. Urgensi ketersediaan model geoid teliti Indonesia selain sebagai sistem referensi geospasial vertikal juga berguna untuk unifikasi sistem tinggi di semua wilayah. Namun demikian, nampaknya masih diperlukan berbagai usaha dan strategi dalam mewujudkan model geoid teliti Indonesia, khususnya menjawab tantangan dan hambatan yakni terbatasanya jumlah, distribusi, dan kualitas data gayaberat di seluruh Indonesia.

BIG juga memprakarsai terbentuknya Konsorsium Gayaberat Indonesia (KGI). KGI dibentuk dengan tujuan untuk mempercepat tersedianya data gayaberat di seluruh Indonesia. Anggota KGI terdiri atas badan atau lembaga pemerintah, asosiasi profesi, BUMN, dan perwakilan perguruan tinggi. Badan atau lembaga pemerintah yang tergabung dalam KGI antara lain Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral-Kementerian ESDM. BUMN yang tergabung dalam KGI yaitu Upstream Technology Centre Pertamina. Beberapa perguruan tinggi yang tergabung dalam KGI antara lain Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, dan Universitas Pakuan.

Ketersediaan data gayaberat tersebut akan digunakan untuk berbagai keperluan, tidak terbatas hanya untuk pemodelan geoid Indonesia. Dengan pemodelan ini kita akan mengetahui bahwa bentuk bumi ini memang tidak bulat, tidak pula datar, melainkan elipsoid dengan permukaannya tidak beraturan karena berbagai topografi yang ada di bumi ini. Atau dikenal sebagai geoid. Selain dari sisi geospasial, bagaimana bentuk bumi ini juga akan dikupas dari sisi geodesi dan astronomi.

Untuk itu maka BIG menyelenggarakan diskusi dengan tema “Geoid, Bumi Datar atau Bumi Bulat?” yang akan diadakan pada hari Selasa, 20 Februari 2018, bertempat di Two Stories Cafe & Resto, Bogor, bertempat di Jalan Pajajaran Indah V No.7, Baranangsiang, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, 16143. Tujuan diskusi ini adalah untuk mengupas mengenai Geoid, bagaimana proses pemodelan bumi, serta bagaimana permasalahan bentuk bumi dari sisi geodesi dan astronomi.

Diskusi yang akan dipandu Akbar Hiznu Mawanda (Kepala Subbagian Bantuan Hukum BIG) ini akan mengelaborasi para pemangku kepentingan agar sama-sama mau bekerja bersama untuk membahas terkait geoid atau bagaimana bentuk bumi. Untuk itu, diskusi ini akan menghadirkan pembicara berkompeten, antara lain :

1.      Dr. Moedji Raharto, Dosen Prodi Astronomi Institut Teknologi Bandung,

2.      Dr. Antonius Bambang Wijanarto, Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika Badan Informasi Geospasial, dan

3.      Dr. Heri Andreas ST, MT., Dosen Prodi Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung.