Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Kompetisi Bergengsi Indonesian Peat Prize Umumkan Pemenang US$ 1 Juta

 photo art_169184_zpstmej5nxw.jpg

Telah 2 tahun berlalu sejak Badan Informasi Geospasial (BIG) meluncurkan Indonesian Peat Prize (IPP) Competition pada tanggal 2 Februari 2016 lalu. Selama 2 tahun terakhir (sejak 2016 - 2018) para peserta telah melakukan pengembangan metodologi terhadap pemetaan lahan gambut. Selama hampir 2 tahun terakhir ini pun para dewan juri dengan latar belakang para peneliti dan ahli gambut yang terdiri dari 5 orang dari Indonesia dan 4 orang dari luar negeri secara aktif terlibat dalam proses penjurian, dan turut terlibat dalam verifikasi data di lokasi uji coba, yakni di : Bengkalis, Riau dan Kubu Raya, serta Kalimantan Barat.

Tim dewan ini disebut sebagai SAB (Science Advisory Board), dibentuk sejak peluncuran IPP dan terlibat dalam setiap tahapannya dari kompetisi ini. Dewan penasihat ilmiah ini juga bertemu secara langsung tidak hanya secara rutin tidak hanya secara langsung tapi juga secara tidak langsung melalui converence call jarak jauh dari US dan Eropa. “Kami senang menerima aplikasi yang sangat bagus, para tim mengkombinasikan teknologi yang canggih dan wawasan mengenai lahan gambut di Indonesia untuk memastikan bahwa metode yang mereka rumuskan dapat menghasilkan peta secara akurat, cepat, dan terjangkau”, jelas Supiandi Sabiham selaku Coach dari para dewan juri IPP.

Di dalam proses pemilihan pemenang, para juri secara seksama mendiskusikan dan berdebat secara proaktif, sehingga mendapatkan pemenang dari 44 peserta, kemudian disaring menjadi 11, hingga menjadi 5 terbaik, dan menjadi 1 pemenang terakhir. “Para finalis terdiri dari para ilmuwan dan instansi pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan juga lembaga-lembaga ilmiah yang lainnya. IPP adalah ajang kompetisi yang ambisius dan kolaboratif dengan hadiah senilai 1 juta USD, dan hadiah ini diberikan kepada tim pemenang yang berhasil menemukan metode pemetaan luasan dan ketebalan gambut di indonesia, yang paling memenuhi 3 kriteria utama, yakni : akurat, terjangkau, dan tepat waktu.

Setelah perjalanan panjang tadi, tibalah saatnya untuk diumukan siapa yang menjadi pemenang dari IPP ini. Pengumuman pemenang dari kompetisi ini dilaksanakan pada 2 Februari 2018 dan bertempat di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta. Sebelum pengumuman pemenang, terdapat acara talkshow yang dipandu oleh jurnalis senior, yang juga adalah salah satu member dari WRI (World Resources Institute) Indonesia, Desi Anwar, dengan mengundang 3 pembicara, yakni Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Zainal Abidin, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead, dan Ilmuwan tanah dan wakil direktur, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian, Yiyi Sulaeman.

Dalam talkshow ini, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Hasanuddin Zainal Abidin mengatakan bahwa kawasan gambut di indonesia ini sangat luas. “Kalau hanya coverage atau cakupannya saja jika dari segi mapping tidak terlalu susah, dikarenakan sekarang banyak sekali Earth Observation Satellite, tapi kendala utamanya adalah bagaimana mengukur dan memetakan kedalaman dari lahan gambut di seluruh Indonesia yang memiliki karakteristik lahan gambut yang berbeda-beda. Nah itu makanya kita kompetisikan, dan kompetisinya kita buka sekalian internasional, dengan harapan mendapatkan metode terbaik”, ujar Hasanuddin.

