Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Daerah Terdampak Banjir dan Longsor 5 Desa di Kintamani-Bali Berhasil Dipetakan Secara Cepat oleh BIG

Pemetaan Cepat di Wilayah Bencana

Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli0                            

13-18 Februari 2016 SRC-BIG

Satuan Reaksi Cepat Badan Informasi Geospasial (SRC BIG) per tanggal 12/2/17 telah diterjunkan di 5 desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali untuk melakukan pemetaan cepat bencana banjir dan longsor di wilayah tersebut. Kelima desa tersebut adalah Desa Songan A, Songan B, Yeh Mampeh, Sukawana, dan Awan. Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk membantu penyediaan data dan informasi geospasial bagi para pemangku kepentingan di bidang kebencanaan dan perencanaan untuk penanganan selanjutnya, antara lain tahap rehabilitasi-rekonstruksi.

Sebelum melakukan pemetaan, SRC BIG telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (PPPE) Bali dan Nusa Tenggara.  Pemetaan cepat dilakukan pada tanggal 14-16 Februari 2017 dengan pesawat udara nirawak tipe baling-baling. Pesawat jenis ini dipilih karena mudah dioperasikan, khususnya pesawat tidak membutuhkan lokasi yang terlalu luas untuk lepas landas sehingga dapat diterbangkan di medan apapun.

Penyebab terjadinya bencana di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali diperkirakan karena terjadinya peningkatan curah hujan yang terjadi secara signifikan mencapai 293mm/hari (8/2) dan 155mm/hari (9/2) berdasarkan data dari Tim Analisis Stasiun Klimatologi Jembrana Bali. Selain itu, bencana juga dipicu karena wilayah di Kecamatan Kintamani didominasi kelas kemiringan lereng agak curam sampai sangat curam. Solum tanah yang tipis dan lapisan batuan vulkanik muda yang kedap air (impermeable) semakin meningkatkan potensi terjadinya bencana yang mungkin terjadi.

Pemetaan pertama dilakukan di Banjar Bantas, Desa Songan B. Bencana di titik ini termasuk dalam kategori bencana longsor dengan jumlah korban jiwa 7 orang dan 5 rumah rusak berat. Kejadian longsor terjadi pada tanggal 10 Februari 2017 01:00 WITA. Selain disebabkan curah hujan yang tinggi di dua hari sebelumnya, secara topografi, lokasi ini berada pada kelas lereng sangat curam (>40%). Hal ini diperparah dengan tutupan lahan di sekitar lokasi longsor berupa pertanian musiman seperti bawang dan tomat. Akar tanaman musiman yang umumnya adalah serabut sehingga kurang maksimal dalam mencegah erosi. Akibatnya, volume tanah yang mengalami transportasi akan semakin besar dan meningkatkan beban di atas bidang gelincir.Berdasarkan hasil interpretasi citra foto udara, kejadian longsor dipengaruhi oleh struktur jalan yang berkelok dan curam. Jalan yang berkelok menyebabkan kemungkinan aliran permukaan dari air hujan akan terpusat pada titik tertentu. Kondisi jalan yang curam menyebabkan volume air yang terkumpul cukup banyak dalam waktu yang singkat. Selanjutnya, aliran permukaan akan meresap ke dalam tanah dan mempengaruhi bidang gelincir. Jenuhnya tanah oleh air akan menyebabkan kestabilan tanah terganggu (dipadukan dengan faktor kemiringan lereng) dan menyebabkan terjadinya longsor.

Unduh Peta

Lokasi pemotretan udara daerah terdampak bencana kedua terletak di Desa Songan A Kecamatan Kintamani. Secara morfologi daerah ini merupakan dataran banjir dan delta dengan kelas kemiringan lereng termasuk datar (0-8%), dan merupakan daerah muara sungai di sebelah utara Danau Batur. Penggunaan lahannya terutama untuk pertanian dan permukiman. Bencana yang melanda lokasi pemotretan udara kedua berupa banjir bandang. Dalam waktu yang bersamaan dengan kejadian longsor di Desa Songan B, air beserta material tanah dan vegetasi dalam debit yang besar menyapu daerah terdampak ini. Air beserta material tersebut merupakan berasal dari salah satu daerah tangkapan air (DTA) air Danau Batur melalui sungai intermiten. DTA dengan luas 1.814,6 ha ini meliputi sebagian desa-desa Sukawana, Belandingan dan Pinggan. Besarnya debit air ini selain akibat curah hujan intensitas tinggi dan durasi yang lama, juga disebabkan oleh penggunaan lahan pertanian semusim, dan sebagian menggunakan plastik/mulsa yang meningkatkan jumlah aliran permukaan. Kerugian yang diakibatkan terutama kerusakan lahan pertanian disekitar sungai, namun tidak ada korban jiwa maupun rumah yang rusak berat.

Unduh Peta

Pemetaan ketiga juga masih ada di Desa Songan A namun berada di area yang terpisah. Setidaknya ada 12 rumah terendam dan tertimbun material dengan kedalaman sekitar 60cm. Lahan perkebunan tomat, labu siam, bunga kenikir, dan bawang merah juga ikut terendam material. Kondisi jalan lokal yang menghubungkan permukiman juga mengalami kerusakan sehingga mengganggu mobilitas warga, khususnya untuk aktivitas pertanian. Banjir bandang yang ada di Desa Songan A disebabkan karena alih fungsi penggunaan lahan yang ada di wilayah hulunya. Kebanyakan penggunaan lahan yang ada di hulu Desa Songan A adalah kawasan pertanian tanaman semusim. Diperkirakan erosi yang terjadi akan meningkat secara signifikan karena akar serabut yang kurang baik untuk menahan erosi. Selain itu, teknik penanaman tanaman yang tegak lurus dengan garis kontur akan memperbesar erosi yang terjadi. Penggunaan mulsa juga meningkatkan jumlah air limpasan sehingga pada saat terjadi hujan yang lebat akan memicu terjadinya longsor, disertai air dan material yang merendam rumah warga.

