Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Indonesian Peat Prize: Inilah Finalisnya

Lahan gambut mengandung karbon yang menumpuk selama ribuan tahun, dan mencegah lepasnya karbon tersebut ke udara sangat penting bagi planet dan masyarakat lokal. Namun, kita hanya bisa melindungi dan mengelola lahan gambut secara lestari jika kita tahu dimana gambut tersebut berada dan kedalamannya. Oleh karena itu, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyelenggarakan sebuah kompetisi yang disebut Indonesian Peat Prize, suatu kompetisi yang ambisius dan kolaboratif untuk menemukan metode pemetaan lahan gambut yang paling akurat, cepat, dan terjangkau.

Hampir dua tahun telah berlalu sejak kompetisi ini diluncurkan. Lima finalis telah dipilih dan para finalis saat ini tengah menyempurnakan metode mereka untuk diserahkan kepada juri kompetisi. Mari pelajari lebih jauh kelima finalis Indonesian Peat Prize, metodologinya, dan mengapa mereka berkompetisi di Indonesian Peat Prize.

Tim 1: International Peat Mapping Team (IPMT): Remote Sensing Solutions GmbH (RSS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Universitas Sriwijaya

Tim ini percaya bahwa peta yang mengandung luas dan data kedalaman gambut secara akurat sangat penting untuk kehidupan dan lingkungan. Informasi lahan gambut yang akurat dapat digunakan sebagai landasan informasi berbagai kegiatan tata guna lahan, termasuk pertanian, perkebunan, dan kehutanan, sembari mematuhi peraturan pengelolaan lahan gambut. Metode pemetaan gambut yang diusulkan oleh tim ini adalah penggunaan Landsat dan Sentinel untuk menghasilkan data tutupan lahan dan citra satelit, dikombinasikan dengan model medan digital (DTM) dari radar menggunakan WorldDEM dan pengeboran gambut di lapangan untuk mengidentifikasi ketebalan gambut. "Kami berharap bisa mendukung pemerintah dalam mencari solusi atas masalah gambut di Indonesia."

Tim 2: PT. EXSA Internasional, Intermap Technologies Corporation, dan Forest Inform Pty Ltd.

PT EXSA Internasional, Intermap Technologies Corporation, dan Forest Inform Pty Ltd menciptakan kolaborasi unik dalam Indonesian Peat Prize. Tim menerapkan teknologi canggih dan pengalaman puluhan tahun dalam melakukan survei, memetakan, dan mendukung pengambilan keputusan di bidang tata guna lahan. Solusi tim untuk pemetaan gambut mengintegrasikan perbaikan metode pengambilan sampel tanah dengan inovasi pemetaan dijital berbasis Interferometric Synthetic Aperture Radar. “Kami sangat termotivasi oleh kesempatan untuk berkontribusi pada tujuan Indonesia dalam pengelolaan lahan gambut selama dan setelah partisipasi kami di Indonesian Peat Prize.”

Team 3: Deltares dan Institut Teknologi Bandung (ITB)

Deltares, sebuah lembaga independen nirlaba Belanda untuk penelitian terapan mengenai isu-isu pengelolaan lahan dan air, bersama dengan Institut Teknologi Bandung, berpartisipasi dalam kompetisi Indonesian Peat Prize. Tim ini menggunakan model medan digital yang berasal dari teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging), dikombinasikan dengan metode pengeboran untuk memetakan ketebalan gambut dan luas gambut. "Kami ingin mendukung Indonesia dalam penyediaan peta gambut yang baik untuk perencanaan tata guna lahan yang berkelanjutan dalam jangka pendek, serta dengan metode pemetaan dengan biaya yang terjangkau sehingga sumber daya dapat dialokasikan pada pengelolaan lahan gambut yang sesungguhnya."

Tim 4: DAG4Peat dan SKyTeam: Duke University, Stanford University, dan Universitas Tanjungpura

Kelompok universitas dari Indonesia dan Amerika Serikat ini bekerja sama dalam kompetisi Indonesian Peat Prize untuk menaklukkan rasa ingin tahu mereka. Sonia Silvestri dari Duke University menyatakan bahwa begitu mendengar tentang kompetisi Indonesian Peat Prize, Dr. Silvestri ingin memverifikasi gagasan untuk menggabungkan penginderaan jarak jauh dengan metode elektromagnetik di udara dan verifikasi di lapangan untuk memetakan lahan gambut. Sistem semacam ini akan dapat memetakan morfologi dan ketebalan gambut yang berbeda-beda. "Tim kami sangat gigih, yang mana sangat berguna untuk membantu kami mengatasi kesulitan sepanjang perjalanan kompetisi."

Tim 5: Applied Geosolutions, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Terdiri dari para ilmuwan yang terdorong untuk membuat dampak positif, tim ini menjawab seruan kompetisi Indonesian Peat Prize untuk memetakan gambut secara efektif dan efisien, yang akan memberi banyak manfaat bagi dunia. Bersama-sama, masing-masing institusi memainkan peran penting dalam menggabungkan citra satelit, pengamatan untuk menganalisis morfologi gambut, pemetaan LiDAR, dan pengukuran ketebalan lahan gambut. "Anggota tim kami telah bekerja sama di seluruh dunia selama lima tahun dalam isu kelestarian lingkungan dan sumber daya alam, dan kami membawa tim kami untuk mencoba mengatasi masalah pemetaan gambut, dengan harapan bahwa kami dapat memberikan solusi bagi perlindungan serta penggunaan dan pemanfaatan lahan gambut secara lestari, sementara pada saat yang sama belajar dari tim lain agar dapat menerapkan solusi terbaik bagi umat manusia."

Apa Langkah Berikutnya?

Pemenang Indonesian Peat Prize akan diumumkan pada tanggal 2 Februari 2018, bertepatan dengan Hari Lahan Basah Sedunia. BIG kemudian akan memimpin proses standardisasi metode pemenang dengan merevisi standar nasional untuk pemetaan lahan gambut dalam skala 1: 50.000. Metode ini juga akan memberi informasi bagi pemerintah, sektor swasta, dan peneliti untuk kebutuhan pengambilan kebijakan, termasuk restorasi lahan gambut.