Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Satu Referensi Geospasial untuk Mendukung Penyelenggaraan Tata Ruang Daerah

 photo DSCF2143_zpsdtsjmvvf.jpg

Sidoarjo, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) terus berupaya menyosialisasikan Informasi Geospasial (IG) kepada masyarakat Indonesia pada umumnya. Keseriusan itu ditunjukkan dengan diselenggarakannya serangkaian kegiatan diseminasi di berbagi kota/kabupaten di Indonesia. Kali ini pada hari Selasa, tanggal 10 April 2018, Kota Sidoarjo menjadi tujuan penyelenggaraan Diseminasi dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di bidang IG.

Acara berlangsung di Meeting Room Swiss-Bellinn Hotel Airport Juanda mulai pukul 09.00 WIB. Sebanyak kurang lebih 125 orang Kepala Desa (Kades) beserta rekan yang berasal dari Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo memenuhi ruang pertemuan pada hari itu. Adapun diseminasi pada hari ini mengambil tema “Satu Referensi Geospasial untuk Mendukung Penyelenggaraan Tata Ruang Daerah”. Diseminasi ini terselenggara atas kerja sama antara BIG dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

Mengawali acara pada hari itu adalah sambutan dari Kepala Desa Jimbaran Kulon, sebagai perwakilan dari Kec. Wonoayu, M. Khoirur Rofiq. Khoirur menyampaikan ucapan terima kasih atas undangan yang diberikan BIG untuk mengikuti kegiatan diseminasi ini. Khoirur rupanya masih bingung apa itu geospasial, dan berharap melalui diseminasi ini dapat meningkatkan pengetahuannya tentang apa dan manfaat dari geospasial. “Geospasial ini berhubungan dengan peta. Kami berharap bisa belajar apa itu manfaatnya, dan bagaimana pemanfaatannya untuk rencana kerja kami di desa nantinya”, ungkapnya. Khoirur juga mengajak para peserta yang hadir untuk bersama-sama belajar dan memetik ilmu dari materi yang disampaikan pada hari ini.

Menyusul kemudian adalah sambutan dari Deputi bidang Informasi Geospasial Dasar (IGD) BIG, Mohamad Arief Syafi’i. Arief menyatakan akan menjawab pertanyaan dari Kepala Desa (Kades) Jimbaran Kulon, M. Khoirur Rofiq dan mungkin pertanyaan sebagian besar peserta yang hadir. Dipaparkan bahwa peta adalah salah satu cara untuk menyajikan IG. IG sendiri adalah informasi yang berkaitan dengan lokasi. “Misalnya dimana rumah pak lurah? Lokasi ini bisa dinyatakan dengan alamat dan dengan koordinat. Koordinat ini yang dulu kita pernah belajar di SMA, koordinat dinyatakan dalam x dan y. Kalau koordinat dinyatakan dalam sitem bumi, kita menyebutnya sebagai lintang dan bujur”, jelasnya. Lintang dan bujur ini digunakan untuk menyatakan posisi suatu obyek. Seperti lokasi pasar, dimana sawah, dan sebagainya, informasi-informasi itulah yang disebut sebagai IG.

Dengan IG, para Kades dapat mengetahui informasi terkait desanya sehingga dapat dibuat perencanaan yang matang. Kades dapat menentukan agar sekolah dibangun di dekat tempat tinggal penduduk. Di mana sebaiknya pasar dibangun? Mana jalan yang sebaiknya diperbaiki sehingga aktifitas penduduk lancar. Semua hal itu penting untuk diperhatikan oleh Kades dalam merencanakan pembangunan wilayah di desanya. Dengan menggunakan informasi berupa peta, dapat diketahui bagaimana potensi SDA dan SDM yang ada di daerahnya, lalu dapat dilakukan analisis, sehingga dapat ditentukan arah kebijakan pembangunan, serta menciptakan lapangan kerja di desa. Agar penduduk desa tidak ke kota semua, sehingga desa juga dapat dibangun modern.

“Peta jaman now dapat diakses melalui gadget. Masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan peta, tapi belum bisa melakukan analisa geospasial. Tidak bisa dipungkiri setiap hari kita menggunakan IG. Dimana lokasi hotel acara hari ini? Bila menggunakan kendaraan sendiri saya harus lewat jalan mana? Semua itu adalah IG yang kita gunakan.”, tandas Arief. Kades juga dapat menggunakan peta untuk memantau kondisi lingkungannya. Seperti misalnya daerah mana yang rawan banjir? Daerah mana yang potensi longsor? Semua hal itu bisa dianalisis menggunakan pendekatan geospasial. Arief menyatakan harapannya agar semakin banyak penduduk Indonesia yang peduli tentang IG. Karena apabila perencanaan dan pembangunan infrastruktur dilakukan secara tertata dan spasial, manfaatnya dari segi ekonomi akan meningkatkan pendapatan desa dan taraf hidup masyarakat.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Syaikhul Islam, anggota Komisi VII DPR RI yang turut memprakarsai diseminasi IG. “Puji Syukur kita bisa bertemu dan mendengarkan informasi dari BIG. BIG ini adalah salah satu mitra dari Komisi VII DPR RI. Jadi BIG adalah salah satu LPNK yang tugas dan fungsi utamanya salah satunya adalah membuat peta yang prosesnya panjang dan rumit”, ungkap Syaikhul kepada peserta. Peta sangat penting fungsinya, misalnya bila terjadi sengketa lahan, biasanya hal ini terjadi karena belum tersedianya peta dalam skala besar. Oleh karena itu dengan peta yang tepat, permasalahan seperti itu akan dapat diatasi.

