Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Mendapat Kunjungan Tim Gugus Tugas Katam Balitbang Kementerian Pertanian

Cibinong, Berita Geospasial BIG - Menjadi Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) penyelenggara IG di Indonesia menjadikan BIG semakin di depan. Konsekuensinya, BIG sering didatangi pihak baik Kementerian/Lembaga (K/L), perguruan tinggi/sekolah, swasta maupun perorangan yang ingin mengenal lebih jauh BIG. Dengan tangan terbuka, BIG senantiasa menerima. Hal ini dilakukan dalam rangka mensosiasisasikan apa itu BIG dan sejauh mana informasi geospasial dapat mendukung dalam pembangunan di Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut pada Rabu 10 Juni 2015, BIG mendapat kunjungan dari Balitbang Kementerian Pertanian RI yang berasal dari Tim Gugus Tugas (TGT) Katam dari seluruh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di 34 provinsi Indonesia yang berjumlah sekitar 65 orang. Rombongan diterima langsung oleh Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama (PPKS) BIG, Wiwin Ambarwulan dan Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama BIG, Sri Lestari Munajati di Aula Utama BIG  di Cibinong.

Para TGT Katam ini mengadakan kunjungan lapangan ke BIG dalam rangkaian pelatihannya selama seminggu di Kampus Pertanian Cimanggu Bogor.  Meraka ingin mendapatkan informasi geospasial terbaru untuk mendukungnya dalam menentukan kalender tanam (katam) yang selalu diperbarui setiap tahun dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini. Karena  perubahan iklim yang terjadi saat ini merupakan keniscayaan yang dipicu oleh aktivitas manusia yang menghasilkan energi Gas Rumah Kaca (GRK). Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, dinilai rentan terhadap perubahan iklim. Untuk itu perlu dibuat sebuah terobosan dalam mengatasi hal ini, salah satunya dengan penyusunan Kalender Tanam (Katam). Katam berupa peta yang menggambarkan potensi pola dan waktu tanam tanaman pangan (padi dan palawija) berdasarkan potensi dan dinamika sumberdaya iklim serta ketersediaan air, atau peta yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang awal tanam & tutup tanam, Indeks Pertanaman (IP), pola tanam, potensi luas areal tanam dan rekomendasi teknologi tanaman pangan pada lahan sawah berdasarkan variabilitas dan perubahan iklim serta sifat tanah.

Kepala Pusat PPKS Wiwin Ambarwulan pada sambutannya menyatakan bahwa BIG adalah mempunyai tugas pemerintahan di bidang Informasi Geospasial (IG). Semoga rombongan dari Balitbangtan seluruh Indonesia ini mendapatkan manfaatnya. Apalagi, rombongan ini membuat kalender tangan terpadu. Penggunaan dan optimalisasi data prakiraan cuaca dan kondisi meteorologi serta geofisika diolah sedemikian rupa hingga mampu menghasilkan informasi yang bisa dipergunakan oleh masyarakat. Hal ini tentu penting dalam menghadapi dan mengantisipasi berbagai kondisi terutama untuk pertanian. Kemajuan informasi untuk bidang pertanian di Indonesia tentunya secara langsung maupun tidak langsung akan ikut andil dalam kemajuan pembangunan. Indonesia yang memiliki potensi pertanian sangat besar memerlukan berbagai perangkat untuk membangun sektor ini. Apabila dikolaborasikan dengan IG, hasilnya akan lebih optimal.

Sementara itu, pimpinan rombongan Balitbangtan, Haryono mengutarakan bahwa kunjungan Balitbangtan ke BIG adalah ingin mengenal lebih jauh tentang apa itu BIG. Apalagi, rombongan ini sedang mengikuti pelatihan kalender tanam terpadu. Pastinya, banyak terkait dengan IG. Acara dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata dari kedua pihak. Dari BIG, diserahkan terutama Buku NKRI dari Masa ke Masa. Buku ini memuat sejarah NKRI dengan luas dan segala macamya dari jaman kolonial, awal merdeka, setelah Deklarasi Djuanda sampai tahun 2011, ketika pemerintah Indonesia berhasil menambah luas wilayah laut di Barat Daya Pulau Sumatera seluas 4.209 km².

