Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Yogyakarta Jadi Pilot Project Pembuatan Peta Skala 1:500

 photo DSCF4722_zpsy0ydazlx.jpg

Yogyakarta, Berita Geospasial: Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai lembaga penyelenggara utama Informasi Geospasial Dasar di Indonesia menandatangani kesepakatan bersama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkait pembuatan peta skala 1:500. Peta ini rencananya digunakan untuk mendukung percepatan bandara New Yogyakarta Internasional Airprot (NYIA) yang direncanakanrampung pada Maret 2019.

"Setelah penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding), kami akan melakukan pemetaan skala besar. Ini sekaligus sebagai pilot project peta geospasial terdetail dengan skala 1:500. Sebagai langkah awal, pemetaan kami lakukan di kawasan Keraton Yogyakarta dan kawasan bandara baru di Kulonprogo," kata Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin di Kepatihan, Yogyakarta, Jumat, 27 April 2018.

Peta skala besar wilayah NYIA ditargetkan rampung sebelum Agustus 2018. Waktu yang ditargetkan disebut tidak terlalu cepat, karena hanya dibutuhkan waktu kurang lebih tiga minggu untuk meyelesaikannya.

"Kita akan berkoordinasi dengan TNI AU untuk pemotretan wilayah dari udara, sehingga kita dapat menggunakan pesawat mereka. Sedangkan lama pemotretan, hanya dibutuhkan waktu tiga jam jika kondisi cuaca mendukung," ucapnya.

Selain itu, lanjut Hasan, juga akan dibuat peta tiga dimensi (3D) khusus untuk kawasan Kraton Yogyakarta. Peta ini untuk mendokumentasikan warisan budaya di wilayah keraton.

Menurut Hasan, peta 3D skala 1:500 sangatlah detail. Peta ini mampu menampilkan kontur tanah, posisi rumah, nama jalan, batas wilayah, dan segala macam. Nantinya juga bisa dilengkapi dengan data kependudukan, sosial, ekonomi.

"Peta 3D juga bisa dimanfaatkan untuk tata ruang, reforma agraria, pendaftaran tanah sistematik, lahan pangan berkelanjutan, pemetaan desa, dan lain-lain," tambahnya.

Pembuatan peta skala 1:500 dan 3D di wilayah Yogyakarta disebut sebagai pilot project, karena sebelumnya BIG hanya membuat peta skala 1:1.000 untuk pembangunan di provinsi yang lain. Hasan pun berharap peta kawasan di DIY bisa menjadi contoh pengembangan Informasi Geospasial (IG) lainnya di Indonesia.

Senada, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengakui peta 1:500 yang akan dibuat sangat bermanfaat bagi proses pembangunan ke depannya. Peta ini dapat menjadi rujukan dalam penentuan arah pembangunan, baik di kawasan padat maupun kosong. Peta skala besar ini juga memungkinkan untuk memilah apa saja informasi yang ingin disampikan pemerintah daerah ke publik.

Saat ini, kata Sultan, DIY membutuhkan lima peta, yaitu peta penutupan lahan, peta jalan, peta jaringan utilitas, peta kontur, dan peta sungai. "Ini sejalan dengan rencana pembuatan peta skala besar kerja sama dengan BIG yang disebut-sebut juga mampu menampilkan potensi wisata di suatu daerah," pungkasnya.