Syaikhul mengatakan juga bahwa pemerintahan saat ini selalu menekankan untuk membangun Indonesia dari desa, namun hal tersebut tidak akan tepat sasaran atau menjadi tidak efektif jika tidak menggunakan peta yang benar. Bila tidak ada peta, apa yang dibangun kalau yang akan dibangun tidak diketahui. Apabila pemerintah memiliki peta yang memadai, maka pemerintah akan lebih mudah dalam melakukan analisa dan pengambilan keputusan. Sehingga peta dasar yang diselenggarakan oleh BIG dapat digunakan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Menutup sambutannya Syaikhul mengungkapkan apresiasi dan terima kasih kepada BIG yang bersedia hadir di Sidoarjo, serta harapannya agar riset-riset yang dilaksanakan Kementerian/Lembaga dapat disosialisasikan kepada masyarakat dan hasilnya dapat digunakan untuk meningkatkan teknologi dan daya saing yang tidak terpisahkan dari kebutuhan rakyat.

Acara diteruskan dengan penyerahan plakat dan cinderamata berupa buku kepada Syaikhul Islam dan M. Khoirur Rofiq. Tak lupa juga diberikan peta NKRI sebagai salah satu bentuk peta yang dihasilkan BIG. Kemudian dilaksanakan sesi foto bersama. Memasuki sesi berikutnya adalah presentasi materi yang dibawakan oleh narasumber dari BIG, dengan  moderator Ibnu Sofian, Kepala Bidang Pemetaan Kelautan. Sebagai presenter pertama adalah Antonius Bambang Wijanarto, Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika BIG.

Anton memaparkan bahwa bila membuat peta itu harus jelas titik nolnya dimana, bumi punya titik nol yang sama, bila tidak menggunakan titik nol yang sama, maka hasil perhitungan akhirnya akan berbeda, karena adanya perbedaan referensi. Hal tersebut tentu akan bermasalah bila terkait pada perijinan. Maka dari itu pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menyamakan referensi semua peta, yang dinamakan dengan Kebijakan Satu Peta (KSP).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang IG, disebutkan bahwa salah satu unsur peta adalah jaring kontrol. Tanpa adanya jaring kontrol, tidak akan peta dasar dan peta-peta lain karena tidak memiliki sistem koordinat. Karena bumi terus bergerak, maka pengukuran jaring kontrol dilakukan terus secara berkala. Jaring kontrol ini ada yang horizontal, ada yang vertikal. Jenisnya antara lain berupa CORS, stasiun gayaberat, stasiun pasut, dan pilar JKG. Biasanya titik referensi ini ditempatkan di kantor pemerintah, tanah lapang, dermaga, gedung sekolah, maupun pihak ketiga yang telah disepakati. BIG sendiri saat ini mempunyao 138 stasiun pasut online yang bisa diakses via internet.

Untuk ketersediaan referensi di Jawa Timur sendiri : JKG ada 677 stasiun dengan rincian 100 jaring kontrol horizontal dan 577 jaring kontrol vertikal), stasiun cors sebanyak 19, stasiun pasut sebanyak 7, selain itu juga terdapat model geoid jatim dan model deformasi. Manfaat dengan adanya referensi geospasial ini adalah sebagai referensi pemetaan seluruh indonesia, mitigasi bencana, mendorong pemetaan yang cepat dan akurat, serta kajian dan penelitian. “Maka dari itu, pemerintah dan masyarakat berkewajiban untuk mengamankan, menjaga, dan merawat referensi geospasial yang ada di daerahnya masing-masing”, kata Anton menutup materinya.

Materi kedua diberikan oleh Diastarini dari Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas (PTRA) BIG. Dias membawakan materi dengan judul “Pemanfaatan IG untuk Penataan Ruang dan Pembanguna Perdesaan”. Dias menjelaskan bahwa peta dibutuhkan dalam tata ruang karena dengan adanya peta, posisi suatu objek bisa diidentifikasi untuk mengenali potensi dan masalah di suatu wilayah. Peta dibuat dengan beberapa cara, yaitu melalui foto udara dari pesawat serta menggunakan citra satelit.

Dasar dari penataan ruang adalah untuk mencari potensi, memecahkan masalah dan mencari solusinya. Langkah-langkah untuk pembuatan peta tata ruang pedesaan adalah : mencari potensi dari desa tersebut, deliniasi kawasan, penentuan tema dan komoditas unggulan, rencana induk kawasan (pembagian potensi desa yang dilakukan per blok), serta rencana tapak kawasan (kawasan prioritas). “Prinsip pemetaan tata ruang pedesaan sendiri adalah mudah (bisa dipahami masyarakat pedesaan), murah, dan implementatif”, tutur Dias. Penjelasan terkait tata ruang ini menutup acara diseminasi pada hari itu. Semoga materi tentang IG yang didapatkan warga Sidoarjo, terutama para Kades yang hadir pada hari ini dapat bermanfaat bagi pekerjaan mereka ke depannya, serta proses pengambilan kebijakan yang terkait potensi wilayah di daerah masing-masing. (LR/DA)