Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Indonesia sebagai Poros Martitim Dunia dalam Acara Seminar MERCATOR UGM

Jogjakarta, Berita Geospaial, Seminar Nasional (biasa disingkat menjadi semnas) merupakan sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi (UGM) Universitas Gadjah Mada. Tujuan dari diadakannya seminar nasional ini adalah supaya masyarakat mengetahui lebih dalam mengenai isu yang sedang berkembang d Indonesia saat ini. Sasaran utama dari acara seminar nasional ini adalah masyarakat umum dan para peserta LOGIN (Lomba Geospasial Inovatif Nasional) dan JEJAK (Jelajah Jogjakarta) yang merupakan acara induk dari MERCATOR yang bertemakan “ Potensi Pengelolaan Sumber daya Maritim Indonesia “.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia. Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektifitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim.

Penegakkan kedaulatan wilayah laut NKRI, revitalisasi sektor-sektor ekonomi kelautan, penguatan dan pengembangan konektivitas maritim, rehabilitasi kerusakan lingkungan dan konservasi biodiversity, serta peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kelautan, merupakan program-program utama dalam pemerintahan Presiden Jokowi guna mewujudkan Indonesia sebagai proros maritim dunia.

Untuk menjadi sebuah negara maritim, maka infrastrukur antar pulau dan sepanjang pantai di setiap pulau merupakan hal yang harus dibangun dan dikembangkan. Jalan antarpulau ini harus benar-benar dapat direalisasikan untuk mempercepat transportasi antar pulau di Indonesia.

Dalam paparanya Narasumber dari BIG Mohammad Arif Syafii menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia mengingat Indonesia berada di daerah equator, antara dua benua Asia dan Australia, antara dua samudera Pasifik dan Hindia, serta negara-negara Asia Tenggara. Untuk dapat menjadi poros maritim dunia maka sistem pelabuhan di Indonesia harus dimodernisasi sesuai dengan standar internasional sehingga pelayanan dan akses di seluruh pelabuhan harus mengikuti prosedur internasional.

Potensi total nilai ekonomi dari 11 sektor kelautan Indonesia diperkirakan mencapai 1.3 Triliun Dollar AS (1.4 x PDB atau 7 x APBN 2016), mampu menyerap 45jt tenaga kerja (1/4 total angkatan kerja nasional). 11 Sektor kelautan dimaksud yaitu:

(1) perikanan tangkap,

 (2) perikanan budidaya,

(3) industri pengolahan hasil perikanan dan seafood,

(4) industri bioteknologi kelautan serta energi dan sumber daya mineral,

(5) pariwisata bahari,

(6) perhubungan laut,

(7) sumber daya wilayah pulau-pulau kecil,

(8) kehutanan pesisir (coastal forestry),

 (9) industri dan jasa maritim,

(10) serta sumber daya alam dan

(11) jasa-jasa lingkungan non konvensional.

Sebagian besar wilayah laut Indonesia belum tersurvei dan terpetakan secara memadai, sehingga menjadi penghambat  pemanfaatan potensi ekonomi di sektor kelautan dikarenakan tidak tersedianya data dan informasi geospasial secara memadai di masing2 sektor terkait.

Luas wilayah laut yang mencapai 77% dari Luas NKRI menjadikan sektor maritim memiliki nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi sehingga harus dikelola secara baik.

Kebijakan dan rencana aksi Kelautan Indonesia sdh tersedia (Perpres 16 thn 2017), namun untuk pelaksanaanya diperlukan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam penyelenggaraan program nasional bidang maritim agar pembangunan maritim dapat berjalan secara efektif dan efisien untuk mewujudkan visi ‘Indonesia sebagai Poros Martitim Dunia’.

Informasi Geospasial Maritim harus tersedia untuk mengetahui keberadaan dan lokasi potensi wilayah laut sehingga dapat dilakukan pengelolaan secara efektif dan efisien untuk digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam berabgai aspek kehidupan masyarakat, agar dapat memberikan manfaat ekonomi maupun manfaat social