Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Tahun 2018, BIG Awali Kerja Sama dengan Kabupaten Mukomuko

 photo 335A9374_zpsoe6sdvss.jpg

Berita Geospasial, Cibinong - Mengawali tahun 2018, pada 24 Januari 2018 BIG melaksanakan Penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama dengan Pemerintah Kabupaten Mukomuko. MoU yang ditandatangani oleh Sekretaris Utama BIG, Titiek Suparwati dengan Bupati Mukomuko, Choirul Saleh adalah tentang “Penyelenggaraan, Pengembangan dan Pemanfaatan Data dan Informasi Geospasial di Kabupaten  Mukomuko. Sedangkan Perjanjian Kerja Sama yang ditandangani adalah tentang “Pembangunan Simpul Jaringan Informasi Geospasial Nasional di Kabupaten Mukomuko. Perjanjian Kerja Sama ini ditandatangani oleh Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerja Sama, Wiwin Ambarwulan dengan Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mukomuko, Marjohan. Acara ini turut disaksikan oleh Kepala Badan Informasi Geospasial, Hasanuddin Zainal Abidin.

“Kami dari segenap jajaran BIG  mengucapkan selamat datang kepada Bupati Mukomuko dan jajarannya” jelas Titiek Suparwati yang dalam acara ini memberikan sambutan pembukaan. Titiek menjelaskan bahwa kerja sama ini penting karena tanpa informasi geospasial pembangunan di daerah akan ketinggalan. “Jadi mulai sekarang Kabupaten Mukomuko harus mulai memanfaatkan IG dalam pembangunannya”, ungkap Titiek.

“Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Mukomuko mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran BIG dengan sambutannya yang luar biasa” jelas Bupati Mukomuko mengawali sambutannya. Choirul Saleh menjelaskan bahwa Mukomuko merupakan Kabupaten paling ujung di Provinsi Bengkulu. “Untuk mencapai ibukota provinsi saja membutuhkan waktu 6 jam perjalanan darat. Akan tetapi walaupun letak kami paling ujung, kami tidak ingin Mukomuko menjadi potret gelap dari kabupaten di Provinsi Bengkulu. Untuk itu kami perlu bekerjasama dengan BIG untuk mewujudkan hal tersebut. Informasi geospasial sangat dibutuhkan untuk pengambilan kebijakan dan pembangunan di Kabupaten Mukomuko,” ungkap Choirul Saleh.

Menanggapi pernyataan dari Bupati Mukomuko, Kepala BIG menjelaskan bahwa dalam tataran pengelolaan di kabupaten, Peta Dasar skala 1:5.000 memang sangat dibutuhkan. Selain itu, masalah batas desa juga krusial untuk diselesaikan. Permasalahan ketahanan pangan juga penting sehingga perlu juga untuk pembuatan Peta Sawah dan Peta Lahan Sawah Beririgasi. “Provinsi Bengkulu sendiri merupakan daerah yang rawan bencana sehingga perlu juga Peta Mitigasi Bencana dan Peta Rawan Bencana. Kabupaten Mukomuko juga sepertinya merupakan wilayah yang bagus untuk pengembangan pariwisata. Melihat hal tersebut, banyak sekali hal yang bisa kita kerjasamakan” jelas Hasanuddin.

“Pada tahun 2017, BIG sudah menyelesaikan Kebijakan Satu Peta (KSP) untuk Wilayah Sumatera sebanyak 63 tema peta” lanjut Hasan. Data hasil dari KSP ini nantinya akan dimasukkan ke dalam Geoportal Nasional sehingga semua simpul jaringan daerah bisa mengakses data tersebut. Pembangunan Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN) sendiri merupakan tugas BIG. “JIGN dan KSP akan diluncurkan pada 18 Agustus 2018” ungkap Hasan. Dia juga menjelaskan bahwa di level daerah juga harus diperkuat SDM-nya, karena Indonesia adalah negara besar dan masih banyak yang perlu dibereskan, sehingga dalam setiap kerja sama harus ada komponen penguatan SDM dan transfer teknologi.

Dalam kesempatan yang sama di dalam diskusi, Wiwin Ambarwulan menjelaskan bahwa saat ini untuk Kabupaten Mukomuko sudah tersedia Peta RBI Skala 1:10.000 untuk wilayah pesisir, Peta RBI Skala 1:50.000 dan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) untuk sebagian wilayah Kabupaten Mukomuko. “CSRT tersedia walaupun belum diorhorektifikasi tetapi sudah dilakukan Survei Ground Control Point oleh BIG” jelas Rohullah Ragajaya, staf Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim. Sememtara itu, Kepala Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Syafriadi menjelaskan bahwa di bidang IG ada 3 program utama yang menjadi fokus perhatian Kabupaten Mukomuko, yaitu penyusunan RDTR Kabupaten Mukomuko, Pemetaan Batas Desa dan Pemetaan Jaringan Irigasi.

“Tahun 2018 ini, BIG akan menyelenggaraan Pemetaan Batas Desa untuk seluruh wilayah Kabupaten di Indonesia, salah satunya Mukomuko, namun baru sampai tahapan pembuatan peta kerja belum sampai memperoleh kesepakatan” jelas Eko Artanto, Kepala Bidang Batas Administrasi BIG. “Kesepakatan antar desa sudah ada, tetapi hanya dalam bentuk sketsa. Sketsa ini bisa dituangkan ke dalam peta” jelas Syafriadi.  Syafriadi juga menjelaskan bahwa Kabupaten Mukomuko sudah membentuk Tim Persiapan Penetapan Batas Desa yang ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Bupati.

Mengakhiri acara ini, Wiwin Ambarwulan menjelaskan bahwa data dan informasi geospasial yang tersedia di BIG bisa diperoleh dengan mengirimkan surat permohonan kepada Kepala BIG.  Sri Lestari, Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama menambahkan bahwa bahwa data dan informasi geospasial yang tersedia di BIG bisa diperoleh terutama peta dasar (Peta RBI dan Peta LPI) bisa diownload secara gratis melalui Ina-Geoportal dengan alamat tanahair.indonesia.go.id.  Namun apabila mengalami kesulitan, BIG akan men-download-kan, teman-teman dari daerah tinggal mengirimkan peralatan penyimpan datanya. [ES/TR]