Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Ikuti PIT IABI 2017 Guna Penanggulangan Efektif Terhadap Bencana

Berita Geospasial, Depok - Indonesia adalah negara luas dengan potensi bencana yang tinggi. Negara kepulauan ini kerap kali mengalami bencana alam yang menyebabkan kerugian moril dan material. Banyaknya korban dari bencana mencetuskan berbagai cara untuk penanggulangan serta pengurangan resiko bencana. Pemerintah bekerja sama dengan organisasi-organisasi sosial tanggap bencana demi mengurangi resiko dari tingginya potensi bencana di Indonesia. Salah satunya adalah Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) yang menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kegiatan tahun ini dilaksanakan 8-10 Mei 2017 di Universitas Indonesia. Pertemuan tahunan kali ini bertema Peran Masyarakat Bagi Pencapaian SDGs: Kontribusi Pemangku Kepentingan untuk Penurunan Resiko Bencana. Dimana pada kegiatan ini dilaksanakan pula pameran IABI, yang mana Badan Informasi Geospasial (BIG) turut memberikan sumbangsihnya dengan mengikuti pameran tersebut untuk mengenalkan lebih jauh bagaimana pemanfaatan Informasi Geospasial (IG) dalam penanggulangan bencana di Indonesia.

Acara PIT ini sendiri dihadiri tidak hanya Kementerian/Lembaga (K/L) Pemerintah, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla juga turut menghadiri. Jusuf Kalla membuka rangkaian acara dengan sambutan dan peluncuran buku Khutbah Pengurangan Resiko Bencana. Dalam Pidatonya, Jusuf Kalla mengatakan, “Bencana dibagi menjadi tiga, pertama bencana alam seperti gempa, tsunami, banjir, kekeringan, dan sebagainya. Ada juga bencana karena ulah manusia. Konflik, itu yang paling banyak, karena konflik menyebabkan orang bakar membakar. Kemudian bencana alam yang disebabkan karena ulah manusia. Banjir juga bisa disebabkan karena pohon-pohon pada ditebang. Hal ini kan banyak menyebabkan banjir atau tanah longsor. Jadi itulah penyebabnya. Selalu”, ujar Jusuf Kalla.

Menurutnya, resiko bencana bisa diturunkan. Hal ini bisa dilihat dari 4 aspek, dari Apa “What”, Di mana “Where”, Kenapa “Why”, dan Bagaimana “How”. Terjawablah pertanyaan ini, “apa yang terjadi?” dan dari hal ini bisa dianalisa. “Bencana gempa itu, sebenarnya hanya mengalami kerusakan. Namun yang membunuh itu adalah bangunan yang runtuh, atau jalan yang terbelah. Nah tapi tsunami, maka yang pilihan yang ada adalah hidup atau mati karena tenggelam pasti mati. Nah oleh karena itu, studi soal kebencanaan inilah yang perlu,” demikian disampaikan Wapres yang akrab dipanggil JK.

BIG sebagai Lembaga Pemerintah non Kementerian mengikuti kegiatan Pameran IABI ini memiliki peran dalam pemetaan area bencana. Selain mengisi booth Pameran, BIG mengeluarkan data ilmiah salah satunya mengenai posisi tektonik dan ancaman bencana geologi di Provinsi Sulawesi Tengah serta peran pemangku kepentingan terhadap penurunan tingkat risiko bencana. Data tektonik ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bencana geologi di Sulawesi Tengah memperhitungnkan resiko yang akan terjadi serta memberi masukan kepada pemangku kepentingan di daerah dalam upaya mengurangi resiko bencana.

Data menyebutkan Pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Tengah termasuk daerah teraktif di Indonesia dan mempunyain fenomena geologi yang kompleks dan rumit. Dari fenomena itu, kawasan Pulau Sulawesi terdapat beberapa daerah rawan bencana terutama masalah gempa. Kota Palu tercatat sebagai daerah rawan gempa karena memiliki aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia. Penyebabnya karena Kota Palu terdapat patahan kerak bumi berdimensi cukup besar, dikenal dengan sesar Pulau Koro. Sesar itu memanjang dari Selat Makassar sampai pantai utara Teluk Bone dengan panjang patahan sekitar 500 km. Di Kota Palu, patahan ini melintas dari Teluk Palu masuk ke wilayah daratan, memotong jantung kota, terus sampai ke Sungai Lariang di Lembah Pipikoro, Donggala.

Oleh karena itu, peran pemangku kepentingan terkait penurunan tingkat resiko bencana di daerah ini adalah dengan membangun fasilitas dan jaringan peringatan dini, membuat peta jalur evakuasi yang sederhana dan praktis, memberi penyuluhan, membentuk satgas kebencanaan, menghimbau masyarakat agar selalu siap siaga. Jadi, karena posisi¬¬ tektoniknya, wilayan Provinsi Sulawesi Tengah rawan bencana, khususnya bencana geologi terutama gempa bumi maka resiko yang ditimbulkan adalah kerugian ekonomi, fisik, dan lingkungan serta keterpaparan penduduk dari sisi sosial dan budaya.

Selain itu, BIG pun juga mengeluarkan data identifikasi daerah rawan banjir dan longsor dengan basis pemetaan wilayah kecamatan dengan studi kasus di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, hasil pemodelan spasial ini menunjukan bahwa Kecamatan Tugu memiliki area rawan banjir rendah hingga sangat tinggi. Untuk Kecamatan Bendungan memiliki wilayah beresiko longsor. Beberapa penelitian dan referensi menyebutkan bahwa faktor kunci penyebab banjir pada hampir semua daerah adalah karena bentuk lahan, sementara data lain seperti curah hujan yang sangat ekstrim, sekalipun hanya sebagai pemicu banjir saja. Bentuk lahan merupakan representasi bentuk permukaan bumi, berkaitan dengan resiko dan kerawanan bencana banjir.

Bentuk lahan dataran banjir memiliki kaitan erat dengan bentuk lahan zona genangan yang dapat diakibatkan oleh aliran dari sungai bagian hulu yang tidak tertampung. Fakta di lapangan menunjukan bahwa sebagian besar aktifitas pertanian dan pemukiman berada pada wilayah dataran banjir, sehingga banyak sekali kasus bencana banjir yang mengakibatkan kerugian sangat besar dari segmen infrastruktur maupun pertanian. Semoga dengan kegiatan ini BIG dapat membagikan pengetahuan IG yang dimilikinya terutama untuk membantu dalam rangka penanggulangan bencana di Indonesia. (ME/LR)