Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Informasi Geospasial Untuk Analisa Bencana Longsor Brebes

 photo Longsor Brebes_zpsaoofqb6a.jpeg

Brebes, Berita Geospasial – Kejadian bencana alam tanah longsor kembali menimpa salah satu daerah di wilayah Indonesia, bencana alam gerakan tanah (tanah longsor) kali ini terjadi di dua desa berbeda yang berada di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Daerah yang terdampak akibat bencana alam tanah longsor tersebut posisi tepatnya terletak di wilayah Desa Pasirpanjang dan Desa Capar.

Berdasar survei lapangan yang dilakukan oleh Satuan Reaksi Cepat (SRC) Kebencanaan Badan Informasi Geospasial (BIG) pada lokasi kejadian bencana, bekerjasama dan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan penanggulangan bencana di lapangan yang tergabung dalam Tim Penanggulangan Bencana Tanah Longsor dan Banjir Kabupaten Brebes, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan SAR Nasional (BASARNAS), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Perum Perhutani, dan unsur TNI, POLRI serta berbagai relawan dari berbagai unsur lainnya, tim SRC-BIG kemudian melakukan kegiatan rapid mapping di dua lokasi bencana tanah longsor tersebut.

Kegiatan rapid mapping ini dilakukan tim SRC-BIG dengan terlebih dahulu melakukan koordinasi bersama Komandan Komando Distrik Militer 0713/Brebes, selaku Ketua Tim Penanggulangan Bencana Tanah Longsor dan Banjir Kabupaten Brebes, Letkol Inf. Ahmad Hadi, di posko bencana alam tanah longsor yang terletak di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem. Koordinasi juga kemudian dilakukan dengan Kepala Bagian Operasional Bencana, Tim Basarnas, dan terakhir dengan tim dari Perum Perhutani selaku pengelola dari area dimana lokasi bencana alam tanah longsor Pasirpanjang terjadi.

Langkah pertama dalam melakukan rapid mapping kali ini adalah melakukan orientasi medan lokasi bencana. Kegiatan orientasi medan ini dilakukan oleh tim SRC-BIG dengan tim dari satuan Polisi Hutan (Polhut) Perhutani BKPH Salem, KPH Pekalongan Barat. Setelah dilakukan diskusi terkait lokasi bencana secara umum, tim SRC-BIG kemudian menentukan peta rencana kerja berdasar dari orientasi medan dan data IG yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Data IG yang digunakan berupa Peta Morfometri Nasional Skala 1:250.000 dan data kontur peta Rupabumi skala 1:25.000 di sekitar lokasi bencana alam tanah longsor. Berdasar data IG tersebut didapatkan informasi bahwa lokasi bencana alam tanah longsor berada pada daerah dengan kemiringan lereng curam (26-40%). Muhammad Haidar, perwakilan dari tim SRC-BIG menyatakan, “Mahkota longsor berada pada kelas kemiringan lereng curam, sedangkan daerah terdampak longsor berada pada lahan pada kemiringan landai. Jadi daerah yang memicu terjadinya tanah longsor sebagian besar berada pada lahan pada kemiringan lereng curam”.

Setelah memiliki data yang cukup sebagai bekal untuk melakukan akusisi data daerah terdampak bencana alam tanah longsor, tim SRC-BIG kemudian menentukan jalur terbang dan titik awal terbang wahana udara nirawak (drone) yang digunakan untuk proses akuisisi data. Setelah posisi mahkota dan jalur terbang drone didapatkan, tim SRC-BIG bersama dengan personil dari Polhut Perhutani kemudian melakukan perjalanan darat dengan menggunakan trek hutan yang ditempuh selama kurang-lebih 90 menit perjalanan, guna menuju titik penerbangan awal yang relatif aman, dan dekat dengan lokasi mahkota longsor berada.

Sesampainya di lokasi yang dituju, tim SRC-BIG beserta personil dari Polhut Perhutani terlebih dahulu melakukan penyisiran lokasi disekitaran area mahkota longsor, hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan kegiatan akuisisi data yang akan dilakukan oleh tim SRC-BIG dari kemungkinan adanya potensi longsor susulan akibat dari rekahan tanah yang dimungkinkan ada disekitaran mahkota.

