Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Lakukan GCP di Wilayah Bogor, Sukabumi dan Banten

Bogor, Berita Geospasial BIG - Untuk menghasilkan data dan Informasi Geospasial (IG) berupa peta yang akurat, dibutuhkan titik acuan atau metode yang tepat agar data yang dihasilkan sesuai dengan kondisi di lapangan. Titik kontrol tanah atau Ground Control Point (GCP) ini digunakan sebagai metode untuk melakukan koreksi geometri pada citra. Pada tanggal 29 Mei - 4 Juni 2016, Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai penyelenggara utama data dan IG Dasar di Indonesia melaksanakan survei GCP untuk wilayah Kabupaten Bogor serta wilayah perbatasan Kabupaten Bogor.

Survei GCP ini merupakan implementasi dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau MOU yang telah terlaksana antara BIG dengan Pemerintah Kabupaten Bogor, terutama terkait percepatan pengadaan lahan baku sawah di Kabupaten Bogor. Terutama mengingat ketersediaan peta skala besar untuk perencanaan pada pemerintah daerah sangat diperlukan untuk percepatan pembangunan. Perencanaan dengan peta skala besar sangat memerluan akurasi posisi yang tepat karena membutuhan kedetilan yang tinggi, misalnya : ketepatan pengukuran persil/bangunan, pemetaan lahan baku sawah dan penempatan penataan kawasan pemukiman, pendidikan, komersial dan lainnya. Untuk percepatan penyediaan data dan IG skala besar yang merupakan perwujudan Kebijakan Satu Peta (KSP), BIG terus melakukan kegiatan penyediaan data dan IG  skala besar melalui data CSRT (Citra Satelit Resolusi Tinggi).

Dalam kesempatan ini Kabupaten Bogor menggandeng BIG untuk memetakan wilayah bogor dengan skala besar. Survei GCP diperlukan terutama untuk melakukan koreksi geometris pada CSRT yang telah ada. Koreksi Geometri pada CSRT dapat dilakukan dengan metode pengukuran dengan alat bantu GPS (Global Positioning System) Geodetic dan pengambilan lokasi atau titik di lapangan.

Pada survei GCP ini BIG melakukan penentuan GCP di wilayah Kabupaten Bogor, serta wilayah perbatasan kabupaten Bogor, yaitu : wilayah Kabupaten Sukabumi, serta perbatasan Bogor dengan Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Survei GCP di wilayah ini mencakup 85 titik GCP. Survey GCP melibatkan 6 Tim yang terdiri dari 2 orang yang nantinya disebar pada 6 jalur atau sebaran titik GCP, yaitu : Tim Merah, Biru, Kuning, Biru Tosca, Hijau Tosca, Magenta. Tim melibatkan personil dari pusat-pusat yang ada di lingkungan BIG, diantaranya : Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT), Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika (PJKGG), dan Pusat Penelitian, Promosi dan Kerjasama (PPPKS) BIG.  Pengambilan data GCP memakan waktu sekitar ± 45 menit setiap titiknya dikarenakan selain menggunakan GPS, surveyor juga menverifikasi lintang, bujur, ketinggian dan posisi relatif terhadap elemen foto yang diidentifikasi seperti trotoar, beton dan bangunan.

Adapun basecamp tim dibagai dalam 2 lokasi yaitu : Kota Sukabumi dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan survei pada hari Pertama (H1) dimulai di wilayah Sukabumi, sementara untuk H2-H3 dilaksanakan di Kabupaten Bogor, dan selanjutnya di wilayah Kabupaten Tangerang Selatan, dan Rangkas Bitung Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Pada Kabupaten Bogor survei GCP meliputi wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak, perkebunan teh, serta di sekitar kaki Gunung Salak. Sedangkan pada wilayah Sukabumi meliputi wilayah Pelabuhan Ratu. Pada H4-H5 BIG mengirimkan satu tim lagi untuk membantu tim-tim yang sebelumnya. Tujuannya penambahan tim ini ialah mengambil data titik-titik yang masih belum terambil oleh tim yang sebelumnya sehingga pada akhirnya bisa tercapat 85 titik GCPKegiatan survei ini penting terutama untuk menghasilkan data yang akurat, sehingga nantinya bisa digunakan sebagai alat dukung dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan. (YI/LR/HA)