Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Teknologi Geospasial untuk Mendukung Pembangunan Nasional

Surabaya, Berita Geospasial - Teknologi geospasial memiliki kontribusi yang signifikan dalam membentuk masa depan pembangunan peradaban manusia. Berangkat dari hal tersebut, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) menyelenggarakan kegiatan Konferensi Geomatika Internasional atau Geomatics International Conference (GEOICON). Pada tahun 2018 ini GEOICON dilangsungkan pada hari Kamis, 12 Juli 2018, bertempat di Hotel Swissbel-Inn Manyar, Surabaya. Hadir dalam acara ini Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Hasanuddin Z. Abidin sebagai keynote speaker dalam acara tersebut.

Acara yang telah digelar ketiga kalinya ini dihadiri oleh peserta dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang, baik dari pemerintahan, swasta maupun akademisi. Total ada 91 karya ilmiah yang telah diterima dari berbagai studi maupun negara, misalnya dari Jerman, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, dan tentunya Indonesia. Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua GEOICON tahun ini, Husnul Hidayat. Disampaikan laporannya bahwa abstrak-abstrak yang telah diterima tersebut kemudian dipresentasikan dalam konferensi untuk kemudian didiskusikan secara komprehensif. Tulisan yang terpilih kemudian dipublikasikan di Publikasi Indeks Scopus.

Husnul menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para narasumber dan penulis yang telah hadir dalam acara konferensi ini. Ada delapan tema utama untuk abstrak, yaitu : Geodesi dan Geomatika; Geologi dan Geofisika; Infrastruktur Data Spasial; Lingkungan Perkotaan dan Geografi; Pertanian dan Kehutanan; Pertambangan dan Energi; Pemetaan Kadaster; dan Lingkungan Laut. Turut hadir untuk membuka acara adalah Rektor ITS, Joni Hermana.

Joni mengungkapkan bahwa Indonesia sangat luas terbentang, sehingga sangat penting untuk mengetahui bagaimana kondisi geografis Indonesia. “Hal ini penting untuk diperhatikan terkait aplikasi teknologi geospasial dalam mendukung pembangunan masyarakat”, tuturnya. Berdasarkan data statistik tahun 2015, Indonesia terdiri dari 250 juta jiwa. Indonesia juga kaya akan berbagai SDA, maka dalam rangka memperhatikan ketahanan lingkungannya, Indonesia memiliki berbagai pendekatan seperti : ekonomi, politik, sosial, hukum, dan SDA yang harus dikembangkan dalam rangka untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Maka dari itu dikembangkan juga teknologi terkait pemetaan, dalam hal ini teknologi satelit. Satelit adalah teknologi alternatif yang bisa digunakan untuk tujuan pemetaan, inventarisir, pengawasan dan eksplorasi SDA. Perkembangan teknologi satelit sendiri terus meningkat, dan pemakaiannya juga meningkat. Joni menyatakn bahwa sangat konferensi internasional ini sangat penting terutama untuk mendapatkan pendekatan multidisplin berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan penelitian. “Di akhir acara ini diharapkan akan terbentuk kerja sama internasional, antara ITS dengan perguruan tinggi lain, baik domestik maupun internasional”, ujarnya.

Acara kemudian beranjak ke acara berikutnya yaitu paparan dari narasumber utama Kepala BIG, Hasanuddin Z. Abidin. Hasanuddin mengawali presentasinya dengan menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang luas, jika timur Indonesia ditaruh kota London maka daerah barat Indonesia adalah kota Baghdad dan jika utara ditaruh Negara Jerman/Polandia maka daerah selatan Indonesia adalah Dataran Mediterania. “Sehingga Indonesia ini merupakan negara yang besar yang harus menggunakan Informasi Geospasial (IG) dalam perencanaan pembangunannya”, imbuhnya. Penggunaan IG ini harus memanfaatkan teknologi yang maju dan handal.

 

Pembangunan Kebijakan Satu Peta (KSP) diperlukan untuk pembangunan dewasa ini, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sendiri sudah menggunakan data statistik dan spasial dalam perencanaannya. Bappenas sudah mewajibkan setiap pembangunan harus berdasarkan peta dari BIG. “Saat ini memang peta dari BIG sudah digratiskan, meskipun beberapa unsur masih berbayar. Tapi BIG sudah terus berupaya untuk memenuhi data dan IG”, tandas Hasanuddin.

Dengan adanya KSP sendiri diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan terkait data dan IG di Indonesia, contohnya tumpeng tindih perijinan, adanya beberapa instansi yang menerbitkan peta yang sama tanpa koordinasi, adanya  perbedaan terkait data dan IG yang diterbitkan seperti jumlah pulau maupun luas lahan, dan sebagainya. Melalui KSP akan tercipta data dan IG yang memiliki 4 unsur yaitu : satu georeferensi, satu standar, satu database, dan satu geoportal. Untuk prosesnya sendiri ada 4 tahapan, yaitu kompilasi, integrasi, sinkronisasi, dan berbagi pakai data

Hasil dari KSP ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kebijakan dan pembangunan nasional, seperti kemudahan berusaha/berinventasi, kebijakan pemerataan ekonomi, percepatan pembangunan insfrastruktur dan pembangunan wilayah, serta ekonomi digital. KSP ini akan menghasilan 85 tema tematik yang nanti akan melibatkan 19 Kementerian/Lembaga serta 34 Provinsi. “Di bulan Agustus nanti rencananya akan dilaksanakan Launching Geoportal KSP oleh Presiden RI, oleh karena itu saat ini BIG tengah menyelesaikan proses integrasi paling lambat minggu kedua bulan Juni 2018. K/L dan Pemda diharapkan segera menyelesaikan pembuatan dan integrasi IGT yang belum lengkap di setiap provinsi”, ungkap Hasanuddin mengakhiri paparannya. (LR/AR)