Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Geoliterasi untuk Negeri “ Mengenal NKRI dan Dunia melalui Atlas Taktual

Cibinong, Informasi Geospasial - Dalam rangka memperingati Hari Informasi Geospasial yang jatuh pada 17 Oktober 2018 nanti, Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas (PTRA) Bidang atlas dan Pemetaan sosial mengadakan acara Geoliterasi untuk anak Sekolah Luar Biasa (SLB) A Kabupaten Bogor. Acara ini dilaksanakan pada 16 Oktober 2018, bertempat di gedung F lantai 2 Kantor Badan Informasi Geospasial (BIG). Acara ini dihadiri oleh perwakilan guru-guru SLB dan wali murid dari sekolah tersebut.

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Atlas dan Pemetaan Sosial, Dra. Niendyawati, M.Sc, beliau menjelaskan mengenai tugas dan fungsi BIG secara keseluruhan. Badan Informasi Geospasial khususnya Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas/Bidang Atlas dan Pemetaan Sosial, telah bekerja sama sejak tahun 2009 dengan Yayasan Dria Manunggal Yogyakarta yang diketuai oleh Bapak Setya Adi Purwanto untuk membuat atlas tactual untuk tuna netra. Beliau juga mengenalkan produk baru dari PTRA yaitu atlas dunia. Menurut beliau, s aat ini perlu digalakkan untuk anak-anak mengenal peta agar lebih mencintai tanah air. Kecenderungan anak-anak sekarang lebih menyukai kekerasan dibanding belajar mencintai tanah air, hal ini dikarenakan juga karena teknologi yang dikenal sebagai internet melalui media sosialnya yang sangat berpengruh terhadap sikap anak-anak jaman sekarang. Beliau berharap pertemuan kali ini bisa membawa berkah untuk berbagi ilmu dengan mengenal lebih jauh atlas taktual dan lebih mencintai tanah air

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan sambutan Yayan perwakilan dari SLB negeri Mekarsari. Selain, dari Mekarsari, peserta juga berasal dari SLB Binasehjahtera, Tunas kasih dan Al Fajri di sekitaran Jawa Barat. Beliau menyampaikan terima kasih atas undangan kepada sekolah-sekolah SLB untuk mengenal atlas taktual dan atlas dunia. Beliau berharap dengan acara ini, semoga anak-anak kami bisa menerima pelajarannya dengan dukungan apa yang ada di peta. Beliau juga menyampaikan acara ini berguna sekali untuk guru-guru dalam membuat alat peraga misalnya peta menjadi lebih ringan. Untuk tuna netra biasanya para guru membuat dari bubuk kertas untuk alat peraga apapun. Dengan pertemuan ini, guru-guru bisa menambah ilmu dan belajar lagi mengenai peta. Beliau juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada BIG yang ke 49.

Proses pembuatan peta taktual memang memakan waktu lebih lama. Peta taktual merupakan peta yang dibuat khusus untuk penyandang tuna netra, berupa lembaran peta yang dicetak di media khusus dengan bentuk dibuat tonjolan-tonjolan dengan berbagai jenis simbol yang memberikan informasi tertentu.  Peta ini dibuat oleh BIG untuk mengakomodir para penyandang tuna netra untuk mengenal nusantara melalui peta. Peta taktual ini dibuat dalam berbagai tema. Satu tema bisa menjadi 3 buku, dikarenakan pembuatan per provinsi dan begitu luasnya Indonesia.  

Acara dilanjutkan dengan, pengarahan dari Fachrudin, sebagai korodinator untuk membaca peta taktual. Dimulai dengan berdoa dan bernyanyi. Siswa yang hadir diabsen dan terlihat beragam siswa/I yang datang mulai dari kelas 4 sampai dengan kelas 9. Anak-anak telihat bersemangat untun mengenal atlas taktual. Anak-anak dimulai dengan belajar melalui braile. Saat ini semua anak-anak hadir sudah mengetahui tentang braile. Peta taktual yang dibagikan bertema kan NKRI, dengan mengenal pulau-pulau besar yang ada di Indonesia yaitu pulau besar Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, NTB, NTT, Bali dan Papua.

Selanjutnya, Randhi Atiqi, menjelaskan fakta-fakta tentang Indonesia. Peta yang mereka pegang adalah peta yang sudah diperkecil. Ia menjelaskan luas laut Indonesia sebesar 6.400.000 km2. Luas daratan 1.900.000 km2, totalnya adalah  luas NKRI sebesar 8.300.000 km2. Pulau-pulau yang ada di Indonesia, memiliki garis pantai 108.000 km setara dengan 2,5 kali keliling dunia. Selain fakta itu, jumlah penduduk Indonesia berjumlah 250  juta orang menurut data sensus 2010. Suku bangsa berjumlah 1340 suku. Dengan ini anak-anak mengetahui bahwa Indonesia sangat luas.

Lalu dilanjutkan dengan pejelasan dari Satrio, yang menjelaskan tentang simbol-simbol peta. Anak-anak sangat antusias untuk mengetahui tentang peta, tetapi juga dengan mempelajari pentingnya tentang kartografi mengenai teknik membaca peta secara sistematis. Semoga dengan adanya geoliterasi ini, anak-anak menjadi cinta tanah air dan meningkatkan pengetahuan tentang informasi geospasial. (NN)