Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Selenggarakan Diklat Penulisan Ilmiah Populer dan Diklat Pemetaan Tata Ruang

Cibinong, Berita Geospasial BIG - Belajar menjadi suatu keharusan bagi setiap insan yang ingin maju dan berkembang, termasuk diantaranya adalah belajar segala sesuatu tentang informasi geospasial. BIG mewadahi siapa saja baik dari dalam maupun luar BIG untuk mengembangkan kualitas diri terutama dalam bidang informasi geospasial melalui berbagai jenis pendidikan dan latihan. Adalah Senin 27 April 2015, Balai Diklat Geospasial BIG memulai penyelenggaraan diklat dengan pembukaan yang dilaksanakan di Balai Diklat Geospasial BIG di Cibinong. Diklat yang diselenggarakan adalah Diklat Penulisan Ilmiah Populer dan Diklat Pemetaan Tata Ruang.

Acara pembukaan diawali dengan laporan Kepala Balai Diklat Geospasial BIG, Yovita Ani Istiati.  Dilaporkan oleh Yovita bahwa Diklat Penulisan Ilmiah Populer yang akan diikuti oleh 24 peserta, semuanya adalah pegawai BIG perwakilan dari pusat-pusat di BIG yang diadakan mulai 27 sampai 30 April 2015. Sementara Diklat Pemetaan Tata Ruang yang diadakan mulai 27 April 2015 sampai 1 Mei 2015 dengan peserta 21 orang berasal dari Pegawai Kelurahan dan Kecamatan di Kota Bontang, Kalimantan Timur.  Diklat yang berlangsung secara bersamaan ini akan dibagi ke dalam dua kelas sesuai dengan jenis diklatnya.

Selanjutnya, Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama (PPKS) BIG, Wiwin Ambarwulan, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Diklat Penulisan Ilmiah Populer targetnya adalah peserta diklat bisa membuat tulisan ilmiah yang populer untuk dimuat di media massa. Tulisan ilmiah harus dibuat populer, supaya bisa dipahami masyarakat umum dari berbagai tingkat keilmuan dan kalangan. Ditambahkan bahwa tulisan ilmiah populer dari berbagai kegiatan survei lapangan dari pusat-pusat teknis di BIG bisa dikirim supaya dimuat di website BIG dan media massa. Terkait Diklat Pemetaan Tata Ruang, Wiwin Ambarwulan mengatakan bahwa sampai sekarang, belum semua kabupaten/kota menyusun pemetaan tata ruang. Padahal Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2007 mengamanatkan tentang hal itu. Peta tata ruang adalah peta tingkat tinggi karena harus menggunakan Peta Rupabumi Indonesia (RBI) dan peta tematik yang banyak, bisa mencapai 21 tema.

Untuk Diklat Penulisan Ilmiah Populer, pengajarnya dari Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek). Pada sambutannya, Edi Kuscahyanto, Pengajar sekaligus Ketua Rombongan dari Mapiptek, mengatakan bahwa virus menulis tentang iptek harus berjangkit di masyarakat, terutama masyarakat terdidik. Menulis itu mudah dan mengasyikkan. Hasil tulisannya harus diubah supaya lebih populer. "Kita bisa menulis hasil penemuan kita supaya bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Mengubah tulisan ilmiah menjadi tulisan populer ibarat memecah mutiara dalam kerang yang harus digosok supaya nampak keindahannya.", tambahnya.

Sementara itu, Asisten Administrasi Kota Bontang, M. Bakri, dalam sambutannya mengatakan bahwa Pemkot Bontang sudah berkali-kali bekerja sama dengan BIG. Peningkatan sumber daya manusia (SDM) di bidang Informasi Geospasial (IG) tentang tata ruang menjadi hal yang utama. Diharapkan, para peserta Diklat Pemetaan Tata Ruang yang semuanya dari Kota Bontang ini bisa mengaplikasikan hasil diklat ini berupa pelayanan kepada masyarakat. Bontang adalah miniatur Indonesia karena menjadi cluster industri di luar Pulau Jawa. "Permasalahan terkait industri dan tanah sangat komplek mengingat sekitar 70% wilayahnya berupa laut. Sisanya sekitar 30% wilayah darat untuk pembangunan. Dari semuanya itu, sekitar 17% wilayah harus diatur tata ruangnya", imbuh Bakri.

Banyak Pemerintah Daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota yang datang ke Kantor BIG, untuk berkonsultasi tentang tata ruang.  Sayangnya, banyak dari mereka jikapun ada petanya, dalam bentuk "jpg", format ini tidak bisa dilakukan analisis lebih lanjut. Untuk itu BIG mengharuskan file yang diverifikasi dalam bentuk "shp" agar bisa dilakukan berbagai analisis untuk penyusunan tata ruang. Sejatinya, Pemetaan Tata Ruang untuk tingkat kelurahan, harus menggunakan peta dasar (peta RBI) skala 1:5.000. Sementara kabupaten skala 1:25.000. "Kita harus menyediakan peta skala besar skala 1:5.000 sampai cakupan desa untuk mendukung Nawacita Pemerintahan sekarang, yaitu membangun dari timur dan dari pinggir", ungkap Wiwin Ambarwulan.

Acara pembukaan dilanjutkan dengan penyematan tanda peserta secara simbolik kepada perwakilan kedua jenis diklat ini oleh Wiwin Ambarwulan dan M. Bakri. Sebelum diklat dimulai, maka semua peserta dan pengajar berfoto bersama sesuai kelasnya masing-masing untuk mengabadikan momen berharga ini. (ATM/LR/TR)