Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Pemetaan Kejadian Banjir Daerah Istimewa Yogyakarta

Siklon Tropis Cempaka yang terbentuk sejak tanggal 27 hingga 30 November 2017 di wilayah Pantai Selatan Jawa, telah memberikan dampak perubahan pola cuaca ekstrem berupa hujan berintensitas tinggi dan angin kencang di hampir seluruh daerah di Pulau Jawa. Puncak kejadian hujan lebat di daratan Pulau Jawa yang terjadi pada tanggal 29 November 2017 mengakibatkan terjadinya berbagai macam bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Debit aliran yang begitu besar dan tidak mampu ditampung oleh tubuh sungai kemudian meluap dan membanjiri area persawahan, permukiman dan bahkan merusak sejumlah infrastruktur yang ada. Selanjutnya, hujan lebat yang terjadi pada area perbukitan mengakibatkan bertambahnya beban massa tanah dan memicu terjadinya tanah longsor.

Titik-titik lokasi kejadian banjir dan longsor di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo pada tanggal 29 November 2017 kemudian dipetakan untuk dilihat distribusinya. Titik-titik lokasi kejadian banjir juga digunakan untuk memvalidasi peta rawan banjir yang diproduksi oleh BIG, PU dan BMKG pada tahun 2014 untuk Kabupaten Bantul dan tahun 2009 untuk Kabupaten Kulon Progo. Peta Rawan Banjir skala 1:50.000 yang diproduksi telah mengacu pada SNI 8197:2015. Metode pemetaan rawan banjir menggunakan teknik tumpang susun (overlay), skoring dan pembobotan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). 

Peta Kejadian Banjir di Kabupaten Bantul yang disajikan pada Gambar 1.1. menunjukkan bahwa beberapa lokasi banjir memang berada pada wilayah dengan tingkat kerawanan sedang dan tinggi, meskipun demikian sebagian besar lokasi banjir berada pada area yang tidak rawan. Hasil ini menunjukkan bahwa lokasi kejadian banjir yang terjadi pada tanggal 29 November 2017sungguh diluar prediksi. Genangan yang terjadi dapat mencapai 1 km dari alur sungai, selain itu genangan juga banyak ditimbulkan dari luapan sungai-sungai yang sebelumnya tidak diperkirakan akan menimbulkan banjir. Kondisi yang hampir serupa juga terjadi di Kabupaten Kulon Progo (Gambar 1.2.). Banjir juga terjadi di wilayah estuari dan lereng kaki perbukitan yang sebelumnya tidak diprediksikan berpotensi banjir.  Dari hasil analisa tersebut diketahui bahwa adanya perluasan daerah yang rawan terhadap banjir akibat adanya fenomena Siklon Cempaka.


Gambar 1.1 Peta Kejadian Banjir di Kabupaten Bantul


Gambar 1.2 Peta Kejadian Banjir di Kabupaten Kulonprogo

Peta dengan gambar resolusi tinggi dapat diunduh disini