Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Dukung Berbagi Pakai IG Lewat Sertifikasi SDM IG

Manado, Berita Geospasial – Era keterbukaan menuntut tersedianya SDM di Bidang IG yang handal dan bersertifikat. Setidaknya dibutuhkan seikitar 27.500 SDM di Bidang IG untuk memenuhi kebutuhan. Jika tidak, Indonesia akan dimasuki oleh SDM dari negara tetangga yang sudah berlisensi. Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Standardisasi dan Kelembagaan Informasi Geospasial BIG Suprajaka dalam presentasi bertajuk “Sertifikasi SDM Bidang Informasi Geospasial (IG) Dalam Mendukung Berbagi Pakai IG” di Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu, 5 September 2018.

Menurut Suprajaka, kondisi simpul jaringan IG di tingkat daerah saat ini masih kalah dengan Singapura. “Padahal secara luas wilayah dan potensi SDA dan SDM, kita lebih. Makanya BIG menginisiasi dan berkoordinasi dengan K/L serta pemerintah di daerah agar menjadi simpul jaringan IG di daerah.  Dalam pelaksanaannya, BIG bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial (PPIDS) yang ada di Perguruan Tinggi di daerah,” katanya.

Sebaran SDM IG sekarang ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara pekerjaan IG banyak tersebar di luar Jawa. Oleh karena itu Suprajaka menegaskan harus dibuat strategi agar sebaran SDM IG bisa terdistribusi secara berimbang. Selain itu harus ada sertifikasi kompetensi supaya ada legal formalnya pengakuan keahlian.

Joudie N. Luntungan selaku Ketua Tim Pengelolala PPIDS Unsrat memaparkan peran PPIDS dalam penyelenggaraan IG Nasional. Joudie menyebutkan bahwa PPIDS adalah kepanjangan sebagai penyelenggara IG di daerah. “Mandat PPIDS adalah menjadi pusat unggulan pengkajian dan pengembangan infrastruktur data spasial,” tutur Joudie.

Dalam acara diseminasi tersebut hadir Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Prof. Robert Molenaar. Di hadapan sekitar 130 peserta yang merupakan dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Unsrat ini, Prof. Robert mengajak para akademisi kampus khususnya mahasiswa yang merupakan generasi penerus untuk proaktif dalam memanfaatkan dengan baik perkembangan teknologi, di antaranya teknologi Informasi Geospasial, terutama di era revolusi industri 4.0.

“Semoga acara ini bisa dimanfaatkan secara optimal oleh adik-adik mahasiswa. BIG ini wilayah kerjanya sangat luas. Oleh karena itu perlu bantuan SDM di daerah untuk membantu mendukung pengelolaan IG di daerah. Di Unsrat ini sudah ada PPIDS untuk mendukung hal itu,” tutur Robert.

Anggota Komisi VII DPR RI Bara K. Hasibuan Walewangko yang juga hadir dalam acara tersebut mengungkapkan kegiatan diseminasi ini merupakan bentuk pelayanan untuk rakyat. “Komisi VII mengurusi masalah energi dan sumber daya mineral, lingkungan hidup, serta riset dan teknologi dan lingkungan hidup. Di antara Kementerian dan Lembaga yang termasuk di dalamnya yang menjadi mitra kerja adalah BIG yang dalam kerjanya adalah menyelenggarakan IG,” ungkapnya.

Bara menambahkan bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin di masa depan, di Abad 21 yang mana merupakan zaman revolusi industri. Menurutnya, hal ini harus dimanfaatkan secara optimal karena dunia sekarang semakin borderless. “Kejadian di luar negeri bisa dengan cepat diketahui. Akibatnya persaingan semakin kompetitif. Karena itu kita harus punya literasi dan kemampuan dalam penguasaan teknologi. Karena itu, riset dan teknologi sangat didorong untuk terus berkembang,” tuturnya.

Lebih lanjut Bara menjelaskan bahwa total anggaran negara untuk dana ristek hanya 0,02% dari APBN negara. BIG dengan segala keterbatasan dana, tetap optimal dalam risetnya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. “Pertanian jika ingin maju maka harus memanfaatkan teknologi. Di antaranya pemetaan lahan pertanian. Maka cermati penjelasan dari BIG untuk nantinya dimanfaatkan di Sulawesi Utara,” jelas Bara. (ATM/NUR)