Acara kunjungan dilanjutkan dengan presentasi profil BIG mulai dari sejarah dan yang lainnya terkait BIG oleh Wiwin Ambarwulan. BIG menjadi tulang punggung dalam mewujudkan tujuan UU No 4 Tahun 2011 tentang IG untuk  mewujudkan penyelenggaraan IG yang berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif) melalui kerja sama, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi.Disampaikan juga oleh Wiwin tentang perubahan Bakosurtanal menjadi BIG dengan berbagai tugas fungsinya, berbagai informasi geospasial yang sudah dihasilkan oleh BIG dan tentang keterbukaan informasi publik dengan digratiskannya Informasi Geospasial Dasar (IGD) sehingga menjadi milik publik.

Sementara itu, Elyta Widyaningrum dari Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT) menjelaskan tentang tahapan-tahapan pembuatan peta dasar, mulai dari penyediaan data dasar, daerah yang mau dipetakan, pengambilan data sampai jadi peta dasar. Berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2011, peta dasar yang diselenggarakan adalah sampai skala 1:1.000. Jelas, ini merupakan pekerjaan besar karena butuh banyak waktu, tenaga dan dana tentunya yang sangat besar dan banyak. Lebih jauh, Elyta menjelaskan tentang capaian-capaian yang telah dilakukan BIG dalam penyediaan IG dasarnya serta rencana tahun 2015.

Secara geografis, Indonesia terletak ring of fire dengan berbagai potensi-potensi bencana seperti gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kebakaran hutan lain sebagainya. Notabene, proses pembangunan yang dilakukan pun tidak ramah lingkungan. Walhasil, lingkungan banyak berubah akibat emisi karbon yang berlebih. Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan banyak pihak lain dilakukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim, dianggap tak efektif. Dampak perubahan iklim terus terjadi. Oleh karena itu, Kusumo Widodo Kepala Bidang Kebencanaan dan Perubahan Iklim BIG, dalam presentasinya menjelaskan bahwa BIG berpartisipasi dengan menyediakan peta dasar dan tematiknya dalam menghadapi perubahan iklim.

Kesemua informasi geospasial tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, maka perlu dibagipakaikan.  Hal ini dijelaskan oleh Ari Sutanta dari Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial (PPIG) dalam presentasinya menjelaskan bahwa Ina-Geoportal berisi jaringan informasi geospasial dari beberapa instansi yang memiliki data geospasial dan diintegrasikan menjadi satu portal. Dalam Ina-Geoportal akan menghubungkan informasi geospasial dari  57 Kementerian/Lembaga (K/L), 34 provinsi, dan 500 kabupaten dan kota. Baru sebagian kecil saja instansi, propinsi, kabupaten yang terintegrasi dalam Ina-Geoportal, hal ini membutuhkan usaha dan kerja keras berbagai pihak dalam mewujudkannya. Ina-Geoportal dapat diakses pada laman http://tanahair.indonesia.go.id. Kementerian Pertanian termasuk Balitbangtan telah menjadi simpul jaringan dalam Ina-Geoportal sehingga informasi geospasial bidang pertanian bisa dikolaborasikan dalam peta dasar.

Rangkaian acara kunjungan dari Balitbang Pertanian ini dilanjutkan dengan kunjungan ke Data Center dan Sentra Peta BIG. Semoga dengan ada kunjungan ini, semakin banyak pihak yang tersadarkan akan pentingnya IG untuk segala macam proses pembangunan. Harapannya, setiap tahapan pembangunan di segala bidang termasuk pertanian akan efektif dan efisien. Hasilnya, untuk Indonesia yang lebih baik, dengan IG tentunya. (ATM/TR)