Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Nama Rupabumi sebagai Identitas dan Jati Diri Bangsa

Nama-nama rupabumi mencerminkan kepribadian bangsa, kearifan lokal, keberagaman dan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Maka nama rupabumi yang baku menjadi sangat penting, karena potensi suatu daerah akan dikenali melalui nama-nama obyek/kenampakan alam yang ada di daerah tersebut. Oleh karena itu, pembakuan nama rupabumi merupakan salah satu bentuk tertib administrasi pemerintahan, khususnya terkait administrasi wilayah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nama rupabumi yang sudah baku dapat menjadi referensi spasial, identitas geografi yang menjadi acuan nasional maupun internasional, menciptakan ketahanan nasional, dan penguatan jati diri bangsa. Sebagai penyelenggara utama Informasi Geospasial (IG) di Indonesia, termasuk salah satunya terkait Pembakuan Nama Rupabumi (PNR), Badan Informasi Geospasial (BIG) melaksanakan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pembakuan Nama Rupabumi untuk Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota pada tanggal 23-27 April 2018.

Bertempat di Hotel Redtop Jakarta, acara diikuti oleh kurang lebih 40 peserta dari Badan Informasi Geospasial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta perwakilan dari DPRD, Setda Provinsi dan Kabupaten. Ketua Panitia Acara, Arifah Trisnawati, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka agar Tim Kerja Provinsi dan Kabupaten/Kota memiliki keterampilan teknis yang praktis dan tepat guna, serta mengikuti perkembangan teknologi, sehingga dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya di daerahnya masing-masing.

Syahril Suwarno, Kabag. Bina Administrasi Kewilayahan, Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta, dalam sambutannya mengatakan, “Suatu wilayah akan dikenal oleh khalayak umum dengan potensi yang dimiliki oleh suatu daerah, maka nama dari suatu lokasi merupakan aset penting bagi wilayah tersebut. Pentingnya nama rupabumi akan sangat terasa pada saat kebijakan AFTA diberlakukan, dimana  nama rupabumi juga menjadi bagian dari sebuah agenda berita yang muncul pada semua bahasa komunikasi, sebagai pembeda juga dalam memberitakan suatu lokasi bencana yang terjadi”.

Peran media global dalam mempresepsikan nama rupa bumi akan menjadi luas, bahkan nama rupa bumi bukan sekedar isu geografis, tetapi sudah menjadi isu sentral dalam politik ekonomi dan sosial. Suwarno mengatakan bahwa pemberian dan pemberlakuan nama geografis terhadap unsur rupa bumi merupakan suatu pekerjaan yang sangat penting untuk dilakukan, terutama sejak peta difungsikan sebagai salah satu media komunikasi baik secara nasioanal maupun internasional. Sehingga tuntutan terhadap yudifikasi atau keseragaman penulisan nama geografis semakin meningkat, dengan demikian akan dapat tercapai tata tertib administrasi pemerintahan yang baik.

Sementara Sekretaris Utama BIG, Titiek Suparwati dalam menjelaskan bahwa pembakuan nama rupabumi dikoordinasikan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (TNPNR), yang ditetapkan oleh Peraturan Presiden No. 112 tahun 2006. Kemudian pada tahun 2016, TNPNR dibubarkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2016. Pasal 2 huruf e peraturan tersebut menjelaskan bahwa tugas TNPNR dilaksanakan oleh lembaga pemerintah non kementrian yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang geospasial. Adapun lembaga yang dimaksud adalah BIG. Menindaklanjuti hal tersebut, BIG menerbitkan Peraturan BIG Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pembakuan Nama Rupabumi. Pada pasal 21 disebutkan bahwa pembakuan nama rupabumi diselenggarakan oleh Badan yang dibantu oleh sekretariat, kelompok kerja, dan kelompok pakar. Adapun salah satu tugas dari Badan adalah memberikan pembinaan terkait pelaksanaan inventarisasi dan penelaahan kepada instansi pemerintah dan pemerintah daerah.

“Jadi harapannya melalui Sosialisasi dan Bimbingan Teknis ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum mengenai proses pembakuan nama rupabumi, terutama bagi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang saat ini belum menerima bimbingan teknis mengenai tata cara inventarisasi dan verifikasi nama rupabumi”, jelasnya. Semakin banyak informasi yang disampaikan, semakin dikenal pula wilayahnya. Semakin menarik informasi yang diberikan dan diuraikan, maka semakin tertarik pula orang-orang untuk berkunjung ke tempat Bapak dan Ibu, sebagai wisatawan ataupun investor.

Nama-nama rupabumi/ geografis/ toponim tersebut tentu perlu dibakukan. Seperti halnya nama kita adalah identitas kita, maka nama rupabumi juga merupakan identitas dan jati diri bangsa, maka nama rupabumi harus dijaga dan dilestarikan. “Contoh lagi misalnya Menteng, dulu itu namanya stadion kecil, itu namanya tempat sepak bola menteng, sekarang sudah diganti menjadi Taman Menteng, sudah tidak ada lagi stadionnya. Berubahnya kapan, menjadi apa di dalam invertarisasi bapak/ibu sekalian nanti harus dicatat. Tahun berapa berubah, apa namanya, kenapa berubah. Itu nanti diinvertarisasi, makanya besok saya mau lihat yang survei besok itu mau tahu kaya apa. Pasti nanti kita catat apa perubahan namanya, tahun berapa dan dirubah menjadi apa dan berubah lagi menjadi apa” tutur Titiek dengan semangat.

Sambutan tersebut sekaligus membuka acara pada hari itu. Yang kemudian dilanjutkan dengan paparan dari empat narasumber yang telah siap, yaitu : Materi Pertama terkait Penyelenggaraan Pembakuan Nama Rupabumi oleh Ida Herliningsih, Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT) BIG. Materi kedua terkait Kelembagaan, Kebijakan, dan Urgensi Penganggaran Kegiatan Toponim oleh Herman Wira, Kasubdit Toponimi Data dan Kodefikasi Wilayah I, Kementerian Dalam Negeri. Materi berikutnya tentang Toponim dan pemanfaatannya oleh Taqyuddin, dari Departemen Geografi FMIPA Universitas Indonesia. Terakhir materi tentang Implementasi Penyelenggaraan Nama Rupabumi oleh Sukamto, Kepala Biro Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi DI Yogyakarta. Rangkaian acara hari ini merupakan awalan dari kegiatan bimtek yang akan berlangsung keesokan harinya. Melalui materi-materi pada hari ini diharapkan dapat memberikan pemahaman awal dan mendalam bagi peserta. (LR)