Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Rakor IIG 2015 : Menuju SDM dan Industri Informasi Geospasial yang Mumpuni

Bogor, Berita Geospasial BIG - Pertumbuhan ekonomi dunia telah mendorong permintaan aplikasi informasi geospasial di berbagai bidang, dimana industri geospasial telah muncul sebagai hal baru di sektor jasa informasi.   Hal ini dibahas dalam Rakornas IG awal tahun ini di dalam bidang Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG).  Dalam rangka untuk mengevaluasi pelaksanaan hasil keputusan Rakornas IG bidang IIG sebelumnya, serta menghasilkan kesepakatan-kesepakatan bidang IIG yang nantinya akan dibawa ke forum Rakornas di tahun berikutnya, BIG menyelenggarakan Rakor IIG pada Kamis, 1 Oktober 2015.

Rakor IIG yang berlangsung di The Sahira Hotel Bogor ini mempunyai tema adalah "Penguatan IIG untuk Penyelenggaraan Informasi Geospasial (IG) Nasional". Rakor IIG 2015 ini akan membahas 4 tema utama yang dibagi ke dalam 4 Workhing Group (WG). Salah satunya adalah WG 3 yang membahas SDM dan Industri IG, dengan Ketua yaitu Sumaryono, Kepala Bidang SDM dan Industri IG, Pusat Standardisasi dan Kelembagaan IG, BIG.  Sumaryono menjelaskan bahwa telah muncul berbagai perusahaan dan lembaga yang terlibat dalam bisnis untuk pengembangan teknologi dan penyediaan layanan di bidang informasi geospasial. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang kondisi industri informasi geospasial.  Melalui survei yang dilakukan terhadap industri IG di Indonesia, maka dapat diketahui keberadaan, aktivitas, dukungan SDM dan visi pertumbuhan ke depan agar tetap survive dalam memilih industri IG sebagai basis usahanya.

 

Demikian pula lembaga yang bergerak di bidang industri IG baik pemerintah maupun swasta, juga perlu diketahui, khususnya yang terkait dengan layanan dan ketersediaan SDM nya. Selain itu juga dapat diketahui standar kebutuhan industri terkait kualifikasi dan kompetensi SDM di bidang geospasial untuk mendukung proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan, jelas Sumaryono.  Hal tersebut sangat penting dilakukan agar langkah-langkah untuk mengembangkan industri IG memiliki acuan yang jelas dan tidak salah arah sehingga penyusunan roadmap pengembangan industri IG, khususnya untuk mengetahui kondisi industri IG saat ini serta kesiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) maupun kesiapan industri secara umum untuk menghadapi persaingan global.

 

Berdasarkan hasil survei dan analisis, ketersediaan SDM IG yang aktif bekerja di bidang IG secara nasional saat ini mencapai 8.584 orang. Sedangkan kebutuhan ideal SDM IG saat ini (2015) diperlukan sebanyak 31.500 orang dimana 1.000 orang untuk pemenuhan pembuatan IG Dasar, 27.750 orang untuk pemenuhan pembuatan IG Tematik Utama, 1.750 orang untuk pemenuhan pembuatan IG Tematik Potensial, dan 1.000 orang untuk pemenuhan pembuatan sistem dan manajemen IG.  Sementara kecepatan pemenuhan SDM IG dari lulusan pendidikan atau pelatihan sebanyak 2.500 orang per tahun, untuk memenuhi pekerjaan industri IG (pemerintah dan swasta). Profil SDM IG tersebut belum dapat memberikan informasi sejauh mana penguasaan SDM IG terhadap unit-unit keahlian yang dimiliki, dengan kata lain terdapat kesenjangan antara kuantitas dan kualitas SDM IG nasional.

