Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Mahasiswa ITN Malang Belajar Pemetaan di BIG

Cibinong, Berita Geospasial - Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mendekatkan masyarakat dengan Data dan Informasi Geospasial (IG). Berbagai aplikasi di gawai (gadget) telah memanfaatkan IG berupa peta digital untuk memudahkan pengguna melakukan berbagai aktivitas, seperti transportasi online, navigasi, dan pencarian lokasi. Sebanyak 60 mahasiswa Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Intitut Teknologi Nasional (ITN) Malang mengunjungi Bandan Informasi Geospasial (BIG) untuk mempelajari perkembangan IG pada hari Kamis, 2 Mei 2019.

Sebagai mahasiswa Geodesi, mereka mempelajari bentuk dan ukuran bumi serta melakukan pemetaan yang menjadi tugas utama BIG. "Ini kesempatan bagi kalian (mahasiswa) mengenal BIG lebih dekat. Sebab, Geodesi erat hubungannya dengan pemetaan yang menjadi tugas BIG," ucap Alifah Noraini, Dosen Teknik Geodesi ITN Malang yang ikut mendampingi mahasiswa saat memberikan sambutan di Ruang Rapat C1, BIG, Cibinong, Bogor.

Menurut alifah, kunjungan ini merupakan implementasi dari teori-teori yang telah mahasiswa dapatkan di kelas perkuliahan. Kunjungan ini diharapkan menjadi pengalaman berharga, karena mahasiswa bisa melihat secara langsung proses produksi di BIG.

"Struktur organisasi di BIG saat ini mengikuti bisnis proses yang ada. BIG punya tiga deputi, yaitu Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar, Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik, dan Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial," jelas Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama BIG Sri Lestari Munajati kepada peserta. Dalam kunjungan ini, para mahasiswa juga mendapatkan materi terkait tugas pokok dan fungsi BIG.

Materi selanjutnya disampaikan Maratun Sholihah dari Pusat Pemetaan Rupa Bumi dan Toponim (PPRT) BIG. "Kegiatan kami di PPRT di antaranya menyelenggarakan pemetaan unsur rupa bumi Indonesia, melakukan foto udara, pengukuran titik kontrol, pengolahan citra tegak, dan penyelenggaraan toponim. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, dihasilkan Peta Rupa Bumi Indonesia, DTM (Digital Terrain Model), foto udara dan LIDAR (Light Detection and Ranging), citra tegak, serta data toponim," terang Maratun.

Tidak hanya itu, dijelaskan pula tentang status kerangka referensi geodetik dalam hal pengurangan risiko bencana oleh Arif Aditiya dari Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamikan (PJKGG) BIG. Kunjungan ini kemudian ditutup dengan pengenalan drone yang biasa dipakai untuk pemetaan.

Pemetaan dengan menggunakan drone menjadi sangat populer belakangan ini. Selain mudah dan murah, pemetaan menggunakan drone dianggap mampu menjawab permasalahan umum yang dihadapi para surveyor. Semoga kunjungan ini bisa menambah pengetahuan dan pengalaman para peserta. (NIN/LR)