Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Kunjungan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

Data dan Informasi Geospasial (IG) merupakan data fundamental yang sangat penting dalam perencanaan pembangunan nasional. IG dapat digunakan sebagai Decision Support System (DSS) dalam pengambilan keputusan, salah satunya terkait penegasan dan pemetaan batas wilayah. Berkaitan dengan hal tersebut, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan berinisiatif melakukan kunjungan ke kantor Badan Informasi Geospasial (BIG) pada hari Rabu, 20 Desember 2017. Bertempat di Aula Utama BIG, Cibinong, acara ini dihadiri oleh 70 orang peserta dari dinas pemberdayaan masyarakat desa, perwakilan kecamatan serta desa di wilayah Bolaang Mongondow Selatan.

Acara diawali dengan sambutan oleh Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama, Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama (PPPKS) BIG, Sri Lestari Munajati. Ia membuka kesempatan jika pemerintah daerah ingin mengadakan kerjasama dengan BIG terkait dengan pembangunan IG di wilayahnya. Selanjutnya, Tri Patmasari, selaku Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah (PPBW) BIG menyatakan bahwa permasalahan batas sangat rumit. “Jumlah desa di Indonesia dari Sabang hingga merauke berjumlah sekitar 83.000 desa dan kelurahan. Bukan hal yang mudah memetakan seluruh batas desa di wilayah Indonesia”, ungkap Tri Patmasari kepada peserta. Untuk percepatan, BIG melakukan pemetaan batas desa (delineasi) secara kartometrik dengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang akurat dan detil.

Basri Sutrimo, Kabid Pemberdayaan Masyarakat Desa mangatakan bahwa tujuan kunjungan ini adalah untuk mengenal BIG dan mendapatkan pemahaman mengenai IG, khususnya dalam bidang pemetaan dan penegasan batas wilayah. “Dari 81 desa di wilayah Bolaang Mongondow Selatan belum ada satupun yang memiliki peta desa dari BIG, hanya sketsa yang dibuat secara mandiri oleh daerah”, tandasnya. Selain itu, disampaikan juga bahwa Ia sangat berminat mendapatkan informasi lebih mengenai teknis kerjasama dalam bidang pendidikan dan pelatihan geospasial. Sesi ini diakhiri dengan penyerahan cinderamata berupa buku produk geospasial dan peta NKRI dari BIG ke perwakilan daerah.

Acara dilanjutkan dengan sesi materi yang diawali dengan paparan dari PPBW BIG yang disampaikan oleh Agus Makmuriyanto. Ia menyampaikan mengenai peraturan perundangan terkait batas wilayah administrasi, peran BIG dalam penentuan batas wilayah serta upaya percepatan yang dilakukan BIG dalam pemetaan batas wilayah. Selanjutnya adalah paparan dari Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT) BIG disampaikan oleh Agri Kristal. Disampaikan bahwa Peta Rupabumi dapat digunakan sebagai peta dasar dalam penentuan batas wilayah. Untuk batas desa dapat menggunakan peta RBI skala 1:25.000 yang mana sudah tersedia untuk wilayah Bolaang Mongondow Selatan. Penjelasannya kemudian ditambahkan oleh Marda K.F, Staf PPRT BIG pula, mengenai titik kontrol untuk orthorektifikasi citra satelit resolusi tinggi. Sesi terakhir disampaikan oleh Kepala Balai Diklat Geospasial BIG, Dadang Arifin. Beliau menyampaikan informasi mengenai kegiatan pendidikan dan pelatihan yang ada di BIG. Terdapat 17 diklat terkait geospasial yang dapat diikuti oleh pemerintah daerah.

Diharapkan setelah kunjungan ini, peserta memahami dan dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat untuk membangun data dan informasi geospasial di wilayahnya, khususnya terkait batas desa. Tentunya BIG sebagai institusi pembina data dan informasi di Indonesia siap melakukan pendampingan. Semoga nantinya semakin banyak lagi daerah yang tertarik untuk mengikuti pelatihan di BIG pula ke depannya. (RD/LR)