Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Peta Sebagai Media Informasi Geospasial

Peningkatan lalu lintas ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mendorong interaksi antara penyedia informasi iptek dengan penggunanya. Hasilnya, terjadi peningkatan penyebaran dan pendayagunaan hasil Iptek melalui pemanfaatan teknologi informasi, termasuk Informasi Geospasial (IG).

Diseminasi Iptek Informasi Geospasial diselenggarakan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai langkah sosialisasi UU No. 4 Tahun 2011 tentang IG yang akan resmi mulai diterapkan Bulan April 2014. IG sangat diperlukan untuk pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnyadi negeri ini sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Tepatnya pada Selasa, 22 Oktober 2013, BIG menyelenggarakan Diseminasi Iptek IG di Pelambang Sumatera Selatan. Acara ini dihadiri oleh Kepala Biro Perencanaan, Kepegawaian, dan Hukum BIG, Muhtadi Ganda Sutrisna, Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim, Edwin Hendrayana, dan anggota Komisi VII DPR RI, Nazarudin Kiemas. Peserta yang hadir sebagai peserta adalah para dosen dan mahasiswa dari Universitas Sriwijaya dan Politeknik Sriwijaya Palembang dengan jumlah sekitar 230 orang.

Nazarudin Kiemas dalam sambutan pembukaannya menjelaskan tentang luasnya penggunaan IG. Disampaikan bahwa IG bisa digunakan untuk memetakan kandungan SDA di dalam bumi. Demikian juga dengan lintasan pesawat terbang, harus dipetakan. “Jika pesawat tidak mengikuti jalur penerbangan, pesawat bisa ditembak karena diangap ilegal”, tambahnya.

Sementara itu, Muhtadi Ganda dalam sambutannya memaparkan bahwa UU-IG adalah UU yang unik, karena mengatur dari hulu ke hilir. Hal ini IG melingkupi pengumpulan data geospasial (DG), pengolahan DG dan IG, penyimpanan dan pengamanan DG dan IG, penyebarluasan DG dan ID, serta penggunaan IG. Muhtadi Ganda menyebutkan sebuah moto, yakni “no map, no plan, no investment, no money, no growth, no prosperity”.

Selanjutnya dipaparkan banyak hal tentang pengenalan peta mulai dari definisi, jenis dan contoh-contohnya serta GPS (Global Positioning System) oleh Endang, widyaiswara BIG. Dijelaskan lebih detil bagaimana pembuatan peta, yakni dengan metode teristris, metode fotogrametris, dan metode penginderaan jauh.

Secara umum, metode teristris adalah metode pengukuran yang langsung di lapangan dengan menggunakan peralatan optik, seperti: theodolit, waterpass, dan lain sebagainya. Metode fotogrametris adalah metode pemetaan objek-objek di permukaan bumi yang menggunakan foto udara sebagai media untuk selanjutnya dihasilkan peta garis, peta digital, dan peta foto. Sedangkan metode penginderaan jauh adalah metode pemetaan dengan menggunakan gambaran sebagian atau seluruh permukaan bumi yang terekam oleh kamera atau sensor dari suatu jarak tertentu (citra satelit dan foto udara).

Sedangkan GPS adalah sistem navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit. Teknologi ini memungkinkan untuk digunakan banyak orang sekaligus dalam segala cuaca serta didisain untuk untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi dengan teliti dan berkelanjutan di seluruh dunia.

Banyak hal teknis tentang kegiatan survei dan pemetaan serta penyelenggaraan IG disampaikan kepada para peserta yang kebanyakan adalah mahasiswa jurusan Manajemen Informatika, Teknik Kimia, serta Teknik Sipil. Meskipun IG merupakan hal yang cenderung baru untuk kebanyakan dari mereka, tapi dengan cara menjelaskan yang interaktif, menarik, serta disertai humor membuat para mahasiswa tertarik untuk mengikuti acara diseminasi sampai akhir.

Pada kesempatan tersebut, BIG menyerahkan sejumlah souvenir kepada anggota DPR RI, perwakilan dari UNSRI dan perwakilan dari Politeknik Sriwijaya Palembang. Souvenir yang diserahkan berupa Peta NKRI skala 1:5.000.000 edisi 17 Agustus 2013 dan Buku Atlas Pariwisata Sumatera Selatan yang diserahkan oleh Edwin Hendrayana.

Oleh: Agung TM