Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Pentingnya Informasi Geospasial, Infrastruktur Hijau dan Forensics Engineering dalam Mitigasi Bencana

Bali, Berita Geospasial – Tahun 2019 ini merupakan tahun ketiga diselenggarakan Seminar Nasional Teknik Sipil oleh Universitas Udayana (Unud) Bali. Tahun ini seminar mengangkat tema “Mitigasi Bencana dan Pembangunan Infrastruktur Teknik Sipil Berkelanjutan”. Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Hasanuddin Zainal Abidin hadir sebagai keynote speaker pada acara yang berlangsung di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur-Bali pada hari Kamis, 4 Juli 2019.

Acara seminar dihadiri oleh dosen, praktisi, mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia sebanyak 200 orang. Seminar dibuka dengan pemukulan gong oleh Rektor Unud, A. A. Raka Sudewi, yang didampingi oleh Dekan Fakultas Teknik Unud, Universitas Ngurah Rai, dan Universitas Hindu Indonesia. Rektor Unud, A. A. Raka Sudewi menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para narasumber dan peserta, serta panitia dan seluruh pihak yang mendukung sehingga acara bisa berlangsung dengan lancar.

Sebagai narasumber pada acara seminar adalah Hasanuddin Zainal Abidin, Kepala BIG; I Made Rentin, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali; serta Bambang Suhendro, Forensics Engineering Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebagai moderator adalah Putu Alit Suthanaya, Koordinator Program Studi Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik Unud.

Kepala BIG, Hasanuddin Zainal Abidin hadir memulai paparannya dengan menjelaskan alur presentasi yang dimulai dari informasi, teknologi, dan aplikasi geospasial, serta kemudian manfaatnya untuk pengelolaan pengurangan resiko bencana.

“Informasi Geospasial diperlukan untuk mengelola Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan data yang besar, diperlukan kapasitas SDM dan Industri IG yang baik dan berkualitas,” tutur Hasan.

Data dan IG juga berkontribusi besar dalam mendukung Program Prioritas Nasional di berbagai sektor pembangunan, serta untuk Sistem Manajemen Pengurangan Resiko Bencana. Contohnya dan dan informasi dari jaring kontrol geodesi berperan dalam tahapan penilaian resiko, peringatan dini, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana. Stasiun pasang surut yang dipasang di berbagai wilayah Indonesia juga memberikan data untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS).

Kemudian narasumber kedua, I Made Rentin, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali membawakan materi dengan judul “Infrastruktur Hijau Berbasis Mitigasi Bencana”. Diungkapkan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, dikelilingi 3 lempeng tektonik aktif, 129 deretan gunungapi aktif, dan letak geografis yang dilewati garis khatulistiwa.

“Indeks kerentanan Indonesia cukup tinggi, salah satunya karena kerentanan infrastruktur. Maka dari itu perlu program-program mitigasi berkelanjutan yang holistik,” tandasnya.

Mitigasi struktural di Bali diwujudkan dengan adanya sirine tsunami, sirine peringatan erupsi gunung agung, alat deteksi gerakan tanah, dan tempat evakuasi sementara. Kemudian untuk mitigasi non struktural misalnya melalui program desa tangguh bencana, program sekolah aman bencana, program sosialisasi, edukasi, latihan, penetapan hari simulasi bencana, dan program sertifikasi kesiapsiagaan. Contoh lain adalah mitigasi infrastruktur hijau, dengan pembentukan : taman hujan, bioswales, jalan hijau, zona hijau, pervious pavement, wetlands, dan sebagainya.

Materi terakhir dibawakan oleh Bambang Suhendro, Forensics Engineering UGM. Bambang membahas tentang “Peran Forensics Engineering dalam Mitigasi Bencana dan Pembangunan Infrastruktur Teknik Sipil Berkelanjutan”. Potensi bencana yang sangat tinggi dan terus terjadi harus diantisipasi, sementara di sisi lain pembangunan infrastruktur teknik sipil harus tetap berlangsung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam.

“Bagi dunia teknik sipil, kondisi tersebut merupakan tantangan, di sisi lain sekaligus peluang untuk terus berkembang menjadi lebih baik lagi, dalam rangka pembangunan infrastruktur berkelanjutan,” kata Bambang kepada peserta.

Permasalahan kecelakaan konstruksi dan kegagalan bangunan yang cenderung meningkat perlu diungkap penyebab kegagalannya, untuk pembelajaran agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Untuk melakukan investigasi dalam rangka mengetahui penyebab kecelakaan/kegagalan konstruksi dan menetapkan pihak-pihak yang bertanggung jawab ini diperlukan ahli dengan kompetensi forensics engineering. Bambang memaparkan bagaimana peran forensics engineering dalam mitigasi bencana, pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia, serta bagaimana eksistensi dan implementasinya secara luas di Indonesia. (LR)