Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Menjawab Kesimpangsiuran Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Jakarta, Berita Geospasial – Melalui FGD yang mengundang pengelola media sosial kementerian dan lembaga termasuk Badan Informasi Geospasial, Bank Indonesia memaparkan data-data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menangani kesimpangsiuran data terkait perumbuhan ekonomi Indonesia selama ini.

Asisten Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Indra Astrayuda mengatakan ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2018.

“Sebagai negara yang sedang tumbuh dan bergaul secara internasional, Indonesia melakukan hubungan internasional dalam bidang perdagangan dan finansial sehingga terpengaruh cukup banyak oleh situasi perekonomian global,” ujar Indra di Jakarta, 11 April 2019.

Ia menjelaskan situasi global tak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga pada semua negara di dunia. Selama 2018, tantangan global tidaklah mudah. Ekonomi global melambat, mempengaruhi ekspor komoditas Indonesia yang selama ini disokong oleh sumber daya alamnya.

 

Selain itu, sebagai negara yang masih membangun, Indonesia membutuhkan dukungan dana. Target pertumbuhan di atas angka 5 % membutuhkan dukungan global. Sementara pada 2018, ada peraliah aliran modal yang disebabkan oleh kebijakan fiskal Amerika Serikat.

“Selama ini, investasi ada di negara emerging economy. Saat ekonomi AS tumbuh tinggi, suku bunga meningkat. Investor kemudian menyesuaikan. Investasi dialihkan ke negara maju yang berdampak pada turunnya nilai tukar rupiah,” jelas Indra.

Meski demikian pada 2019 ada beberapa hal yang menggembirakan. Sejak akhir 2018, nilai rupiah kembali menguat dan stabil. Di sisi lain, kenaikan suku bunga AS diperkirakan berhenti sehingga investor akan kembali mengoreksi portofolio dan mulai berinvestasi di negara berkembang. Selain itu, pada Februari 2019 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus.

“Cadangan devisa kita tetap terjaga dan menunjukkan peningkatan. Ini akan menjadi buffer terhadap tekanan di masa depan. Kita optimis, tapi ada risiko-risiko yang perlu diamati. Hingga 2024, pertumbuhan ekonomi diprediksi di angka 5,5% sampai 6,1%,” jelas Indra. (MAD)