Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Kecerdasan Spasial Sangat Diperlukan pada BIG-ISOC 2013

Sekitar 80% aspek kehidupan membutuhkan informasi geospasial. Kecerdasan yang sangat berhubungan erat dengan informasi geospasial dikenal dengan kecerdasan spasial. Salah satu kegiatan manusia yang sangat memerlukan kecerdasan spasial yang tinggi adalah orienteering. 

Orienteering adalah sebuah olah raga dimana orienteer (peserta) harus menyelesaikan sebuah lintasan dari titik-titik kontrol dalam waktu sesingkat mungkin, hanya dibantu oleh peta dan kompas. Untuk itu diperlukan sebuah peta yang akurat, lengkap, jelas dan dapat diandalkan dalam sebuah pemilihan rute lintasan yang baik dan efektif. Olahraga ini dilakukan pada daerah yang belum dikenal sebelumnya, baik berupa alam bebas, pedesaan maupun perkotaan. Lebih dari sebuah olahraga biasa, orienteering memadukan berbagai aspek antara keselarasan berfikir, kecepatan, dan kekuatan fisik.

BIG-ISOC atau Badan Informasi Geospasial-Indonesian Student Orienteering Competition 2013 adalah salah satu bentuk dukungan BIG terhadap olah raga ini. Olah raga ini sangat memerlukan informasi geospasial yang detil, kecermatan, ketepatan dan kecepatan yang tinggiserta kecerdaan spasial yang tinggi pula. Untuk itu dalam menyosialisasikan informasi geospasial secara dini, maka diperlukan berbagai upaya di dalamnya, antara lain melalui BIG-ISOC 2013 ini.

Kegiatan yang diselenggarakan Student Asssociation of Remote Sensing and Geography Information System (STARGIS) Himpunan Mahasiswa Sekolah Vokasi Jurusan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI) dan didukung oleh BIG, dibuka resmi oleh Deputi Bidang Pemetaan Integrasi Tematik, Priyadi Kardono. Kegiatan yang mengambil tema "Let's Orient Your Speed" ini diikuti sekitar 120 peserta siswa siswi SMA/sederajat dan umum dari berbagai kota di Indonesia.

Pelaksanaan Pembangunan Nasional berkelanjutan tidak terlepas dari ketersediaan informasi berbasis keruangan yang akurat dan detil. Proses pembangunan akan selalu ketinggalan apabila tidak didukung dengan informasi geospasial yang benar, demikian juga peserta orienteering akan selalu kalah dalam kompetisi jika hanya didukung oleh peta (Informasi Geospasial) yang tidak akurat, demikian dikatakan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Asep Karsidi, yang dibacakan oleh Deputi Bidang Pemetaan Integrasi Tematik BIG, Priyadi Kardono, dalam sambutan pembukaan kegiatan BIG-ISOC 2013 yang diselenggarakan di Gelanggang Mahasiswa Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Bulaksumur Yogyakarta (Sabtu, 17 November 2013).

Selanjutnya Kepala BIG berpesan agar peserta tidak sekedar pandai menemukan jalur lintasan dan lokasi-lokasi yang telah ditentukan melalui cara membaca peta dengan benar, cepat dan akurat, sehingga seluruh peserta tidak kehilangan orientasi, namun para peserta harus mengenal pula setiap kenampakan medan seperti relief daratan, bebatuan, permukaan tanah dan lain-lain yang berguna dari sudut pandang navigasi.

Jenis Lomba pada BIG-ISOC 2013 adalah (1) Sprint Orienteering (Pelajar/SMA sederajat) yaitu tipe orienteering yang memungkinkan dilakukan di wilayah perkotaan. Kategori ini didasarkan pada kecepatan lari di wilayah-wilayah perkotaan seperti taman, jalan raya atau hutan-hutan yang dapat dilalui dengan berlari. Kategori ini dilaksanakan di Kampus UGM Bulak Sumur; dan (2) Middle Orienteering (Pelajar dan Umum) yang diselenggarakan di Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtriris, yaitu tipe orienteering dengan jarak menengah yang menekankan pada kemampuan teknis peserta. Kategori ini biasanya dilakukan di alam bebas dengan medan yang bervariasi topografinya. Let's Orient Your Speed : Salam O............