Kondisi industri IG nasional saat ini masih berada pada tingkat yang memerlukan penguatan agar dapat mengejar kemajuan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Sebagian besar industri IG nasional masih sangat bergantung dari proyek-proyek pemerintah pusat (APBN) maupun daerah (APBD) dan industri swasta biasanya langsung mengadopsi teknologi IG dari luar yang secara tidak langsung mengurangi ruang gerak industri IG baik dari akuisisi dan pengolahan data geospasial maupun aplikasi penggunaan IG. Selain itu masalah pendanaan juga menjadi kendala industri IG. Dengan demikian, variasi dan inovasi industri IG nasional khususnya yang melayani jasa IG menjadi berkurang akibat terbatasnya permintaan dan cenderung beralih fokus pada pengerjaan kegiatan Non IG. Pada akhirnya kondisi tersebut berdampak juga pada menurunnya kualitas atau daya saing SDM IG nasional, yang cenderung bersifat memanfaatkan daripada menciptakan atau melakukan rekayasa teknologi IG. Oleh karena itu, dalam menghadapi era pasar regional dan global, dituntut kualitas SDM IG dengan sebuah standar yang diakui secara nasional dan internasional.

Dari berbagai fokus bahasan pada Working Group 3 Rakor IIG 2015 tentang Sumber Daya Manusia dan Industri Informasi Geospasial, diahirkan beberapa kesepakatan yaitu :

Sumber Daya Manusia Bidang Informasi Geospasial

1.       Untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Informasi Geospasial (IG) yang bertaraf internasional diperlukan adanya sebuah standar kompetensi yang setara dengan standar kompetensi dunia atau yang lebih tinggi. Oleh karena itu, Standar Kompetensi Kerja NasionaI Indonesia (SKKNI) bidang IG yang telah disusun perlu dikaji ulang dan diharmonisasi dengan standar kompetensi tingkat internasional.

2.       SKKNI bidang IG yang telah disusun perlu disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan industri, sehingga perlu dilakukan kaji ulang untuk klasterisasi :

a.       Kadaster

b.      Pertambangan dan Pertanian (Mining & Agriculture)

c.       Pemetaan (Dasar dan Tematik) dan Jasa Geospasial (Mapping/Geospatial Services)

d.      Survei Rekayasa dan Infrastruktur (Engineering & Infrastructure Surveys)

e.      Survei Lepas Pantai dan Kelautan (Offshore & Marine Surveying)

f.        Sains Geospasial (Geospatial Science)

3.       Perlu adanya strategi untuk pemenuhan gap antara ketersediaan SDM IG saat ini dengan proyeksi kebutuhan yang akan datang untuk setiap kompetensi sesuai SKKNI IG.

4.       Perlu adanya strategi untuk pemenuhan gap kompetensi yang ada saat ini dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri baik nasional maupun internasional.

5.       Perlunya peningkatan kualitas kompetensi, soft skill, dan sertifikasi SDM IG untuk menciptakan SDM IG yang berdaya saing internasional.

 

Industri Bidang Informasi Geospasial

1.       Untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional, perlu penguatan daya saing industri IG nasional yang saat ini masih rendah, terutama dalam hal :

a.       Penerimaan (recruitment ) dan Pembinaan SDM IG

b.      Permodalan

c.       Regulasi dan perijinan

d.      Lingkup Layanan (scope of services)

e.      Inovasi teknologi

f.        Pengkajian tren aplikasi IG ke depan

g.       Pemasaran (marketing) industri IG

h.      Penjaminan Kualitas (quality assurance)

2.       Untuk meningkatkan daya saing (competitiveness), daya tawar (bargaining position), dan benchmarking industri IG, perlu adanya peningkatan jejaring Internasional (global networking) dengan mitra asing.

3.       Diperlukan adanya kerja sama dengan akademisi dan peneliti dalam rangka inovasi dan pengembangan aplikasi teknologi baru untuk mendukung industri IG.

4.       Perlu adanya skema sertifikasi SDM IG yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

 

Pembahasan SDM dan Industri IG yang dibahas di dalam WG 3 Rakor IIG 2015 berjalan dengan baik yang menghasilkan berbagai kesepakatan di atas.  Semoga kesepakatan ini dapat dilaksanakan dalam setahun ke depan, sehingga Indonesia benar-benar dapat menghadapi MEA dengan tetap memperhatikan kesejahteraan bangsa dan negara, bukan hanya sebagai penonton di negeri sendiri.  (TN/TR)