Tanpa berlama-lama, segera setelah talkshow, Kepala BIG, Hasanuddin dan juga Supiandi, Coach Dewan Juri IPP mengumumkan siapa yang akhirnya keluar menjadi pemenang. Dan ternyata pemenangnya adalah International Peat Mapping Team (IPMT), yang terdiri dari para ilmuwan dan dari Remote Sensing Solution BPPT, serta Universitas Sriwijaya. Anggota tim ini berasal dari Indonesia, Jerman dan Belanda, yaitu : Florian Siegert, Uwe Ballhorn, Peter Navratil, Hans Joosten, Bambang Prayitno, Bambang Setiadi, Felicitas von Poncet, Suroso and Solichin Manuri.

Tim ini mengaplikasikan produk bernama worldDEM yg menggunakan citra satelit untuk membuat model permukaan bumi dengan resolusi tinggi, serta cira satelit sentinel. Tim mengkombinasikan teknologi berbasis satelit ini dengan model permukaan bumi yg dihasilkan dari LIDAR yaitu teknologi yang menggunakan cahaya laser untuk menciptakan peta permukaan bumi 3 dimensi, yang diterbangkan dengan pesawat Airbone LIDAR. Metodologi tim juga mencakup pengukuran lapangan untuk menghasilkan model yang dapat mengukur ketebalan gambut secara akurat. Tim juga melakukan verifikasi lapangan atas data gambut yang dihasilkan dengan berbagai teknologi tersebut.

Dalam sesi wawancara press conference, Bambang Setiadi mengatakan, “Jadi Indonesia pernah mengalami suatu kebakaran besar gambut pada tahun 1997. Apa sebenarnya yang terbakar, yang terbakar itu kubah, nah sayangnya kita tidak belajar bahwa kita pernah mengalami kebakaran terbesar di dunia, kemudian terjadi lagi di tahun 2005 yang lebih parah, lalu tambah besar lagi di tahun 2015, kerugian negara mencapai hingga 112 Triliun diukur oleh World Bank, nah itu semua karena kita tidak memahami kubah”. Menurut Bambang Setiadi, IPP ini sangat penting karena merupakan cara baru yang diinisiasi oleh BIG dan didanai oleh Packard Foundation.

Baginya, ini bukan hanya pemenang konsorsium, ini adalah kemenangan IPTEK Indonesia sebagai pemilik gambut tropical terbesar di dunia. “Pemanfaatan terbesar dari teknologi yang dipertaruhkan itu adalah bagaimana mengukur kubah, berapa tebal, bagaimana kandungan air, dengan harapan seperti tadi, BRG punya cara mudah untuk mengevaluasi bahwa kawasan kubah yang sekarang ini jumlahnya 600 ribu, bahkan dari 7 provinsi sabanyak 12 juta hektar, dimana 9 juta itu kubah”, tandasnya.

BIG selaku penyelenggara mengucapkan selamat atas kemenangan tim yang berhasil memenangkan kompetisi ini. BIG juga mengapresiasi atas partisipasi dari para peserta dari jumlah sebesar 44 tim. Dalam penutupannya, Hasanuddin menyatakan untuk mengapresiasi 5 peserta yang masuk ke tahap final, ke-4 metode dari tim yang kalah juga akan dikaji ulang. Karena menurutnya tidak menutup kemungkinan di antara 4 tim lainnya ini ada metode yang cocok di daerah tertentu di Indonesia, dan dapat digabungkan dengan metode dari tim lainnya. Hasanuddin juga mengatakan bahwa Ia berniat menjadikan metode-metode yang dihasilkan dari kompetisi ini menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun jika prosesnya lama, maka akan dibantu dengan Peraturan Kepala (Perka) BIG. Diharapkan dengan diadakannya kompetisi ini akan menghasilkan metode-metode baru yang inovatif dan lebih mutakhir untuk membantu mempercepat pemetaan lahan gambut di Indonesia. Dan nantinya menjadi standar pemetaan gambut di Indonesia. (KN/LR)