Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Workshop Agent Of Change BIG : Bangkitnya Kapal Karam Bernama “TVRI”

Bogor, Berita Geospasial – Kemajuan teknologi dan informasi, saat ini bagaikan pisau bermata dua, disatu sisi bisa membantu kita untuk maju, namun bisa juga membuat kita menjadi tertinggal apabila tidak melakukan adaptasi terhadap teknologi.

Hal ini juga yang sempat terjadi dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Televisi Republik Indonesia (TVRI). Stasiun televisi pertama di Indonesia ini sempat mengalami keterpurukan beberapa waktu silam. Keterpurukan tersebut selain diakibatkan oleh banyaknya stasiun TV swasta baru, disebabkan pula oleh beberapa faktor internal yang ada di TVRI itu sendiri, seperti : peralatan produksi yang sudah tua, dan regenerasi SDM yang terlalu lama, dan sebagainya.

Direktur Utama TVRI Helmy Yahya mengungkapkan bahwa anggaran yang ada TVRI juga tergolong rendah. Dijelaskan bahwa dengan anggaran tersebut harus bisa menghidupi 4.800 karyawan di 29 lokasi. “Sangat minim. Gambarannya, dana untuk setahun di TVRI sama dengan sebulan di tv swasta. But we dont give up, we fight back!,” tandas Helmy.

 

Itulah segelintir masalah yang diutarakan Helmy Yahya saat mengisi acara "Workshop Leader Academy" dengan tema "Perubahan Budaya Organisasi dan Penilaian Kinerja", yang dilaksanakan oleh Biro Perencanaan Kepegawaian dan Hukum BIG, pada Kamis 26 Juli 2019, di Hotel Royal Bogor. Hadir pula dalam kegiatan kali ini Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Hasanuddin Z Abidin. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program jangka panjang mengenai "Agent Of Change" di lingkungan BIG.

Helmy mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi kunci perubahan kultur dan organisasi yang saat ini terus digodok oleh “TV Plat Merah” ini. Diantaranya harus dapat mengetahui kekuatan dan kelebihan organisasi. Selain itu, peran atasan juga menjadi penting dalam perubahan budaya organisasi

"Ide yang baik hanya menyumbangkan 10 persen, sisanya 90 persen adalah eksekusi, dan untuk itu pimpinan harus menjadi contoh nyata bagi stafnya,"  pungkas Helmy kepada para peserta.

Lanjutnya diungkapkan pula bahwa seorang pemimpin harus mampu melakukan pembenahan, dan memotivasi SDM-nya agar loyalitas dan semangat mereka selalu terjaga.

“Pimpinan harus memberikan kepercayaan kepada staf, serta memberikan contoh kepada staf. Saya sempat menghadap Pak Jonan, menanyakan resep membenahi PT KAI seminggu setelah dilantik. Dia jawab satu, leader has to be seen, pemimpin harus terlihat.” ujarnya.

Untuk itu Helmy menekankan pada kegiatan workshop kali ini bahwa pembangunan infrastruktur penting. Namun pembangunan hati dan juga sumber daya manusia, serta kepercayaan, juga lebih penting.

“Kami ini miskin, tapi banyak maunya. Tapi kami banyak yang membantu. Kami semangat,” katanya.

Saat ini, televisi yang sudah berusia 56 tahun itu sudah membuat beberapa gebrakan antara lain: menjadi official broadcaster Liga Sepak Bola Inggris, Piala Italia dan beberapa program legendaris lainnya yang di daur ulang dengan sentuhan kekinian. (AR/LR)