Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

InaCORS (Satu Referensi Pemetaan Indonesia)

InaCORS adalah Continuously Operating Reference Station (CORS) yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial sebagai stasiun pengamatan geodetic tetap/kontinu. Berkembangnya CORS di Indonesia tidak lepas dari usaha Badan Informasi Geospasial (dahulu bernama Badan Koordinasi Survei dan
Pemetaan Nasional atau BAKOSURTANAL) untuk mendefinisikandan memelihara referensi geospasial yang menjadi acuan dalam kegiatan survei, pemetaan, serta penyelenggaraan IG lainnya. Penentuan datum geodetik tau referensi geospasial pertama kali dilakukan dengan metode jaring utama triangulasi menggunakan alat optik pada tahun1862 yang menghasilkan beberapa sistem datum yang tidak dapat disatukan dan memiliki ketelitian yang berbeda-beda. Pada tahun 1970-an, pendefinisian datum geodetik berkembang dengan memanfaatkan teknologi TRANSIT Navy Navigation Satellite System atau lebih dikenal dengan satelit Doppler untuk mengukur sejumlah jaring kontrol geodesi (JKG).

Pemanfaatan satelit Doppler menghasilkan koordinat JKG dalam satu sistem datum Indonesian Datum 1974 (ID74) yang mampu memenuhi kebutuhan pemetaan rupabumi skala 1:50.000 meskipun belum homogen dalam hal ketelitian. Untuk menjaga tingkat akurasi dan presisi dari kerangka dasar geodetik di seluruh wilayah Indonesia, maka digunakan teknologi Global Positioning System (GPS) dalam pengukuran JKG untuk mendefinisikan datum baru bernama Datum Geodetik Nasional 1995 (DGN95) yang menggantikan ID74. Pengamatan JKG secara periodic kemudian berkembang menjadi pengamatan secara terus menerus di beberapa titik sehingga terdapat stasiun pengamatan geodetik tetap/kontinu atau dikenal sebagai stasiun InaCORS. Stasiun InaCORS dimulai pada tahun 1996 dengan dibangunnya tiga CORS di Cibinong (BAKO), Sampali (SAMP), dan Parepare (PARE). Selain membantu pemeliharaan referensi pemetaan di Indonesia, CORS juga membantu berbagai kegiatan ilmiah maupun praktis di lapangan seperti survei geodinamika dan deformasi, studi ionosfer dan meteorologi, dan juga survei dan pemetaan berbasis real time.

Kejadian tsunami Aceh pada tahun 2004 ikut mendorong CORS di Indonesia berkembang pesat melalui pembangunan Indonesian Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Jaringan CORS diperluas sehingga pada tahun 2007 terdapat 16 stasiun CORS yang dikelola BIG. Pada tahun 2010 jaringan CORS yang dikelola BIG menjadi 106 stasiun yang terdiri atas 94 stasiun dibangun BIG secara mandiri dan 12 stasiun dibangun melalui kerjasama dengan pihak lain.

 

Untuk mengetahui lebih jelas apa itu InaCORS bisa di download disini