Unduh Peta

Desa Yeh Mampeh juga marupakan kawasan terdampak bencana yang dipetakan. Bencana yang terjadi di Yeh Mampeh adalah banjir bandang. Pemotretan di daerah terdampak di lakukan dua kali karena areal cover yang luas. Banjir bandang yang melanda Desa Yeh Mampeh berdasarkan interpretasi foto udara hasil pemotretan terjadi akibat limpasan aliran permukaan dan material erosi dari bagian hulu yang berada di atas tebing dengan tinggi + 200m. limpasan material mengalir melewati drainase kawasan pertanian. Oleh karena karena kapasitas drainase tidak mampu menampung derasnya debit aliran, menyebabkan limpasan material meluap hingga lahan pertanian dan permukiman. Lahan pertanian yang terdampak banjir bandang berupa tanaman holtikultura seperti labu siam, bunga kenikir, tomat, kubis dan cabai. Kemudian material banjir juga mengakibatkan 32 rumah penduduk sebagian terendam air dan tertimbun tanah + 60 cm. Kondisi demikian menyebabkan penduduk harus diungsikan. Beberapa titik di desa Yah Mampeh merupakan lokasi penambangan pasir. Sehingga memicu penggerusan lahan yang merusak infrastruktur jalan serta lahan pertanian. Secara topografis, Desa Yeh Mampeh berada di antara kubah volcano Gunung Batur Muda yang berada di sebelah timur, dengan dinding kaldera Gunung Batur purba di sebelah barat dan padang lava di sebelah selatan sehingga menyebabkan daerah ini menjadi areal genangan air apabila terjadi banjir dari bagian hulu nya. Kondisi topografi yang demikian menjadi pertimbangan relokasi permukiamn warga Desa Yeh Mampeh.

Unduh Peta

Pemetaan selanjutnya dilakukan di Desa Sukawana. Desa Sukawana memiliki curah hujan yang tinggi karena berada di daerah tertingi di Kecamatan Kintamani. Kemiringan lereng Desa SUkawana juga beragam, dari agak curam hingga sangat curam. Selain itu, kerentanan gerakan tanah juga termasuk dalam kategori menengah hingga tinggi. Hal demikian yang menyebabkan Sukawana sangat berpotensi terjadi longsor. Bencana longsor di Desa Sukawana terjadi pada tanggal 10 Februari 2017, dini hari. Longsor terjadi akibat curah hujan dengan intensitas yang tinggi dengan durasi yang lama dalam beberapa hari terakhir. Untuk menuju lokasi longsor, diperlukan waktu yang cukup lama, karena lokasi longsor berada di dasar lembah. Beberapa ruas jalan juga terputus akibat longsoran. Longsor menyebabkan satu orang meninggal, tiga rumah rusak berat dan kerusakan lahan perkebunan seperti jeruk dan kopi.

Unduh Peta

Lokasi pemetaan terakhir adalah Desa Awan. Desa Awan berjarak 9 KM dari Desa Sukawana, desa sebelumnya yang menjadi lokasi pemotretan. Di Desa Awan terdapat dua titik longsor yang dapat dipetakan oleh tim SRC. Lokasi titik pertama yaitu longsor yang terjadi di areal perkebunan jeruk, yang juga merupakan tutupan lahan dominan di Desa Awan. Kemudian titik kedua, longsor terjadi di areal permukiman warga. Berdasarkan interpretasi foto udara hasil pemotretan, titik longsor pertama yang berada di areal perkebunan jeruk disebabkan oleh tingkat kemiringan lereng termasuk curam, selain itu intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir mengguyur Desa Awan menyebabkan tanah yang berada pada lereng jenuh, dan mengalami longsor. Intepretasi titik kedua, longsor disebabkan oleh adanya konsentrasi aliran permukaan yang dipengaruhi oleh lahan terbangun berupa jalan paving dan aspal pada kondisi lereng yang cukup curam. Air permukaan akibat curah hujan yang tinggi, mengalir mengikuti ruas jalan hingga berkumpul di tanah lapang, yang berada diatas titik longsor ke dua. Air yang terkumpul kemudian meresap melalui pondasi pekarangan. Aliran air menggerus fondasi hingga menyebabkan fondasi roboh dan menimpa rumah yang berada di bawahnya. Lokasi titik pertama tidak menimbulkan korban, hanya terjadi kerusakan di areal perkebunan jeruk. Untuk titik kedua, longsor menyebabkan empat orang meninggal dan satu rumah rusak.

Unduh Peta

Selain faktor topografi dan iklim, salah satu hal yang memicu terjadinya bencana adalah faktor antropogenic (aktifitas manusia). Dari ketiga faktor tersebut, faktor antropogenic merupakan faktor yang dapat dikendalikan untuk mengurangi resiko bencana. Hal ini mendorong perlunya peningkatan kesadaran masyarakat akan bencana alam. Selain itu, seluruh pemangku kepentingan terkait kebencanaan dan lingkungan hidup perlu bersinergi agar resiko bencana dapat diminimalisir.