Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Dukung Warga Sanana Melek Geospasial

Sanana, Berita Geospasial – Di bulan April ini, Badan Informasi Geospasial (BIG) bekerja sama dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) kembali menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan diseminasi di seluruh wilayah Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan dan menyebarluaskan Informasi Geospasial (IG) dan pemanfaatannya kepada seluruh penduduk Indonesia. Kali ini kota Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara menjadi daerah tujuan diseminasi pada hari Rabu, 10 April 2019.

Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIT ini mengambil tema ‘Percepatan Kebijakan Satu Peta (KSP) Mendukung Program Pembangunan Daerah Secara Tepat dan Akurat’. Dari BIG telah hadir Agus Hikmat, dari Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT) BIG. Dalam sambutannya Agus menyampaikan beberapa patah kata terkait apa itu BIG sebagai perkenalan awal kepada warga. Disampaikan bahwa produk utama BIG adalah peta, serta pentingnya peta yang akurat hingga lahirnya Kebijakan Satu Peta (KSP) sesuai tema diseminasi.

Sebanyak 120 peserta dari Desa Fagudu, Pohea, Waihama, Fogi, dan Boko memadati ruang acara pada hari itu. Pada kesempatan ini Komisi VII DPR RI diwakili oleh Ahmad B, Kepala Desa Waiguiyofa, memberikan beberapa kata sambutan. Disampaikan permohonan maaf bahwa yang sejatinya harus hadir adalah Tjatur Sapto Edy, Anggota Komisi VII DPR RI, berhalangan hadir. “Terima kasih atas kehadiran bapak-ibu sekalian. Mari kita dengar dan simak apa yang akan disampaikan oleh BIG ini, terutama terkait bagaimana pemetaan di desa”, tuturnya.

Selain itu, telah hadir pula Abdul Fattahh Usia, Kasubbag Pertanahan Biro Tata Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sula. Abdul mengungkapkan bahwa kegiatan pemetaan KSP ini sangat penting. “Sehingga kami memberi apresiasi atas apa yang hari ini disampaikan oleh narasumber pada hari ini. Saya harap juga Bapak-Ibu yang hadir hari ini bisa menyampaikan informasi yang benar kepada BIG, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat di Kabupaten Sula ke depannya”, terangnya.

Menyambung kemudian adalah sambutan dari Imran Dwilah, Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Sula. Dikatakan bahwa kegiatan ini sangat penting terutama karena Maluku Utara adalah daerah yang baru, maka kegiatan pemetaannya sangat penting. “Kita baru saja melakukan revisi tata ruang di tahun ini, karena tata ruang kita di tahun 2011 sudah dipandang perlu untuk dilakukan revisi karena adanya daerah baru, maka secara administrasi perlu dilakukan revisi RTRW Sula”, ujar Imran. Terakhir diungkapkan pula agar peserta dapat memperhatikan materi sebaik mungkin, dan menjadi pelajaran bagi warga Kabupaten Kepulauan Sula.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata dari BIG kepada perwakilan Komisi VII DPR RI dan pemerintah daerah setempat yang hadir yang kemudian diteruskan dengan sesi paparan. Sebagai moderator adalah Widi Hapsari dari PPRT BIG, dengan narasumber Agus Hikmat dari PPRT BIG. Dalam presentasinya, Agus menyampaikan bahwa Indonesia ini sangat luas terbentang dari Sabang sampai Merauke, bila diumpakan luas negara Indonesia ini hamper sama dengan luas dari Belanda sampai Oman. Informasi terkait luas ini berkaitan dengan IG, dimana IG sendiri berarti seluruh jenis informasi yang memiliki unsur lokasi di permukaan bumi, maupun di dalam, dan di atas permukaan bumi. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang IG, disampaikan juga bahwa ada 3 jenis IG yaitu IG Dasar, IG Tematik, dan Infrastruktur IG.

Salah satu produk utama dari IG Dasar adalah Peta Rupabumi Indonesia (RBI), terdapat delapan tema unsur peta dasar dalam sebuah peta RBI, yaitu garis pantai, hipsografi, perairan, nama rupabumi, batas wilayah, transportasi dan utilitas, bangunan dan fasilitas umum, serta penutup lahan. Sementara proses pembuatan peta RBI terdiri atas pengukuran titik kontrol, data akuisisi, digitasi, survei lapangan, dan pembentukan geodatabase.

Peta RBI ini penting sebagai dasar dari peta tematik. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan KSP pada tingkat ketelitian peta skala 1: 50.000, maka peta dasar yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan untuk seluruh wilayah Indonesia sangat dibutuhkan dalam rangka percepatan pelaksanaan KSP di Indonesia. “KSP ini sangat penting terutama untuk mengurangi potensi konflik pemanfaatan ruang atau penggunaan lahan, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas penataan ruang di tingkat nasional, provinsi hingga kabupaten/kota; serta menyediakan informasi terintegrasi dan terkini untuk penanganan dan pencegahan bencana, misalnya kebakaran hutan, titik rawan banjir, pemerataan ekonomi, percepatan pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah”, tutur Agus.

Ada 85 tema yang terdapat di peta tematik untuk mendukung KSP ini dari total 19 kementerian/lembaga dan 34 provinsi. Dari tahun 2016-2018 telah diselesaikan KSP untuk 34 provinsi di Indonesia, dimulai dari tahapan kompilasi, integrasi, sinkronisasi dan berbagi pakai data. Adapun kegiatan berbagi data melalui Geoportal KSP telah diresmikan melalui peluncuran KSP oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Desember 2018 lalu.

Dengan diluncurkannya KSP ini diharapkan dapat mewujudkan peta tematik seluruh wilayah Indonesia yang akurat dan akuntabel, sehingga dapat dijadikan acuan dalam penyelesaian konflik tumpang tindih. Pada kesempatan ini Agus juga mengutarakan status ketersediaan peta untuk skala 1: 50.000, 1: 25.000, dan skala 1: 5.000. Untuk kegiatan penyebarluasan  dan berbagi pakai data dan IG sendiri bisa dilakukan melalui Ina Geoportal sebagai Jaringan Informasi Geospasial Nasional, yang dapat diakses melalui alamat http://tanahair.indonesia.go.id. “Selain itu, BIG juga telah menyediakan data DEM Nasional yang dapat diakses melalui https://tides.big.go.id/DEMNAS/. DEM Nasional ini bermanfaat untuk berbagai bidang seperti kebencanaan, telekomunikasi, pemetaan daerah aliran sungai, militer, bidang geologi, engineering dan infrastruktur, serta pemetaan”, tandas Agus menutup presentasinya.

Kegiatan diseminasi hari itu kemudian ditutup dengan sesi diskusi tanya jawab antara narasumber dengan peserta. Untuk peserta yang bertanya diberikan souvenir menarik dari BIG berupa topi dan buku. Semoga melalui kegiatan ini apa itu IG dan pemanfaatannya dapat semakin dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, terutama yang ada di wilayah Kepulauan Indonesia. (LR/DA)