Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Pemimpin itu Orang yang Menolak Hidup yang Biasa Saja

Cibinong, Berita Geospasial BIG - Di tengah perkembangan teknologi dan kemajuan jaman yang cepat, sulit menemukan pemimpin sejati di masyarakat. Banyak nilai-nilai dan ideologi yang mulai tergerus oleh modernisasi dan industrialisasi. Kebudayaan dan norma yang dulu kental di masyarakat, seakan mulai menghilang. Banyak orang memilih jalan pintas untuk mencapai tujuannya. Seringkali bahkan dengan mengorbankan harta dan martabatnya demi suatu jabatan atau kedudukan. Hal itulah yang menyebabkan korupsi semakin merajalela di masyarakat Indonesia ini. Bila siklus yang sama terus berulang tentu akan menciptakan mata rantai yang buruk dan akan mempengaruhi generasi yang akan datang. 

Arief Munandar, seorang dosen dan aktivis sosial dari Universitas Indonesia (UI), memberikan seminar kepada para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Badan Informasi Geospasial (BIG) Tahun 2015 terkait kepemimpinan pada Kamis, 30 April 2015. 'Mengapa Sulit Untuk Mencari Pemimpin Sejati?', itulah pertanyaan yang dilontarkan Arief pada awal seminar. Banyak aparatur negara yang berpikir bahwa karir harus naik secara vertikal. Kompetensi, kapasitas, dan keahlian ditempatkan di nomor sekian. Karena melihat banyak kemudahan dan fasilitas yang didapatkan bila mendapatkan jabatan tinggi inilah yang mengantarkan seseorang hingga menjadi koruptor. "Leadership tidak ada hubungannya dengan tinggi rendah jabatan struktural Anda", pungkas Arief.

Banyak aspek-aspek yang membuat timbulnya pola pikir demikian, seperti time management yang rendah, sehingga sering mengabaikan waktu, mudah membatalkan janji sepihak dengan berbagai alasan yang sangat 'egois', dan menunda pekerjaan. Selain itu, kebiasaan mengabaikan hal-hal kecil, terjebak pada tradisi dan sejarah, semangat 'alakadar' atau yang penting selesai, serta mempertentangkan relasi personal juga menjadi beberapa hal yang menjadi latar belakang pola pikir tersebut. Bila dibedah lebih lanjut, mengapa semua hal itu bisa terjadi akan mengarah pada rendahnya kualitas pola pikir seseorang. Padahal otak adalah anugerah Tuhan yang paling berharga bagi manusia, hanya manusia yang memiliki otak paling unggul.

Arief memaparkan pula pola pikir yang harus dimiliki seseorang untuk dapat memiliki sikap kepemimpinan. Siddharta Gautama pernah mengatakan, "Watch your thoughts. They became words. Watch your words. They become beliefs. Watch your beliefs. They become actions. Watch your actions. They become habits. What your habits. They become characters. Watch your characters, for it becomes your destiny". Ada 3 unsur yang utama, yaitu: mindset - behaviour - result, atau bila dijabarkan dengan cara berpikir yang berbeda, perilaku akan berbeda pula, sehingga hasil akhir yang didapatkan juga berbeda. Mindset, terdiri atas : thoughts, words, dan beliefs. Behaviour terdiri atas actions dan habits. Sedangkan results adalah characters dan destiny.

"Pemimpin adalah orang yang menolak hidup yang biasa saja", ungkap Arief. Terdapat 3 basic respect yang harus dimiliki, respect to people, respect to time, dan respect to system. Ketiga hal tersebut sudah sesuai dengan tema dasar dari orientasi CPNS BIG Tahun 2015 ini. Dimana para CPNS diharapkan mempu menghargai orang lain, waktu, dan sistem. "Untuk bisa memimpin orang lain, kamu harus bisa memimpin diri sendiri terlebih dahulu", tandas Arief. Modal dasar seorang pemimpin sejati adalah harus mempunyai kemampuan membangun kepercayaan dan penghargaan dari orang lain. Hal itu bisa diwujudkan berdasarkan 3 aspek, kompetensi, kredibilitas, dan kontribusi. Oleh karena itu kenali diri sendiri, dan mulailah memimpin diri sendiri dalam mengambil keputusan. Hanya setelah itu kita baru bisa memimpin orang lain dengan penuh tanggung jawab. Seminar motivasi kepemimpinan hari itu ditutup dengan sesi tanya jawab dan pemberian cinderamata dari BIG. Diharapkan dari para CPNS BIG Tahun 2015 ini akan lahir calon pemimpin di masa depan yang mampu membawa BIG berlayar lebih jauh dan tinggi lagi. (LR/TR)