Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Memupuk Kerja Sama, Memangkas Ego Sektoral

Jakarta, Berita Geospasial – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengapresiasi undangan Badan Informasi Geospasial (BIG) dalam Rapat Koordinasi Terbatas sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) IG 2019. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi dan partnership antar lembaga untuk menyelesaikan beragam masalah yang dihadapi Indonesia.

“Sudah bukan masanya lagi untuk bekerja sendiri-sendiri,” tegas Suhariyanto saat memberikan sambutan pada Rakortas yang digelar di Jakarta, 13 Maret 2019.

Ia kemudian mencontohkan kerja sama apik antara lima lembaga, di mana BIG terlibat di dalamnya, untuk memperbaiki data produksi padi. Selain BIG dan BPS, lembaga lain yang terlibat dalam kerja sama tersebut adalah BPPT, Lapan, dan Kementerian ATR/BPN.

“Data tersebut selama 20 tahun dibiarkan. Kini data yang baru jadi basis utama. Datanya sangat solid. Ini butuh metodologi yang akurat, di sisi lain bermuatan politis sangat tinggi,” jelas Suhariyanto.

Suhariyanto menuturkan, Wakil Presiden memberikan apresiasi yang tinggi atas hasil kerja sama tersebut. Ia pun kemudian diminta untuk melakukan hal yang sama pada komoditas lainnya, dimulai dari jagung.

Jagung memiliki karakter yang sangat berbeda dengan padi sehingga butuh amatan khusus. Pilot projectnya akan dimulai pada April 2019. “Kami mengundang BIG untuk berpartisipasi penuh,” undang Suhariyanto.

Terkait dengan tema Rakortas, yakni “Arah Kebijakan dan Kebutuhan Informasi Geospasial untuk Mendukung Pembangunan Nasional”, Suhariyanto bercerita mengenai Forum Agronomi IPB yang menawarkan peta kualitas tanah. Peta ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan estimasi produksi.

“Jika kita bisa overlay berbagai peta, hasilnya akan lebih bagus,” jelasnya.

Sesuai UU No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik, BPS sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian memiliki tugas utama mengumpulkan data statistik dasar. Data statistik dasar adalah data yang disusun untuk masyarakat luas, berciri khas lintas sektoral dan bersifat makro. Sementara data sektoral dikumpulkan kementerian terkait.

“Kami membuka pintu seluas-luasnya kepada teman-teman BIG. Silakan apa saja yang ada di BIG silakan dimanfaatkan, termasuk fasilitas yang kami miliki,” pungkas Suhariyanto. (MAD)