Hari pertama tim SRC-BIG melakukan akuisisi data, tim hanya berhasil mengakuisisi data di satu lokasi saja. Selain karena rute perjalanan dan titik terdekat dengan mahkota longsor yang relatif jauh dari posko bencana dan area yang masih belum bisa dilalui oleh kendaraan, turunnya hujan yang deras di sekitaran lokasi bencana turut menghalangi tim SRC-BIG untuk bisa menerbangkan drone kedua-kalinya. Setelah disimpulkan bahwa hujan tidak akan segera berhenti, maka tim memutuskan untuk kembali ke posko dan memproses hasil akuisisi data hari itu.

Bertempat di posko bencana Perhutani, tim SRC-BIG diterima dengan hangat oleh Direktur Operasi Perum Perhutani, Hari Priyanto, beserta jajarannya yang turun langsung ke lokasi bencana. Dalam kesempatan tersebut Hari Priyanto juga menyampaikan apresiasi kepada BIG yang telah mengirimkan tim SRC nya, sembari berharap perhutani mendapat berbagai manfaat dari kesempatan yang berharga tersebut. Mensikapi kejadian bencana tanah longsor yang terjadi, Hari Priyanto kemudian memaparkan berbagai temuan dan laporan terkait dengan bencana kepada tim SRC-BIG. Temuan-temuan berupa data lapangan yang dimiliki oleh perhutani, yang kemudian dikombinasikan dengan data dari posko bencana menghasilkan paduan data yang informatif, dan data-data tersebut menjadi modal awal untuk menjadi bahan kegiatan di hari kedua akuisisi data yang dilakukan oleh tim SRC-BIG.

Berdasar pada prosedur standar dari sebuah tim penanggulangan bencana, pada setiap harinya selalu dilakukan kegiatan apel di waktu pagi dan sore atau malam harinya. Kegiatan apel ini bermaksud untuk mengetahui berbagai perkembangan terakhir dari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh berbagai unsur pemangku kepentingan yang terlibat dalam tim, sehingga kemudian dalam pelaksanaannya diharapkan kerja tim akan menjadi lebih terarah, efektif, dan efisien. Ketika BIG melalui tim SRC-nya telah melakukan akuisisi data di lokasi mahkota longsor, maka hasil dari akuisisi tersebut-pun dilaporkan kepada para anggota tim yang hadir di kesempatan apel evaluasi harian. Setelah berbagai data dihimpun akhirnya didapatkan informasi bahwa proses akuisisi yang dilakukan BIG akan dilakukan pada keesokan harinya, dengan berkonsentrasi ke lokasi bencana alam tanah longsor kedua di Desa Capar, setelah terlebih dahulu dilakukan akuisisi data untuk bagian ujung longsoran di area bencana Desa Pasirpanjang.

Berbekal data lapangan yang cukup, dengan ditemani dan difasilitasi berupa tim support dan kemudahan mobilisasi untuk dapat mencapai ke lokasi longsor di desa Capar oleh tim Perhutani. Tim SRC-BIG berangkat pagi hari untuk segera meninjau dan menentukan peta kerja secara langsung di lokasi bencana. Karena persiapan yang relatif lebih mumpuni, dihari kedua akuisisi data ini, tim SRC berhasil melakukan akuisisi data di 6  (enam) lokasi terpisah, 5 (lima) lokasi di desa Capar dan satu lokasi melanjutkan progres hari sebelumnya di lokasi bencana alam tanah longsor Desa Pasirpanjang.

Setelah rangkaian akuisisi data dilakukan, data-data hasil akuisisi tersebut diproses secara langsung untuk kemudian dibuatkan mozaik dan diolah sampai menjadi sebuah informasi geospasial berupa orthofoto yang lengkap dengan informasi Digital Surface Model (DSM) nya. Hasil inilah yang kemudian di-delivery kepada tim penanggulangan bencana untuk menjadi bahan koordinasi dalam melakukan kegiatan mitigasi dan rehabilitasi paska bencana dilokasi terdampak bencananya. Secara lengkap, hasil analisa dari tim SRC-BIG pada bencana alam tanah longsor yang terjadi di Desa Pasirpanjang dana Desa Capar Kecamatan Salem Kabupaten Brebes bisa dilihat di halaman indeks bencana pada link website BIG berikut ini: Indeks bencana alam tanah longsor di Kecamatan Salem Kabupaten Brebes. (DA/LR)